Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daratullaila Nasri

Kolaborasi Riset: Sebuah Keniscayaan untuk Menyelamatkan Manuskrip Nusantara

Pendidikan dan Literasi | 2026-07-22 18:22:57

Daratullaila Nasri

Dosen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Peserta pelatihan sedang melakukan identifikasi naskah di rumah keluar Syech M. Yasin, Sijunjung, Sumatera Barat (Dokumentasi Daratullaila Nasri Juli 2026)

Riset besar dan berkualitas tidak dihasilkan dari satu orang atau satu lembaga saja. Kompleksitas persoalan yang dihadapi saat ini menuntut hadirnya berbagai disiplin ilmu, jejaring kelembagaan, serta berbagai sumber daya dan pengalaman. Selain budaya kompetisi, dalam Dunia riset juga mengusung kolaborasi. Dalam upaya pelestarian manuskrip Nusantara, kolaborasi riset bukan lagi sekadar strategi, melainkan sebuah keniscayaa.

Saya sangat merasakan hal itu ketika mengikuti kegiatan Pelatihan dan Penelitian Manuskrip di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat tempo hari. Kegiatan itu mempertemukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), Universitas Andalas, UIN Imam Bonjol Padang, Pemerintah Kabupaten Sijunjung melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, hingga komunitas pelestari manuskrip di tingkat lokal. Semua hadir dengan peran yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu menyelamatkan manuskrip dan mempersiapkan generasi baru penelitinya.

Pada kegiatan tersebut terlihat, bahwa pelestarian menuskrip tidak bisa hanya mengandalkan kolaborasi sesama peneliti saja. BRIN menghadirkan para peneliti yang berpengalaman dan jejaring nasional. Yayasan Arsari Djojohadikusumo memberikan dukungan terhadap pengembangan program. Universitas menyediakan ruang akademik dan menyiapkan mahasiswa sebagai calon peneliti muda serta memberi akses kepada para pemilik naskah. Pemerintah daerah memberikan sarana yang diperlukan di lokasi penelitian. Sementara itu, para pemilik manuskrip menjadi pejaga utama warisan intelektual yang selama ini tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Peserta mengamati naskah panjang koleksi Surau Simaung di Sijunjung, Sumatera Barat (Dokumentasi Daratullaila Nasri, Juli 2026)

Dalam pelatihan tersebut, Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN, Dr. Sastri Sunarti, mengingatkan bahwa manuskrip tidak boleh berhenti sebagai benda warisan yang hanya disimpan. Manuskrip perlu dihidupkan terus melalui pembacaan, penelitian, dan pemanfaatan bagai masyarakat. Gagasan ini sesungguhnya hanya dapat diwujudkan apabila banyak pihak terlibat.

Pesan senada juga disampaikan Ketua Pelaksana kegiatan, Dr. Fakhriati. Menurutnya, regenerasi peneliti manuskrip harus segera dilakukan sebelum manuskrip hilang, rusak, atau lenyap bersama putusnya mata rantai pewaris pengetahuan. Ancaman terbesar manuskrip hari ini bukan hanya kerusakan fisik, melainkan semakin sedikitnya orang yang mampu membaca, memahami, dan menelitinya.

Disnilah saya teringat pada pernyataan Prof. Pramono yang sangat mengena, “Sumatera Barat kaya manuskrip, tetapi miskin peneliti.” Kalimat itu tidak bertujuan untuk mengkritik satu lembaga, melainkan pengingat bahwa kekayaan budaya tidak akan berarti tanpa manusia yang bersedia merawatnya.

Oleh karena itu, saya melihat pelatihan dan penelitian maanuskrip di Sijunjung, tanggal 2-11 Juli 2026 kemarin bukan sekadar kegiatan trasfer pengetahuan. Akan tetapi, sebuah contoh kolaborasi yang dapat melahirkan ekosistem baru dalam penelitian manuskrip. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat dipertemukan, belajar bersama para filolog dan peneliti, melakukan penelitian lapangan, menulis artikel ilmiah, hingga dipersiapkan untuk mempresentasikan hasil penelitian di BRIN dan Seminar Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA). rantai pembinaan seperti ini memperlihatkan bahwa regenerasi tidak dibangun dalam satu pertemuan, melainkan melalui proses yang berkelanjutan.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa masa depan manuskrip Nusantara tidak hanya ditentukan oleh banyaknya naskah yang berhasil didigintalkan atau diinventarisasi. Yang jauh lebih penting dari kegiatan itu adalah membangun kolaborasi yang mampu melahirkan peneliti-peneliti baru. Dengan demikian, manuskrip akan tetap hidup selama masih ada orang yang membacanya, menelitinya, dan menjadikannya sumber pengetahuan.

Akhir kata, pelestarian manuskrip bukanlah pekerjaan BRIN semata, bukan pula tanggung jawab perguruan tinggi atau pemerintah daerah. Ia merupakan tanggung jawab bersama. Terlalu berat rasanya jika warisan intelektual Nusantara ini hanya dipikul oleh satu lembaga saja. Di sinilah kolaborasi menemukan arti yang sesungguhnya, bukan sekadar bekerja sama, melainka berbagi tanggung jawab untuk memastikan pengetahuan masa lalu tetap memberi makna untuk masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image