Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M Fazli Afdhal R

Partai Hadir di Masyarakat, Teknokrat Hadir di Partai

Politik | 2026-08-18 20:16:02

Tulisan ini berawal dari pengalaman saya ketika sedang bepergian menuju pantai. Dalam perjalanan, saya menemukan satu kendaraan unik yang kemudian memberi saya ide; sebuah truk septic tank dengan warna cat dan logo salah satu partai politik atau parpol besar di Indonesia. Dari situ saya berpikir, "Mungkinkah ini yang menyebabkan partai ini masih banyak diingat di Indonesia?" dan akhirnya tercetus ide, "Mengapa parpol lain tidak melakukan hal seperti ini?"

Mungkin kedengarannya sepele, namun bisa jadi ini merupakan 'dongkrak pengaruh' bagi partai-partai yang ada. Keberadaan mereka tidak hanya tampak di kursi pemerintahan baik tingkat nasional maupun daerah, melainkan juga langsung terjun mengulurkan tangan bagi masyarakat. Tidak bisa parpol hanya berhenti aktif di masyarakat saat pemilu, kerja nyata mereka tetap harus tampak meskipun diluar musim pemilu.

Contoh lain yang relevan dan sering ditemui adalah ambulans, bahkan tidak hanya milik parpol, ormas pun ada yang punya ambulans. Apakah ambulans bisa dijalankan oleh sembarangan orang? Tentu tidak, karena didalamnya ada tenaga medis, supir dengan SIM resmi, dan pengelola administrasi yang membantu legalitas kepemilikan partai terhadap ambulans. Artinya, pelayanan partai di masyarakat membutuhkan orang-orang yang kompeten di bidangnya.

Ketika parpol semakin banyak hadir di tingkat masyarakat umum, maka jurang yang memisahkan elit dengan lumbung suaranya menjadi lebih sempit. Terlebih bila yang dihadirkan oleh parpol adalah orang-orang yang memang mengerti tugas mereka dan mampu mengerjakannya, atau bisa disebut para teknokrat. Disini teknokrat kita sepakati sebagai orang yang ahli dalam kompetensi tertentu serta berkontribusi dalam perumusan atau pelaksanaan kebijakan publik.

Source: https://fisip.umsu.ac.id/peran-partai-politik-di-indonesia/

Teknokrat ini lah yang kemudian tergabung dalam salah satu parpol, sehingga parpol bisa mengatakan, "Lihatlah, kami bukan cuma mengejar suara lho, tapi juga punya orang yang ahli di bidangnya". Contoh saja misalnya saat Pemilu atau Pilkada, maka Parpol bisa menunjukkan profesionalitas mereka dengan mengusung orang-orang yang memang memahami persoalan negara, seperti di Dewan Perwakilan baik nasional atau daerah, maka Parpol mengusung kader-kader mereka yang ahli di bidang hukum dan memahami dinamika politik untuk menyusun aturan yang sesuai kaidah negara, termasuk menghadirkan para ahli.

Tentu bukan berarti ketika teknokrat masuk partai maka secara otomatis cocok menjadi politisi yang baik. Keahlian teknis perlu dipadukan dengan kemampuan komunikasi kepada masyarakat, negosiasi, dan berbagai hal yang disitu partai masuk mengambil peran untuk mendidik kader-kader teknokrat mereka untuk menumbuhkan semangat belajar dan kemampuan berpolitiknya.

Bukan waktunya lagi partai merekrut atau mendekati seseorang di satu daerah atau bahkan nasional sebatas karena ketenarannya semata, bila orang tersebut tidak cakap dalam satu bidang yang bisa memberikan kontribusi nyata setara pengaruh yang dimiliki. Teknokrat mungkin memang tidak begitu dipandang, namun partai bisa saja mengangkat mereka agar memiliki pengaruh dengan keahlian yang dimilikinya.

Juga baiknya parpol menciptakan lingkungan partai yang sehat. Dugaan saya sendiri, salah satu alasan teknokrat tidak ingin terlibat dalam partai meskipun bisa jadi memiliki kecenderungan pada salah satu parpol yang ada adalah karena iklim dan sistem internal partai yang tidak seru. Ketika mendengar kata parpol, maka salah satu hal negatif yang mungkin terlintas di pikiran kita adalah korupsi. Bersihkan internal dan ciptakan iklim yang supportif, maka mengajak teknokrat bergabung dengan partai bisa lebih mudah.

Betul bahwa parpol di Indonesia memiliki ide-ide dan gagasan yang berbeda. Kita memiliki kecenderungan masing-masing pada salah satu partai, dan bisa jadi pilihan atau tujuan kita memang berbeda, dan sah-sah saja hal itu terjadi. Maka ada baiknya bila kita menyarankan ide ini pada partai pilihan kita dan berharap mereka akan melakukan perubahan menjadi lebih baik kedepannya. Memang tidak instan, namun bisa jadi generasi partai berikutnya akan menciptakan perubahan yang lebih dahsyat.

Saya yakin tidak ada alasan bagi partai politik untuk tidak melakukan ini. Uang, tenaga, logistik, semuanya mereka punya meskipun kemampuannya bisa bervariasi, namun yang barangkali belum mereka miliki adalah kehendak politik, termasuk didalamnya kehendak para elit atau petinggi partai. Terkadang yang di bawah ingin melakukan perbaikan tapi atasan menolak, terkadang elit yang di atas sudah sadar tapi yang di bawah masih kacau.

Ini memang bukan tugas 1 atau 10 tahun saja, melainkan tugas antargenerasi politik Indonesia. Minimal untuk kita saat ini adalah adanya kesadaran politik yang dipupuk sejak awal, agar kita yang sadar dan terdidik tidak mudah termakan oleh strategi politik yang hanya mengandalkan ketenaran. Hal itu menuntut parpol untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk mendapatkan legitimasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image