Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Robby Effendi

Selalu Nyaris Juara itu Namanya Inggris

Olahraga | 2026-07-18 21:07:33
Gambar Diolah Generatif AI

Sejarah mencatat Inggris pernah membangun imperium terbesar yang dikenal dengan ungkapan the empire on which the sun never sets. Matahari seolah tak pernah berhenti menyinari wilayah kekuasaannya. Dari Asia, Afrika, hingga Amerika, kekuasaan Britania membentang melintasi benua.

Namun di lapangan hijau, sejarah menulis kisah yang berbeda. Matahari kejayaan sepak bola Inggris justru berkali-kali tenggelam ketika trofi sudah tampak di cakrawala.

Semifinal Piala Dunia 2026 kembali menjadi pengingat yang menyakitkan. Inggris sempat berada di depan. Harapan mengantar pulang mimpi ke Wembley terasa begitu dekat. Namun Argentina membalikkan keadaan dan menang 2-1.

Sekali lagi, Inggris berhenti di ambang sejarah.

Padahal, jika berbicara tentang kualitas, hampir tidak ada yang meragukan mereka. Premier League adalah liga terbaik di dunia. Klub-klub Inggris rutin menjuarai Eropa. Akademinya melahirkan pemain-pemain elite. Jude Bellingham, Bukayo Saka, Phil Foden, Declan Rice, hingga Harry Kane adalah simbol generasi emas yang diimpikan banyak negara.

Tetapi sepak bola tidak hanya dimainkan oleh kaki.

Ia juga dimainkan oleh ingatan.

Dan di sinilah persoalan Inggris bermula. Generasi pemain terus berganti. Pelatih silih berganti. Formasi berubah. Filosofi diperbarui. Namun satu hal tidak pernah benar-benar hilang: bayang-bayang masa lalu.

Semifinal Piala Dunia 1990.

Euro 1996.Perempat final 2006.

Semifinal Piala Dunia 2018.

Final Euro 2021.

Final Euro 2024.

Semifinal Piala Dunia 2026.

Daftar itu semakin panjang, seolah membentuk memori kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Para pemain hari ini memang tidak mengalami semua kegagalan itu. Namun mereka tumbuh di tengah cerita bahwa Inggris selalu gagal ketika trofi sudah terlihat.

Dalam psikologi olahraga, kondisi seperti ini dikenal sebagai beban ekspektasi. Tekanan tidak hanya datang dari lawan, tetapi juga dari sejarah yang terus diingat, media yang terus mengulang, dan publik yang terus berharap.

Ketika trofi sudah berada dalam jangkauan, rasa takut kehilangan sering kali lebih besar daripada keberanian untuk meraihnya.

Sebaliknya, Argentina datang dengan memori yang berbeda. Mereka datang sebagai juara dunia. Mereka mengenal tekanan pertandingan besar. Mereka tahu bagaimana bertahan saat tertinggal, bagaimana tetap tenang ketika waktu hampir habis, dan bagaimana menyelesaikan pertandingan ketika kesempatan datang.

Di sinilah letak perbedaannya. Inggris bermain untuk mengakhiri penantian. Argentina bermain untuk melanjutkan tradisi.

Ironisnya, duel melawan Argentina juga membangkitkan ingatan sejarah lain. Hubungan kedua negara tidak pernah sepenuhnya lepas dari bayang-bayang Perang Malvinas tahun 1982 dan pertemuan-pertemuan legendaris di Piala Dunia, terutama pada 1986 ketika Diego Maradona menciptakan "Gol Tangan Tuhan" dan salah satu gol terbaik sepanjang sejarah sepak bola.

Namun kali ini, Argentina bukanlah musuh terbesar Inggris. Musuh terbesar mereka tetap sejarah yang mereka bawa sendiri. Sejarah itu tidak mengenakan seragam biru-putih. Ia hidup dalam ekspektasi.

Dalam kenangan. Dalam keyakinan bahwa setiap kali trofi mulai terlihat, selalu ada sesuatu yang membuat Inggris gagal menggenggamnya. Barangkali itulah ironi terbesar sebuah bangsa yang pernah membangun imperium tempat matahari tak pernah terbenam.

Di sepak bola, matahari itu justru berkali-kali tenggelam tepat ketika cahaya kemenangan mulai menyinari mereka. Karena pada akhirnya, Inggris tidak kalah hanya dari Argentina. Mereka kembali kalah dari sejarah yang belum berhasil mereka taklukkan.

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image