Satu Gaji tidak Cukup: Tren Side Hustle di Kalangan Anak Muda
Gaya Hidup | 2026-07-31 12:08:42
Satu jam sebelum jam kerja kantor resmi dimulai, Fahmi sudah sibuk membalas pesan dari klien freelance design-nya. Nanti malam, sepulang mengarungi kemacetan kota dan melepas kemeja kerjanya, laptopnya akan kembali menyala hingga tengah malam demi menyelesaikan pesanan ilustrasi. Akhir pekan? Jangan tanyakan liburan. Fahmi menggunakan Sabtu dan Minggunya untuk menjadi fotografer acara pernikahan.
Di tempat lain, ada ribuan "Fahmi" baru yang bermunculan setiap harinya. Anak muda zaman sekarang tidak lagi hanya memegang satu kartu identitas pekerjaan. Pagi sampai sore menjadi staf pemasaran, malam hari mengelola toko online, dan disela-selanya nyambi menjadi kreator konten atau mitra ride-hailing.
Side hustle atau yang dulu kita kenal cukup dengan istilah kerja sampingan kini bukan lagi sekadar hobi yang menghasilkan uang jajan tambahan. Ia telah bergeser menjadi mode bertahan hidup (survival mode) bagi generasi muda.
Ketika "Satu Gaji" Mengalami Inflasi Nilai
Ada narasi lama yang kerap didengungkan generasi orang tua kita: "Carilah pekerjaan tetap yang stabil, tekuni, dan kamu akan bisa membeli rumah serta menyiap tabungan masa depan." Namun, bagi anak muda yang masuk ke pasar kerja hari ini, kalimat itu terasa seperti cerita dongeng masa kecil yang tak realistis.
Realitas ekonominya jauh dari kata manis. Kenaikan gaji berkala kerap kali bagaikan siput yang merayap, sementara laju inflasi, harga bahan pokok, dan melambungnya harga rumah melesat bagaikan mobil balap. Gaji pokok yang pas-pasan sesuai standar UMR di kota-kota besar sering kali hanya habis dalam hitungan hari pertama untuk membayar sewa kamar kos, cicilan kendaraan, makan sehari-hari, serta menopang gaya hidup minimalis.
Istilah "isi dompet megap-megap di tengah bulan" bukan lagi gurauan di media sosial, melainkan rekam medis keuangan yang nyata. Dalam kondisi inilah, side hustle hadir bukan karena anak muda terlalu serakah ingin menumpuk harta, melainkan karena pendapatan tunggal memang sudah tidak sanggup lagi menanggung beban hidup yang kian mencekik.
Romantisasi "Hustle Culture" dan Ilusi Kebebasan
Media sosial memegang peran besar dalam membentuk wajah side hustle masa kini. Di Instagram atau TikTok, kita setiap hari disuguhi konten bertema "A Day in My Life" dari anak muda sukses yang punya tiga pekerjaan sekaligus. Mereka tampak keren, mandiri, dan finansialnya terlihat sangat sehat.
Budaya kerja tanpa henti (hustle culture) ini mengalami romantisasi yang luar biasa. Anak muda didorong untuk percaya bahwa tidur empat jam sehari adalah simbol kerja keras, dan memiliki waktu luang tanpa menghasilkan uang adalah sebuah dosa besar. Istilah keren seperti solopreneur, digital nomad, atau content creator dipoles sedemikian rupa sehingga menyamarkan fakta kasar di baliknya.
Padahal, jika kita berani sedikit jujur, sebagian besar side hustle yang dijalani anak muda lahir dari ketakutan (fear) ketimbang ketertarikan (passion). Ada kecemasan mendalam akan masa depan finansial, ketakutan akan gelombang PHK yang sewaktu-waktu bisa menghantam, serta belum tersedianya jaring pengaman sosial yang memadai. Side hustle akhirnya menjadi semacam sekoci penyelamat pribadi ketika kapal utama (pekerjaan tetap) terasa oleng.
Harga Mahal yang Harus Dibayar: Burnout dan Kehilangan Arah
Menjalani dua atau tiga peran sekaligus dalam sehari tentu ada harganya. Dan harga yang harus dibayar mahal itu adalah kesehatan mental serta fisik.
Fenomena burnout atau kelelahan mental ekstrem kini menjadi penyakit massal di kalangan pekerja muda. Ketika batas antara waktu kerja dan waktu pribadi makin kabur, tubuh dan otak tidak pernah benar-benar mendapatkan haknya untuk beristirahat. Hari Minggu yang seharusnya dipakai untuk memulihkan energi justru diisi dengan menyelesaikan deadline pekerjaan sampingan.
Dampaknya? Produktivitas di pekerjaan utama sering kali merosot, kualitas hubungan sosial memburuk, dan dalam jangka panjang, kesehatan fisik terancam. Maksud hati ingin menabung untuk masa depan, uang hasil kerja sampingan itu justru berisiko habis untuk membayar biaya berobat atau terapi psikologis akibat stres berkepanjangan.
Menuju Keseimbangan: Menjadikan Side Hustle Pilihan, Bukan Siksaan
Apakah memiliki side hustle itu salah? Tentu saja tidak. Memiliki sumber pendapatan tambahan di era ketidakpastian ekonomi seperti sekarang adalah langkah finansial yang bijak dan patut diacungi jempol. Banyak juga orang yang berhasil menemukan passion sejati dan jalan karier baru dari pekerjaan sampingannya.
Namun, yang perlu diluruskan adalah pola pikir kita dalam menyikapinya. Side hustle seharusnya menjadi sarana untuk tumbuh dan memberi ruang napas finansial, bukan rantai baru yang menyiksa diri sendiri demi memenuhi standar hidup yang tak ada habisnya.
Sudah saatnya kita berhenti meromantisasi kelelahan. Anak muda berhak mendapatkan pekerjaan utama dengan upah yang layak tanpa harus mengorbankan seluruh waktu istirahatnya demi sekadar bertahan hidup.
Sebelum memutuskan untuk mengambil side hustle berikutnya, mungkin ada baiknya kita kembali bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sedang benar-benar membangun masa depan, atau sekadar berlari tanpa henti dalam roda hamster yang melelahkan? Sebab pada akhirnya, tidak ada jumlah rupiah dari kerja sampingan yang sepadan jika harus ditukar dengan kesehatan dan kebahagiaan diri sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
