Menulis Artikel Opini Lebih Mudah Daripada Mengerjakan Skripsi
Curhat | 2026-08-19 18:08:12
Benar, sesuai judulnya, menulis artikel opini seperti yang sedang Anda baca ini lebih mudah dan lebih cepat daripada mengerjakan skripsi. Maksudnya, proses pembuatan artikel opini itu lebih ringan untuk dilakukan sebagai latihan menulis menghadapi skripsi yang diselimuti oleh tuntutan perkuliahan dan metodologi yang lebih serius.
Ide ini berawal dari candaan tongkrongan bahwa menulis artikel opini di blog pribadi di internet lebih mudah untuk ditulis, direvisi, dan dipublikasikan dibandingkan dengan skripsi yang harus dikerjakan berurutan, mulai dari proposal, hingga ujian komprehensif sebagai syarat kelulusan.
Bukan berarti baiknya meninggalkan skripsi untuk fokus menulis artikel opini. Tetap artikel itu bisa dijadikan sebagai sebuah bahan latihan menulis skripsi, karena keduanya melatih kemampuan menuliskan gagasan; mulai dari menjelaskan persoalan, mengembangkan argumen, hingga menarik kesimpulan. Maka, menulis sebuah artikel opini bisa disamakan dengan latihan ringan dalam menyiapkan skripsi yang lebih matang.
Mudahnya menulis artikel opini ini juga berarti bahwa Anda mampu membuat tulisan atau artikel yang sama. Tulisan receh seperti ini kelihatannya sepele, namun ini juga mampu melatih otak untuk menyusun kata-kata terbaik untuk dibagikan kepada orang lain, pun seandainya kita sudah menulis namun masih ragu dengan tulisan kita, tenang! Dunia kita hari ini sudah banyak dimanjakan oleh teknologi seperti AI, yang tentu mudah bagi kita semua untuk menggunakannya.
Penggunaan AI pada tulisan kita bisa dimaksimalkan untuk menilai kualitas dan memperbaiki tulisan kita. INGAT! Penggunaan AI sebaiknya dilakukan ketika tulisan kita sudah selesai dibuat secara manual oleh jari-jari kita sendiri begitupun perbaikannya. Ketika kita sudah menulis dan melakukan revisi, maka bisa menggunakan AI untuk menunjukkan kemungkinan bagian-bagian yang bisa diperbaiki kualitasnya. AI bisa dijadikan sebagai proofreader yang memberi masukan, terserah kita mau menerimanya atau tidak, toh belum tentu AI memberikan masukan yang tepat.
Saya sendiri seringkali menggunakan AI. Biasanya saya akan menulis terlebih dahulu apa yang ingin saya sampaikan seadanya, memperbaiki tulisannya, lalu meng copy paste tulisan tadi ke AI untuk dinilai dan diberikan masukan perbaikan, sehingga ketika saya rasa sudah matang, maka tinggal pencet tombol untuk meminta publikasi. Peran manusia masih harus unggul secara keseluruhan, penggunaan AI tidak bisa dimaknai meminta AI untuk menulis utuh, justru seharusnya kita lah yang menulis semuanya, lalu menjadikan AI sebagai akselerasi kualitas tulisan.
Mudahnya kita hidup hari ini menunjukkan bahwa tidak ada hambatan dalam berkarya. Kalau alasan kita adalah tidak adanya editor tulisan, maka AI setidaknya bisa mengambil peran itu, walaupun tentu akan lebih baik meminta bantuan editor manusia apabila mampu untuk meraihnya.
Akselerasi yang ada hari ini baiknya dimanfaatkan dengan baik, terlebih menulis artikel opini yang bebas tentu lebih mudah dan lebih cepat daripada skripsi yang membutuhkan ketekunan, konsistensi, kesabaran, dan kedalaman ilmu. Keduanya sama-sama baik, dan salah satunya dapat dimaksimalkan dan dilakukan berulang kali untuk mengangkat kualitas tugas akhir kuliah. Orang atau mahasiswa yang terbiasa menulis, mungkin akan memudahkan mereka untuk bersiap ketika harus mengerjakan skripsi.
Selamat berkarya!
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
