Kesalahan Umum Tasawuf yang Perlu Diluruskan
Agama | 2026-07-17 02:23:23Abdul Hadi tamba.
Kesalahan umum tasawuf yg perlu diluruskan
Pandangan kami Tasawuf ilmu untuk menyucikan jiwa dan memperbaiki akhlak.
Kesalahan umum dalam tasawuf terjadi saat ajarannya menyimpang dari syariat Islam.
Berikut adalah pelurusan penyimpangan tersebut berdasarkan Al-Qur'an, Hadis, dan fatwa ulama.
Kesalahan:
Mengugurkan Kewajiban Syariat (Zindiq).
Sebagian oknum meyakini jika seseorang telah mencapai tingkat makrifat tertentu, maka kewajiban syariat (seperti salat) gugur.
Pandangan kami Tasawuf yang benar justru mewajibkan pengamalan syariat secara ketat.
Syariat dan hakikat tidak bisa dipisahkan.
Dalil Al-Qur'an:
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hijr ayat \(99\):
Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang yakin (kematian).
Dalil Hadis:
Rasulullah SAW tetap rajin beribadah hingga bengkak kakinya.
Saat ditanya, beliau menjawab:
Tidakkah aku suka menjadi hamba yang bersyukur ?
(HR. Bukhari dan Muslim).
Fatwa Ulama:
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa barangsiapa yang menggugurkan kewajiban syariat dengan dalih kondisi batin atau makrifat, maka ia telah melakukan kekufuran yang lebih besar daripada keyahudian dan kennasranian.
Kesalahan :
Meyakini Manusia Menyatu dengan Tuhan (Hulul/Wahdatul Wujud).
Kesalahan ini meyakini bahwa Tuhan bersemayam dalam diri manusia atau manusia adalah bagian dari dzat Allah SWT.
Pandangan kami.
Allah SWT itu Maha Esa, tidak ada yang menyamai-Nya, dan tidak ada yang bersatu dengan makhluk-Nya.
Konsep ini menolak paham panteisme (Tuhan dan alam adalah satu.
Dalil Al-Qur'an :
Surah Al-Ikhlas ayat \(4\):
"Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.
Dalil Hadis :
Nabi bersabda melarang menyamakan Allah dengan makhluk :
Tidak ada satu pun yang lebih pencemburu daripada Allah.
(HR. Bukhari dan Muslim).
Fatwa Ulama :
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Majmu' Fatawa menyatakan bahwa barangsiapa meyakini Allah menyatu dengan makhluk atau wujud alam adalah wujud Allah, maka ia kafir berdasarkan kesepakatan seluruh umat Islam.
Kesalahan :
Beragama Hanya Berlandaskan Perasaan (Kasyf/Dzauq) yang Mengabaikan WahyuPaham ini mengklaim menerima kebenaran langsung dari Tuhan atau mimpi (kasyf), sehingga merasa tidak butuh lagi pada ilmu agama atau dalil.
Pandangan kami :
Segala bentuk pengalaman spiritual atau ilham harus ditimbang dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Jika bertentangan, maka ilham tersebut adalah batil.
Dalil Al-Qur'an :
Surah An-Nahl ayat \(43\):
"Maka bertanyalah kepada
orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
Dalil Hadis
Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara dalam urusan agama kami yang tidak ada asalnya, maka perkara itu tertolak.
(HR. Bukhari dan Muslim).
Fatwa Ulama :
Imam Junaid Al-Baghdadi, tokoh sufi besar, berkata:
"Ilmu kami ini terikat dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Barangsiapa yang tidak membaca Al-Qur’an dan hadis, maka tidak boleh dijadikan teladan dalam ilmu tasawuf ini.
(Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad).
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
