Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hayatun Nufus

Ketika Diam Menjadi Pilihan: Refleksi tentang Pelecehan Verbal dan Relasi Kuasa

Humaniora | 2026-07-22 15:25:56
Ilustrasi

Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi menjadi jembatan yang menghubungkan manusia. Kata-kata mampu menguatkan, membangun kepercayaan, dan menghadirkan rasa aman. Namun, di sisi lain, kata-kata juga dapat melukai, terutama ketika diucapkan dalam situasi yang melibatkan relasi kuasa yang tidak seimbang.

Pelecehan verbal merupakan persoalan yang sering kali tidak mudah dikenali. Tidak meninggalkan luka yang tampak secara fisik, tetapi dapat meninggalkan beban psikologis yang mendalam. Dampaknya pun beragam, mulai dari hilangnya rasa percaya diri, munculnya kecemasan, hingga keengganan untuk menyampaikan pendapat atau sekadar mengungkapkan perasaan.

Dalam berbagai lingkungan, baik di tempat kerja, organisasi, dunia pendidikan, maupun ruang sosial lainnya, hubungan antara seseorang yang memiliki kewenangan dan mereka yang berada dalam lingkup tanggung jawabnya memerlukan komunikasi yang dibangun atas dasar saling menghormati. Perbedaan posisi dan tanggung jawab adalah bagian dari dinamika organisasi, tetapi penghormatan terhadap martabat setiap individu tetap menjadi nilai yang penting untuk dijaga.

Tidak jarang seseorang memilih diam ketika merasa perkataan yang diterimanya telah melukai dirinya. Pilihan untuk diam bukan selalu berarti menerima keadaan atau menganggap persoalan tersebut tidak penting. Bagi sebagian orang, diam merupakan cara untuk menghindari konflik, menjaga situasi tetap kondusif, atau karena belum menemukan ruang yang dirasa aman untuk menyampaikan apa yang dirasakan.

Di sisi lain, tidak semua ucapan yang menimbulkan rasa tidak nyaman dimaksudkan untuk menyakiti. Perbedaan cara berkomunikasi, latar belakang, maupun persepsi dapat memengaruhi bagaimana sebuah perkataan dipahami. Oleh karena itu, membangun komunikasi yang terbuka dan saling menghargai menjadi langkah yang penting agar kesalahpahaman dapat diminimalkan dan setiap pihak merasa dihormati.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan benar atau salahnya pihak tertentu. Setiap peristiwa memiliki konteks dan fakta yang perlu dipahami secara utuh. Namun demikian, pengalaman seseorang yang merasa terluka juga patut mendapat perhatian dan didengarkan dengan empati. Mendengarkan bukan berarti langsung membenarkan, melainkan memberikan ruang agar setiap pengalaman dapat dipahami secara manusiawi.

Masyarakat memiliki peran dalam membangun budaya yang lebih peduli terhadap dampak sebuah ucapan. Ketika seseorang memilih untuk menyampaikan apa yang dirasakannya, respons yang penuh empati dapat menjadi awal dari terciptanya komunikasi yang lebih sehat. Sebaliknya, ketika seseorang memilih diam, kita juga perlu menyadari bahwa di balik diam itu mungkin tersimpan pergulatan yang tidak terlihat oleh orang lain.

Pada akhirnya, membangun lingkungan yang sehat bukan hanya menjadi tanggung jawab mereka yang memegang kewenangan, melainkan tanggung jawab bersama. Setiap individu, apa pun perannya, memiliki kesempatan untuk menghadirkan komunikasi yang menghargai martabat sesama, mengedepankan etika dalam bertutur kata, dan membuka ruang dialog yang saling menghormati.

Semoga semakin banyak ruang yang menghadirkan keberanian untuk saling mendengar, kebijaksanaan untuk saling memahami, dan kemauan untuk saling menghargai. Sebab, budaya saling menghormati bukan hanya menciptakan hubungan yang lebih baik, tetapi juga menjadi fondasi bagi lingkungan yang adil, aman, dan bermartabat bagi semua.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image