Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Umi Alfiatul Arfik

Generasi yang Sibuk Mengejar Penghasilan, tetapi Lupa Belajar Mengelola Uang

Gaya Hidup | 2026-08-26 16:59:00

Sekarang, mencari uang tambahan bukan lagi sesuatu yang hanya bisa dilakukan setelah seseorang lulus kuliah. Mahasiswa pun sudah banyak yang mulai mencari penghasilan sendiri. Ada yang menjadi tutor, berjualan, mengambil pekerjaan lepas, menjadi admin media sosial, atau memanfaatkan kemampuan yang mereka punya untuk mendapatkan uang tambahan.

Rasanya menyenangkan ketika pertama kali menerima uang dari hasil usaha sendiri. Ada rasa bangga karena ternyata kita bisa menghasilkan uang tanpa selalu meminta kepada orang tua.

Tapi, pernah tidak setelah mendapatkan penghasilan tambahan, uangnya justru cepat habis?

Awalnya mungkin merasa tidak masalah karena memang uang tersebut hasil kerja sendiri. Mau dipakai makan, nongkrong, membeli barang yang sudah lama diinginkan, atau sekadar checkout sesuatu yang sedang diskon rasanya sah-sah saja. Apalagi kalau nominalnya tidak terlalu besar. “Cuma lima puluh ribu,” pikir kita. Besok ada pemasukan lagi, nanti bisa menabung.

Masalahnya, kata “nanti” sering kali menjadi alasan yang terus diulang.

Ketika mendapatkan uang lagi, ada saja kebutuhan dan keinginan baru. Akhirnya, kita sibuk mencari cara untuk menambah pemasukan, tetapi tidak pernah benar-benar memperhatikan bagaimana uang yang sudah didapat digunakan. Penghasilan bertambah, tetapi tabungan tidak kunjung bertambah.

Saya rasa ini menjadi salah satu hal yang cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa sekarang. Kita sering mendapatkan banyak informasi tentang cara menghasilkan uang. Di media sosial, kita bisa menemukan konten tentang side hustle, bisnis online, investasi, freelance, sampai berbagai pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah. Semua terlihat seperti menawarkan satu pesan: kalau ingin punya lebih banyak uang, carilah penghasilan tambahan.

Padahal, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk dipelajari, yaitu bagaimana mengelola uang setelah kita mendapatkannya.

Sebab, memiliki penghasilan sendiri belum tentu membuat seseorang mampu mengatur keuangannya. Ada mahasiswa yang penghasilannya tidak terlalu besar tetapi bisa menyisihkan sebagian uang secara rutin. Ada juga yang memiliki beberapa sumber pemasukan, tetapi setiap akhir bulan tetap merasa uangnya tidak pernah cukup. Perbedaannya bukan selalu terletak pada jumlah uang yang dimiliki, melainkan pada kebiasaan menggunakannya.

Kadang kita memang terlalu fokus pada pemasukan. Ketika uang terasa kurang, solusi pertama yang muncul adalah mencari pekerjaan tambahan. Padahal, sebelum mencari pemasukan baru, mungkin kita perlu melihat kembali pengeluaran sendiri. Bisa jadi ada uang yang sebenarnya bisa disimpan, tetapi habis untuk hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali.

Membeli kopi, memesan makanan karena malas keluar, membayar ongkos kirim, berlangganan berbagai aplikasi, atau membeli barang karena sedang promo mungkin terlihat sepele jika dilakukan sekali. Tetapi ketika semuanya dijumlahkan dalam satu bulan, hasilnya bisa cukup mengejutkan. Yang membuat semakin sulit adalah pengeluaran seperti ini sering tidak terasa karena dilakukan sedikit demi sedikit.

Karena itu, menurut saya, belajar mengelola keuangan seharusnya dimulai dari hal yang sederhana. Tidak perlu langsung memikirkan investasi dengan nominal besar atau membuat perencanaan keuangan yang rumit. Cukup mulai dengan mengetahui berapa uang yang masuk dan ke mana saja uang itu keluar.

Setelah itu, kita bisa mulai menentukan prioritas. Mana yang memang harus dibayar, mana yang bisa ditunda, dan mana yang sebenarnya hanya keinginan sesaat. Ketika mendapatkan penghasilan, jangan menunggu sampai akhir bulan untuk melihat apakah ada uang yang tersisa untuk ditabung. Justru tabungan sebaiknya sudah dipikirkan sejak awal.

Dalam Islam, harta juga tidak hanya dilihat dari jumlah yang berhasil dikumpulkan. Cara memperoleh dan menggunakannya juga penting. Karena itu, memiliki penghasilan dari usaha sendiri tentu merupakan hal yang baik, tetapi akan lebih baik lagi jika penghasilan tersebut digunakan dengan penuh pertimbangan. Tidak berlebihan dalam membelanjakan harta dan tidak mengikuti keinginan tanpa batas merupakan bagian dari sikap yang perlu dibangun dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, menjadi mandiri secara finansial bukan berarti harus memiliki penghasilan yang besar. Bagi mahasiswa, mungkin bentuknya sederhana: bisa membayar kebutuhan sendiri, tidak selalu meminta tambahan uang ketika kehabisan, memiliki sedikit tabungan, dan tahu kapan harus mengatakan “cukup” pada sebuah keinginan.

Kita boleh mengejar penghasilan. Kita boleh punya pekerjaan sampingan. Kita boleh ingin punya lebih banyak uang. Namun, jangan sampai kita begitu sibuk mencari uang sampai lupa belajar mengelolanya.

Karena uang yang kita hasilkan dengan susah payah seharusnya tidak habis tanpa kita tahu untuk apa.

Mungkin mulai sekarang, setiap kali mendapatkan penghasilan, kita tidak hanya bertanya, “Mau dipakai untuk apa?” tetapi juga bertanya, “Apa yang bisa saya siapkan untuk masa depan dari uang ini?”

Sebab, mencari uang memang penting. Tetapi tahu ke mana uang itu harus pergi, ternyata tidak kalah penting.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image