Dari Ospek Sampai Skripsi: Akhlak yang Sering Terlupakan di Kampus
Agama | 2026-07-30 14:27:11
Dari Ospek sampai Skripsi: Akhlak yang Sering Terlupakan di Kampus
Setiap tahun ajaran baru, media sosial selalu ramai dengan cerita tentang senioritas yang keterlaluan, pelajar baru yang dipermalukan saat ospek, sampai kasus perpeloncoan yang berakhir viral. Belum lagi cerita lain yang lebih halus tapi tak kalah menyakitkan: siswa saling sikut demi nilai, tugas joki dan skripsi yang makin marak, sampai kebiasaan menjelekkan dosen atau teman sekelas di grup WhatsApp. Kampus yang seharusnya menjadi ruang belajar dan tumbuh bersama, kadang malah jadi arena di mana akhlak dinomorduakan demi nilai, gengsi, atau validasi sosial.
Fenomena ini sebetulnya bukan hal baru, tapi jarang dibahas secara serius. Kita terlalu sibuk mengejar IPK tinggi, organisasi yang mentereng, atau portofolio yang bagus untuk CV, sampai lupa kampus bahwa juga ruang latihan akhlak. Padahal, cara kita memperlakukan teman satu angkatan, junior, senior, bahkan cleaning service dan satpam kampus, adalah cermin nyata dari akhlak yang selama ini kita pelajari di kelas Aqidah Akhlak atau Tasawuf.
Islam sendiri menempatkan akhlak sebagai inti dari misi kenabian. Dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Hadis ini menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengatur ritual ibadah seperti shalat dan puasa, tapi juga mengatur bagaimana seseorang berdekatan dengan sesama manusia, termasuk hubungan antara mahasiswa dengan mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, dan mahasiswa dengan lingkungan kampusnya.
Dalam tradisi pesantren dan sastra klasik NU, etika menuntut ilmu selalu ditempatkan di atas pencapaian akademik semata. Syaikh Az-Zarnuji dalam kitab Ta'limul Muta'allim mengingatkan bahwa keberkahan ilmu sangat bergantung pada ta'dzim (rasa hormat) seorang murid kepada gurunya serta kepedulian terhadap sesama. Rasa ta'dzim kepada dosen dan semangat khidmah (pengabdian) untuk membantu teman satu kampus sejatinya adalah wujud nyata dari akhlak terpuji (mahmudah).
Akhlak mahmudah di lingkungan kampus bisa berbentuk sederhana: menyapa dosen dan staf dengan sopan, membantu teman yang kesulitan memahami materi, jujur saat mengerjakan tugas dan ujian, serta menghargai pendapat yang berbeda saat diskusi kelas. Sebaliknya, akhlak tercela (mazmumah) juga tumbuh subur bila dibiarkan: gosip di kantin soal aib teman, menyontek lalu wajar, merundung siswa baru dengan dalih tradisi, atau berpura-pura sombong karena merasa lebih senior dan lebih pintar. Semua ini terjadi setiap hari di lingkungan kampus mana pun, termasuk kampus yang berlabel Islam sekalipun.
Yang menarik, hadis di atas tidak menyebut akhlak mulia itu terbatas pada masjid atau majelis ilmu formal. Justru akhlak diuji paling nyata di tempat-tempat biasa: lorong kampus, ruang UKM, grup diskusi tugas kelompok, sampai kolom komentar akun kampus. Semua ruang itu adalah ladang untuk menyempurnakan akhlak sebagaimana pesan Nabi Muhammad saw., atau justru ladang untuk merusaknya.
Kontekstualisasinya untuk pelajar hari ini sederhana saja. Menjadi siswa yang cerdas secara akademik itu penting, namun tidak cukup jika tidak mengeluarkan akhlak yang baik. Kampus yang unggul bukan hanya diukur dari akreditasi atau jumlah publikasi ilmiah, melainkan juga dari bagaimana mahasiswanya memperlakukan satu sama lain. Siswa yang terbiasa jujur di kelas biasanya juga jujur saat kerja. Siswa yang terbiasa menghormati senior dan junior tanpa memahaminya, biasanya juga lebih mudah diterima di tengah masyarakat setelah lulus nanti.
Makanya, yuk mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Sapa dosen dan teman dengan tulus, bantu junior yang kebingungan tanpa embel-embel senioritas, kerjakan tugas sendiri semampu kita sebelum meminta bantuan, dan hindari membicarakan keburukan orang lain hanya untuk seru-seruan. Sebab kampus bukan sekadar tempat mengejar gelar, melainkan juga tempat melatih akhlak yang kelak kita bawa ke masyarakat. Rasulullah saw. sudah memberi teladan, tinggal kita yang memilih: mau jadi pelajar yang menyempurnakan akhlak, atau justru yang merusaknya.
Nama Penulis: Budiyanto
Program Studi: Ilmu Hadis
Kampus:STAINurulQadimPaitonProbolinggo
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
