Jangan Suruh Anak, tapi Tunjukkan Caranya
Parenting | 2026-08-13 19:28:17
Sore tadi, saat sedang mengajar ngaji, singkat cerita saya bertanya kepada seorang anak, sebut saja Rahman, “Rahman, di rumah orang tuamu suka ngajarin ngaji juga, nggak?” Ia menjawab dengan enteng, tanpa merasa sedang mengatakan sesuatu yang menyedihkan, “Nggak ada yang baca Qur’an kalau di rumah.” Saya hanya terdiam beberapa detik, lalu melanjutkan mempersilahkan anak berikutnya untuk mengaji.
Namun sesampainya di rumah, selepas Maghrib tepatnya, ketika saya sendiri sedang membaca Surah Al-Kahfi, jawaban pendek anak itu tiba-tiba kembali terlintas kembali. Saya membayangkan sebuah rumah yang di dalamnya ada seorang anak yang kalau di tempat mengaji diminta mencintai Al-Qur’an, tetapi hampir tak pernah melihat orang dewasa di rumah membukanya.
Ia disuruh rajin membaca di sekolah, tetapi tak pernah menyaksikan ayah atau ibunya membaca di rumah. Ia diminta mencintai sesuatu yang bahkan tidak pernah hadir sebagai kebiasaan di hadapan matanya. Lalu kita bertanya-tanya mengapa anak zaman sekarang lebih akrab dengan layar daripada lembaran mushaf, lebih cepat membuka TikTok daripada membuka buku.
Bukankah sebagian jawabannya justru terpampang setiap hari di rumah? Anak-anak, terutama pada usia mereka, barangkali belum terlalu pandai mencerna nasihat, tetapi mereka sangat pandai merekam kebiasaan. Mereka mungkin lupa apa yang kita katakan hari ini, tetapi sulit melupakan apa yang setiap hari mereka lihat dilakukan orang tuanya.
Di sinilah saya merasa persoalannya bukan semata-mata tentang anak yang malas mengaji, kecanduan gadget, enggan membaca buku, atau sulit diajak beribadah. Jangan-jangan sebelum menunjuk anak, kita perlu lebih dulu menunjuk diri sendiri. Kita sering meminta anak membaca, sementara tangan kita sendiri lebih erat dengan gadget. Kita menyuruh mereka mengurangi gadget, sementara hampir setiap waktu luang kita habiskan dengan ponsel.
Kita meminta mereka mencintai Al-Qur’an, tetapi mushaf di rumah hanya dibuka ketika Ramadan saja. Kita ingin anak-anak memiliki akhlak yang baik, tetapi mereka justru tumbuh dengan menyaksikan bagaimana orang dewasa di rumah berbicara, marah, memperlakukan orang lain, bahkan memperlakukan dirinya sendiri.
Saya pernah membaca sebuah kutipan kata-kata Haidar Bagir di Instagram yang isinya “Jangan ngomong berapa banyak Al-Quran yang kau hafal. Biarkan orang melihat Al-Quran dalam tindakanmu.” Kalimat itu terasa semakin dalam ketika kita letakkan di hadapan anak-anak. Sebab barangkali yang mereka perlukan bukan orang tua yang paling fasih menyuruh, melainkan orang tua yang mau lebih dulu melakukan.
Saya merasa, seorang anak tidak membutuhkan rumah yang penuh dengan perintah tentang kebaikan, tapi ia membutuhkan rumah yang membuat kebaikan itu terlihat sebagai sesuatu yang hidup. Dan di zaman ketika gadget begitu mudah merebut perhatian, teladan orang tua menjadi semakin penting. Kita tidak bisa menyalahkan anak karena kecanduan layar jika sejak kecil layar itulah yang paling sering mereka lihat berada di tangan orang tuanya.
Kita tidak bisa berharap anak mencintai buku jika tak pernah melihat orang rumah menikmati membaca. Kita tidak bisa memaksa mereka akrab dengan Al-Qur’an jika lantunan ayat suci Al-Qur’an bahkan tak pernah mereka dengar di ruang keluarga atau di kamar.
Kita mungkin sering lupa bahwa rumah bukan sekadar tempat anak pulang setelah seharian bersekolah dan bermain. Rumah adalah sekolah pertama yang tidak mengenal jam pelajaran, tidak memiliki papan tulis, dan tidak pernah membagikan rapor.
Di sanalah anak belajar tentang marah dari cara ayahnya marah, belajar tentang kasih sayang dari cara ibunya memperlakukan orang lain, belajar tentang kejujuran dari bagaimana orang tuanya berbicara, dan belajar tentang agama bukan dari ceramah, melainkan dari apa yang mereka saksikan setiap hari.
Bahkan bisa jadi, sebelum anak mengenal siapa gurunya di sekolah, ia telah lebih dahulu mengenal ayah dan ibunya sebagai “guru” melalui segala perilaku yang mereka tampilkan di rumah. Maka ketika seorang anak melihat ayahnya mengambil mushaf selepas Maghrib, ia sedang menerima pelajaran tanpa harus disuruh.
Ketika seorang anak melihat ibunya memilih membaca buku di sela-sela kesibukan, ia sedang belajar tanpa merasa sedang diajari. Ketika anak melihat kedua orang tuanya bergegas sholat ketika azan berkumandang, ia sedang diperkenalkan kepada agama melalui sebuah pemandangan yang lebih kuat daripada seribu nasihat.
Inilah bagian yang paling menampar bagi saya sendiri khususnya. Saya sering merasa sudah cukup mengajarkan sesuatu kepada anak-anak baik di sekolah atau di tempat mengaji hanya karena telah menyampaikannya berulang kali. Padahal, jangan-jangan mereka tidak membutuhkan lebih banyak kata dari saya.
Mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia terlebih dahulu melakukan apa yang saya minta mereka lakukan. Sebab bagaimana mungkin saya meminta mereka rajin membaca jika mereka tidak pernah melihat saya membaca? Bagaimana mungkin saya meminta mereka mencintai Al-Qur’an jika mereka tidak pernah melihat saya akrab dengannya? Bagaimana mungkin saya meminta mereka menjaga adab jika saya sendiri masih sering gagal menjaganya?
Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara membuat anak menjadi baik, sampai lupa bertanya apakah diri kita sendiri sudah cukup layak untuk menjadi contoh kebaikan itu.
Maka mungkin malam ini pertanyaannya bukan lagi, “Mengapa anak saya tidak suka mengaji?” atau “Mengapa anak saya kecanduan gadget?” Pertanyaan yang lebih pantas dan mungkin lebih menyakitkan menurut saya adalah, “Sudahkah saya menjadi contoh dari apa yang selama ini saya tuntut dari anak saya?”
Karena pada akhirnya, mulut kita boleh berbusa mengajarkan kebaikan, tetapi jika kebaikan itu tak pernah terbentuk dalam perilaku kita, anak hanya akan mengenalnya sebagai teori. Dan betapa ironisnya, kita sibuk mencetak generasi yang baik dengan kata-kata, sementara tanpa sadar setiap hari kita sedang mencetak mereka dengan teladan kita sendiri.
Sebab anak-anak, menurut saya, tidak selalu mendengarkan apa yang kita katakan. Tetapi mereka hampir selalu melihat apa yang kita lakukan.
Dan kelak, ketika mereka tumbuh dewasa, bisa jadi sebagian dari apa yang kita sebut sebagai “karakter mereka” sebenarnya hanyalah pantulan dari diri kita yang selama bertahun-tahun mereka saksikan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
