Pemimpin Sangat Mengenal Timnya
Agama | 2026-08-04 15:18:32
Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Founder Insani Leadership)
Jika mempelajari dunia penerbangan, kita akan mendapati regulasi dan standar operasional prosedur (SOP)-nya sangat ketat. Hal ini sebagai mitigasi untuk memimalisir risiko sekecil mungkin. Namun demikian, seorang pemimpin memahami SOP dibuat dan untuk diterapkan dalam situasi normal. Mungkin akan ada situasi tidak normal yang memerlukan keputusan cepat dan tepat yang bisa saja bertabrakan dengan SOP yang ada.
Persoalan mungkin akan menjadi lebih rumit ketika situasi tidak normal itu dihadapi oleh tim Anda. Dan, dia harus membuat keputusan cepat dan tepat. Mari kita simak sebuah ilustrasi situasi tidak normal dalam dunia penerbangan.
Regulasi penerbangan menyebutkan jarak antar pesawat dalam satu jalur penerbangan yang sama, tidak boleh kurang dari 300 meter di atas dan di bawahnya serta 8 kilometer di sekitarnya. SOP ini dibuat untuk menghindarkan pesawat dari potensi tabrakan. Mengingat kecepatan pesawat mencapai 900 km/jam.
Persoalannya, bagaimana ketika ada pesawat, sebut saja pesawat A mengalami indikasi kerusakan mesin. Ia harus segera turun dari ketinggian dan melakukan pendaratan darurat. Sementara, di bawahnya dengan jarak 600 meter ada pesawat lain yang terbang pada jalur yang sama.
Dalam kondisi genting seperti itu, petugas pengawas lalu lintas udara memilih “melanggar” SOP penerbangan. Ia mengambil keputusan memandu pesawat A turun dari ketinggian untuk melakukan proses pendaratan darurat. Dalam waktu nyaris bersamaan, dia juga berkomunikasi kepada pilot pesawat B agar disiplin mengatur jarak penerbangan dan mengikuti instruksinya dengan fokus.
Pesawat A berhasil turun dari ketinggian dan secara bertahap mendarat darurat dengan lancar. Seratus lebih jiwa yang berada di dalamnya terselamatkan dari potensi kecelakaan karena kerusakan pesawat. Jika Anda menjadi pimpinan dari petugas pengawas lalu lintas udara tersebut, apa yang akan Anda lakukan kepada tim Anda itu? Oh ya, cerita di atas diadaptasi dari kisah nyata sebuah penerbangan ke Florida, Amerika Serikat.
Seorang pemimpin sejati sangat mengenali timnya. Kepercayaan yang dibangunnya selama ini dalam tim, membuat timnya percaya diri dalam mengambil keputusan untuk bertindak benar dalam situasi darurat meski secara formal prosedural itu melanggar aturan. Sebagai pemimpin, Anda harus paham peraturan secara prosedural dengan peraturan secara substansial.
Mari kita mengambil inspirasi kepemimpinan dari Rasulullah. Bagaimana Rasulullah bersikap terhadap Khalid bin al-Walid sekembalinya dari perang mu’tah. Perang mu’tah merupakan perang besar pertama antara pasukan Muslim berhadapan dengan pasukan Romawi Timur (Bizantyum) yang terjadi pada tahun ke-8 hijriah. Pasukan Muslim ketika itu berjumlah 3.000 prajurit. Sementara, pasukan Romawi Timur berjumlah 100.000 prajurit. Riwayat lain menyebutkan 200.000 prajurit.
Pada perang mu’tah, tiga panglima pasukan muslim syahid secara beruntun, yaitu Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Kemudian, pasukan Muslim bersepakat mengangkat Khalid bin al-Walid sebagai panglima pasukan.
Khalid segera mempelajari situasi dengan cepat untuk memutuskan siasat dan strategi perang. Ia mengonsolidasi pasukan Muslim untuk menjalankan taktik perangnya. Pertama, rotasi pergerakan pasukan sayap kanan dan kiri, depan dan belakang, untuk menimbulkan efek psikologis keraguan dan ketakutan pada musuh. Kedua, manuver pasukan kavaleri untuk menimbulkan ilusi kehadiran pasukan bantuan. Ketiga, memadukan serangan cepat dan mundur bertahap.
Strategi perang Khalid berjalan baik. Dengan stretegi itu, Khalid berhasil menarik mundur pasukan Muslim secara bertahap dan melepaskan diri dari kepungan pasukan Romawi Timur. Pasukan Muslim sampai Madinah dengan selamat. Sesampainya di Madinah, ada suara-suara yang membahas ijtihad dan keputusan Khalid menarik mundur pasukan Muslim. Apakah itu termasuk lari dari medan perang yang hukumnya dosa besar?
Sebagai pemimpin, Rasulullah sangat mengenal Khalid bin al-Walid sebagai ksatria perang. Bahkan, jauh sebelum Khalid masuk Islam. Khalid-lah aktor dari kekalahan pasukan Muslim dalam perang Uhud. Dialah yang mengatur strategi pasukan kavaleri pasukan Quraisy di bawah kepemimpinannya dan Ikrimah bin Abi Jahal untuk memutar dan mengambil alih bukit Uhud. Saat itu, ia melihat para pemanah pasukan Muslim mulai turun dan meninggalkan bukit Uhud kecuali tersisa sepuluh orang saja karena tergoda ghanimah.
Maka itu, simpulannya tidak mungkin Khalid gentar menghadapi pasukan Romawi Timur, lalu memilih mundur karena rasa takut. Jika bukan karena memikirkan ribuan nyawa pasukan Muslim yang terjepit, kemungkinan besar Khalid memilih meneruskan berperang. Bukankah cita-cita terbesarnya syahid di medan perang?
Demikianlah Rasulullah mengenali Khalid bin al-Walid. Maka, Rasulullah terangkan sikap Khalid bukan lari dari medan perang karena pengecut, melainkan mundur sebagai bagian dari strategi perang untuk menyelamatkan jiwa ribuan pasukan Muslim. Dan, jiwa ksatria Khalid kelak dibuktikannya dalam perang Yarmuk yang terjadi pada tahun ke-15 hijriah. Ia memimpin pasukan Muslim bersama Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan berhasil menghancurkan dan memukul mundur pasukan Romawi Timur.
Lantas, sudahkah Anda mengenali tim Anda dengan baik? Sudahkah Anda membangun hubungan dalam tim yang saling percaya? Ataukah tim Anda menjadi seperti robot yang patuh terhadap SOP meski saat menghadapi situasi tidak normal. Nalar kemanusiaannya seperti hilang. Mengapa mereka bisa seperti itu? Itu karena Anda sebagai pemimpin yang keliru dalam memimpin mereka.
Anda tidak pernah membangun kepercayaan apalagi memberikan kepercayaan kepada mereka. Sadarkah Anda, itu berarti Anda merendahkan harkat dan martabat kemanusiaannya sebagai makhluk yang dikaruniai Allah kemampuan bernalar dan berpikir sehat. Anda yang mematikan nalar kemanusiaannya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
