Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fikrudz Dzikri Al Farisy

Menyalakan Harapan Lewat Peringatan Arbaen

Agama | 2026-08-04 23:13:16
Peringatan Arbaen di Kompleks Masjid Imam Hussein Karbala. Sumber gambar :https://safinah.id/arbain-imam-husain-sejarah-keutamaan-dan-manifestasi-cinta-kepada-hujjah-allah/

Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, ingatan sering kali menjadi sesuatu yang mudah pudar. Perhatian publik berganti dari satu peristiwa ke peristiwa lain dalam hitungan hari, sementara berbagai tragedi kemanusiaan perlahan tenggelam oleh derasnya arus informasi. Namun, sejarah juga memperlihatkan bahwa terdapat sejumlah peristiwa yang mampu bertahan melampaui ruang dan waktu karena terus dipelihara oleh kesadaran kolektif masyarakat. Salah satu contoh paling menarik dapat ditemukan dalam peringatan Arbaen, sebuah tradisi yang setiap tahun menggerakkan jutaan manusia untuk berjalan kaki menuju Kota Karbala di Irak.

Setiap tanggal 20 Safar dalam kalender Hijriah, jalan yang menghubungkan Kota Najaf dan Karbala dipenuhi oleh lautan peziarah. Perjalanan sejauh kurang lebih 80 kilometer ditempuh selama tiga hingga empat hari dengan berjalan kaki. Pemandangan tersebut bukan sekadar memperlihatkan besarnya jumlah peserta, melainkan juga menghadirkan sebuah fenomena sosial yang sulit ditemukan di belahan dunia lain. Masyarakat membuka rumah, mendirikan mawkib atau pos pelayanan, menyediakan makanan, minuman, tempat beristirahat, hingga layanan kesehatan tanpa mengharapkan imbalan. Di sepanjang perjalanan, solidaritas tumbuh secara spontan dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari makna Arbaen.

Secara etimologis, arba'in berarti "empat puluh". Dalam tradisi Islam, khususnya bagi umat Syiah, Arbaen diperingati sebagai hari keempat puluh setelah syahidnya Imam Husain bin Ali pada 10 Muharam 61 Hijriah atau 680 Masehi dalam Peristiwa Karbala. Tragedi tersebut menempati posisi yang sangat penting dalam sejarah Islam karena berkaitan dengan penolakan Imam Husain untuk memberikan baiat kepada Khalifah Yazid bin Muawiyah. Penolakan tersebut dipahami sebagai sikap moral untuk mempertahankan prinsip keadilan, integritas, dan tanggung jawab terhadap umat di tengah situasi politik yang dinilai menyimpang dari nilai-nilai Islam.

Empat puluh hari setelah tragedi Karbala, keluarga Imam Husain bersama sejumlah sahabat dipercaya kembali mengunjungi makam para syuhada. Momentum tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi tahunan yang terus dipertahankan hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, Arbaen tidak lagi dimaknai semata-mata sebagai ritual mengenang gugurnya Imam Husain, melainkan berkembang menjadi ruang spiritual, sosial, dan kemanusiaan yang mempertemukan jutaan orang dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang budaya. Perjalanan menuju Karbala pada akhirnya menunjukkan bahwa sebuah peringatan keagamaan dapat menghadirkan dimensi sosial yang sangat luas melalui praktik solidaritas, pelayanan, dan kepedulian terhadap sesama.

Keistimewaan Arbaen justru terletak pada kemampuan tradisi tersebut menjaga ingatan selama lebih dari tiga belas abad. Tidak banyak peristiwa sejarah yang mampu terus hidup dalam kesadaran masyarakat dalam rentang waktu sepanjang itu. Berbagai kerajaan telah runtuh, kekuasaan silih berganti, bahkan batas-batas negara mengalami perubahan, tetapi ingatan mengenai Karbala tetap diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kekuatan sebuah sejarah tidak hanya ditentukan oleh peristiwa yang terjadi pada masa lampau, tetapi juga oleh kesediaan masyarakat untuk terus memaknai kembali peristiwa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Arbaen sebagai Penjaga Ingatan Kolektif

Dalam kajian sejarah dan sosiologi, ingatan tidak dipahami sebagai sekadar kemampuan individu mengingat masa lalu. Maurice Halbwachs menjelaskan bahwa ingatan dibangun melalui komunitas. Sebuah masyarakat mempertahankan identitas bukan hanya melalui dokumen sejarah, melainkan juga melalui tradisi, simbol, dan ritual yang terus diwariskan. Dengan kata lain, sejarah akan tetap hidup apabila terus diingat bersama, diceritakan kembali, dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Perspektif tersebut membantu menjelaskan mengapa Arbaen memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan umat Syiah. Perjalanan dari Najaf menuju Karbala bukan sekadar aktivitas fisik yang bertujuan mencapai sebuah tempat, melainkan proses menghadirkan kembali memori Karbala ke dalam kehidupan masa kini. Setiap langkah menjadi simbol penghormatan terhadap pengorbanan Imam Husain sekaligus penegasan bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan di Karbala tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah

Jutaan Peziarah melakukan jalan kaki dari kota Najaf menuju Karbala pada peringatan Arbaen. Sumber gambar : https://ahlulbaitindonesia.or.id/news/global/peziarah-pakistan-dari-arbain-kami-belajar-cinta-persatuan-persaudaraan/

Tradisi berjalan kaki juga memperlihatkan bahwa memori kolektif selalu dibangun melalui pengalaman bersama. Jutaan orang yang berjalan di jalan yang sama, mengucapkan doa yang sama, serta saling membantu tanpa memandang asal-usul menciptakan sebuah pengalaman sosial yang memperkuat rasa kebersamaan. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas kolektif yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Dalam konteks tersebut, Arbaen tidak hanya menjaga ingatan mengenai sebuah tragedi, tetapi juga membentuk cara sebuah komunitas memahami makna keberanian, pengorbanan, dan solidaritas.

Filsuf Paul Ricoeur pernah mengemukakan bahwa ingatan selalu berkaitan dengan narasi. Sebuah peristiwa sejarah tidak akan bertahan apabila berhenti diceritakan. Sebaliknya, sebuah narasi yang terus dihidupkan akan membentuk cara masyarakat memahami masa lalu sekaligus menentukan arah masa depan. Arbaen memperlihatkan proses tersebut secara nyata. Karbala tidak hanya dikenang sebagai peristiwa yang terjadi pada abad ketujuh, tetapi terus ditafsirkan sebagai sumber inspirasi moral dalam menghadapi berbagai persoalan zaman.

Dalam perspektif tersebut, makna utama Arbaen bukan terletak pada kesedihan semata. Kesedihan memang menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tragedi Karbala, tetapi Arbaen justru menunjukkan bahwa kesedihan dapat ditransformasikan menjadi kekuatan moral. Perjalanan panjang menuju Karbala mengajarkan bahwa kehilangan tidak selalu berakhir pada keputusasaan. Sebaliknya, kehilangan dapat melahirkan kesadaran baru untuk mempertahankan nilai-nilai yang diyakini benar. Dengan demikian, yang diwariskan dari Karbala bukan hanya kisah tentang gugurnya Imam Husain, melainkan juga semangat untuk menjaga keadilan, keberanian, dan kemanusiaan agar tetap hidup dalam setiap zaman.

Dari Kesedihan Menuju Harapan

Salah satu kekuatan terbesar Arbaen terletak pada kemampuan mengubah kesedihan menjadi harapan. Tidak sedikit peringatan sejarah yang berhenti pada romantisasi masa lalu atau sekadar mengenang penderitaan yang pernah terjadi. Arbaen justru menawarkan makna yang berbeda. Peringatan empat puluh hari setelah tragedi Karbala bukan dimaksudkan untuk mempertahankan duka tanpa akhir, melainkan menjadi momentum refleksi bahwa setiap pengorbanan selalu menyimpan pelajaran bagi kehidupan berikutnya.

Dalam banyak tradisi, angka empat puluh memiliki makna simbolis sebagai fase pendewasaan dan penyempurnaan. Tradisi Islam mengenal berbagai peristiwa penting yang berkaitan dengan angka tersebut, mulai dari usia Nabi Muhammad SAW ketika menerima wahyu pertama hingga berbagai bentuk pengasingan dan perenungan yang berlangsung selama empat puluh hari. Dalam konteks Arbaen, rentang waktu empat puluh hari dipahami sebagai masa ketika kesedihan perlahan berubah menjadi kesadaran. Air mata yang mengiringi tragedi Karbala tidak berhenti sebagai ekspresi kehilangan, tetapi berkembang menjadi tekad untuk menjaga nilai-nilai yang diperjuangkan Imam Husain.

Perubahan makna tersebut menjelaskan mengapa Arbaen tidak identik dengan pesimisme. Sebaliknya, perjalanan menuju Karbala menghadirkan optimisme bahwa kebenaran tidak pernah benar-benar hilang meskipun pernah mengalami kekalahan secara politik. Dalam sejarah, banyak tokoh berhasil memenangkan peperangan melalui kekuatan militer, tetapi hanya sedikit yang mampu memenangkan hati dan ingatan manusia selama berabad-abad. Karbala memperlihatkan bahwa kemenangan moral sering kali memiliki daya hidup yang lebih panjang dibandingkan kemenangan politik.

Nilai tersebut menjadi alasan mengapa jutaan peziarah tetap datang ke Karbala setiap tahun. Perjalanan yang melelahkan, cuaca yang panas, serta berbagai tantangan selama perjalanan diterima sebagai bagian dari proses refleksi diri. Pengorbanan fisik bukan menjadi tujuan utama, melainkan sarana untuk menumbuhkan empati terhadap perjuangan yang pernah dialami Imam Husain beserta keluarga dan para pengikutnya. Dalam proses tersebut, perjalanan spiritual berubah menjadi latihan moral yang mengingatkan bahwa mempertahankan kebenaran selalu menuntut pengorbanan.

Tradisi pelayanan yang tumbuh selama Arbaen juga memperlihatkan transformasi tersebut secara nyata. Ribuan mawkib menyediakan kebutuhan para peziarah tanpa memandang kebangsaan, latar belakang ekonomi, maupun afiliasi sosial. Budaya memberi tanpa mengharapkan balasan menunjukkan bahwa semangat Karbala tidak hanya diwujudkan melalui narasi, tetapi juga melalui tindakan konkret yang mengedepankan kepedulian terhadap sesama. Nilai inilah yang menjadikan Arbaen sebagai ruang pembelajaran mengenai solidaritas sosial dalam skala yang sangat besar.

Arbaen di Tengah Gejolak Timur Tengah

Pemaknaan Arbaen menjadi semakin relevan ketika ditempatkan dalam konteks Timur Tengah dewasa ini. Kawasan tersebut masih dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari konflik bersenjata, rivalitas geopolitik, krisis kemanusiaan, hingga ketidakpastian ekonomi. Ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan. Di sisi lain, Irak terus berupaya menjaga keamanan domestik sekaligus mempertahankan posisi strategis di tengah berbagai kepentingan regional.

Situasi tersebut memberikan tantangan tersendiri bagi penyelenggaraan Arbaen. Meskipun demikian, jutaan peziarah tetap datang ke Karbala setiap tahun. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa praktik keagamaan tidak hanya berkaitan dengan hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme sosial yang memperkuat ketahanan masyarakat. Di tengah ketidakpastian politik, Arbaen menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk membangun solidaritas, mempererat hubungan antarkelompok, serta meneguhkan harapan bahwa kehidupan bersama tetap dapat dipertahankan.

Di tengah ketidakpastian situasi di Timur Tengah, Peringatan Arbaen tetap menarik jutaan peziarah untuk mengunjungi kompleks Makam Imam Hussein di Karbala. Sumber gambar : https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i74796-inilah_mokeb_yang_melayani_peziarah_arbain_di_karbala_%281%29

Pembacaan semacam ini penting agar Arbaen tidak dipahami secara sempit sebagai simbol pertentangan politik. Nilai utama yang diwariskan dari Karbala justru bersifat universal, yakni keberanian menghadapi ketidakadilan, kesediaan berkorban demi prinsip, dan tanggung jawab menjaga martabat manusia. Nilai-nilai tersebut melampaui batas mazhab, kebangsaan, maupun identitas politik. Oleh sebab itu, banyak kalangan memandang Karbala sebagai simbol perjuangan moral yang dapat menginspirasi siapa saja, terlepas dari latar belakang agama maupun budaya.

Dalam perspektif yang lebih luas, Arbaen juga memperlihatkan bahwa ingatan dapat menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh. Sebuah komunitas yang mampu menjaga memori sejarah akan lebih mudah mempertahankan identitas ketika menghadapi berbagai tekanan eksternal. Memori kolektif tidak hanya berfungsi mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi sumber nilai yang membimbing keputusan pada masa kini. Oleh karena itu, Arbaen menunjukkan bahwa sejarah bukan sekadar warisan intelektual, melainkan modal sosial yang memperkuat daya tahan sebuah masyarakat.

Pada akhirnya, pesan terbesar Arbaen tidak terletak pada seberapa jauh perjalanan menuju Karbala ditempuh, melainkan pada kemampuan menjaga nilai-nilai kemanusiaan agar tidak hilang ditelan zaman. Perjalanan panjang yang dilakukan jutaan peziarah setiap tahun membuktikan bahwa ingatan dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap lupa, sementara solidaritas dapat tumbuh dari pengalaman bersama yang dibangun di atas kepedulian dan pengorbanan.

Di tengah dunia yang terus berubah, Arbaen mengingatkan bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh kemenangan dalam medan politik atau militer. Peradaban juga dibangun oleh kemampuan manusia menjaga ingatan mengenai keberanian, keadilan, dan pengorbanan agar terus hidup dalam tindakan nyata. Selama nilai-nilai tersebut masih diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, Karbala tidak akan pernah menjadi sekadar catatan sejarah. Karbala akan terus hidup sebagai pengingat bahwa dari sebuah kesedihan dapat lahir harapan, dari sebuah pengorbanan dapat tumbuh solidaritas, dan dari ingatan bersama dapat terpelihara keberanian untuk memperjuangkan kemanusiaan di tengah berbagai tantangan zaman.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image