Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Perempuan Jadi Kepala Keluarga, Idealkah?

Agama | 2026-08-07 09:27:06
Ilustrasi

Keluarga merupakan unit sosial terkecil, tetapi memiliki pengaruh paling besar terhadap kualitas suatu masyarakat. Dari lingkungan keluargalah nilai, akhlak, tanggung jawab, serta karakter generasi dibentuk. Oleh karena itu, perubahan yang terjadi dalam struktur keluarga tidak semestinya dipandang sebagai angka statistik belaka. Di balik setiap data terdapat realitas kehidupan yang perlu dipahami secara utuh dan bijaksana.

Perhatian terhadap persoalan ini kembali mengemuka setelah salah satu media online memuat berita berjudul "Jabar SOS, Setiap Tahun Puluhan Ribu Perempuan Jadi Kepala Keluarga Baru" yang dipublikasikan pada 20 Juli 2026. Berita tersebut mengangkat fenomena meningkatnya jumlah perempuan yang menjalankan peran sebagai kepala keluarga di Jawa Barat. Kondisi ini berkaitan dengan berbagai persoalan, mulai dari perceraian, kematian pasangan, persoalan ekonomi, hingga tantangan sosial lainnya yang memengaruhi keberlangsungan keluarga.

Fenomena tersebut layak menjadi bahan perenungan bersama. Sebab, ketika semakin banyak perempuan memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga, persoalan yang muncul bukan hanya mengenai siapa yang menjadi pencari nafkah. Lebih jauh dari itu, terdapat konsekuensi yang menyangkut pola pengasuhan anak, kesejahteraan keluarga, pendidikan, hingga kesehatan psikologis seluruh anggota keluarga.

Dalam banyak keadaan, perempuan mampu menunjukkan ketangguhan luar biasa ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan. Tidak sedikit ibu yang berjuang mencari nafkah, mendidik anak, sekaligus menjaga keharmonisan keluarga setelah kehilangan pasangan atau menghadapi keadaan yang tidak diharapkan. Keteguhan tersebut patut dihargai sebagai bentuk kesabaran dan tanggung jawab.

Namun demikian, penghargaan terhadap perjuangan perempuan tidak boleh mengaburkan kenyataan bahwa kondisi tersebut sering kali lahir dari situasi yang tidak ideal. Ketika semakin banyak keluarga kehilangan penopang utamanya, terdapat persoalan yang perlu dicermati secara lebih mendalam. Oleh karena itu, perhatian hendaknya diarahkan bukan hanya pada kemampuan perempuan bertahan, melainkan juga pada berbagai faktor yang menyebabkan mereka harus memikul beban yang demikian besar.

*Pandangan Islam*

Islam memandang keluarga sebagai amanah yang dibangun di atas pembagian tanggung jawab yang proporsional. Allah Swt. berfirman, "Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (QS. An-Nisa: 34).

Ayat tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan dalam keluarga bukanlah bentuk keistimewaan yang memberikan hak tanpa kewajiban. Sebaliknya, kepemimpinan merupakan amanah yang disertai tanggung jawab untuk memberikan perlindungan, nafkah, dan rasa aman kepada keluarga.

Rasulullah saw. juga bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." (HR al-Bukhari dan Muslim). Hadis tersebut memperlihatkan bahwa setiap bentuk kepemimpinan selalu diiringi tanggung jawab. Dalam lingkup keluarga, tanggung jawab itu tidak hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga pembinaan akhlak, pendidikan, dan perlindungan seluruh anggota keluarga.

Apabila semakin banyak perempuan harus mengambil alih fungsi kepala keluarga karena berbagai keadaan, maka fenomena tersebut layak dibaca sebagai sinyal bahwa terdapat tantangan yang memengaruhi ketahanan keluarga. Tantangan itu dapat berupa meningkatnya angka perceraian, persoalan ekonomi, lemahnya perlindungan terhadap perempuan dan anak, maupun perubahan pola kehidupan sosial yang semakin kompleks.

Di sinilah pentingnya melihat persoalan secara menyeluruh. Ketahanan keluarga tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu dalam menghadapi kesulitan, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan yang mendukung tumbuhnya keluarga yang sehat. Akses terhadap pekerjaan yang layak, pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan, perlindungan hukum, dan lingkungan sosial yang kondusif merupakan bagian dari faktor yang turut menentukan keberlangsungan keluarga.

Al-Qur'an memberikan gambaran mengenai tujuan dibentuknya keluarga melalui firman Allah Swt., "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa keluarga dibangun untuk menghadirkan ketenteraman (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat (rahmah). Ketika ketiga unsur itu mengalami gangguan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh suami dan istri, tetapi juga oleh anak-anak yang sedang tumbuh membentuk kepribadiannya.

Karena itu, meningkatnya jumlah perempuan sebagai kepala keluarga semestinya menjadi bahan evaluasi mengenai sejauh mana berbagai kebijakan dan program pembangunan telah benar-benar memperkuat institusi keluarga. Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, pembangunan fisik, atau capaian investasi, melainkan juga melalui kemampuan menjaga keluarga agar tetap kokoh menghadapi perubahan zaman.

Dalam perspektif Islam, pemimpin memiliki kewajiban menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Rasulullah saw. bersabda, "Imam adalah pemelihara dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut mengandung pesan bahwa kepemimpinan memiliki dimensi pelayanan dan perlindungan. Oleh sebab itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan keluarga, perempuan, anak, pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan masyarakat seyogianya diarahkan untuk memperkuat fondasi kehidupan keluarga.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan budaya saling menolong, memperkuat hubungan antarkerabat, menghormati ikatan pernikahan, serta membangun lingkungan yang mendukung tumbuhnya keluarga yang harmonis. Ketahanan keluarga tidak mungkin hanya dibebankan kepada individu tertentu, melainkan memerlukan kepedulian bersama sesuai dengan peran masing-masing.

Pada akhirnya, bertambahnya perempuan sebagai kepala keluarga di Jawa Barat hendaknya tidak dipandang sekadar sebagai perubahan statistik kependudukan. Fenomena tersebut merupakan pengingat bahwa kualitas suatu masyarakat sangat berkaitan dengan kualitas keluarganya. Ketika keluarga menghadapi berbagai tekanan, maka perhatian terhadap akar persoalan menjadi semakin penting.

Refleksi ini bukan dimaksudkan untuk menyalahkan pihak mana pun, melainkan sebagai bentuk kepedulian agar ketahanan keluarga memperoleh perhatian yang lebih besar dalam setiap ikhtiar membangun masyarakat. Sebab keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang tangguh, sementara generasi yang tangguh merupakan fondasi utama bagi terwujudnya kehidupan masyarakat yang adil, bermartabat, dan penuh keberkahan sebagaimana diajarkan dalam nilai-nilai Islam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image