Oase di Tengah Gurun Sahara
Agama | 2026-07-16 16:54:22
"Bunuh saja Musa!, dia tidak pantas untuk hidup!"
Titah seorang raja yang menganggap dirinya penguasa alam semesta.
Fir'aun sangat membenci nama itu, bahkan dia tak segan segan untuk menghabisi semua pengikutnya.
"Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata 'Tuhanku adalah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu?"
Ucap seorang kerabat dekatnya, salah seorang yang paling dihormati dan disegani di istana.
Perkataannya tersirat makna seolah olah "hanya karena mengatakan tentang tuhannya, dia juga tidak memaksa kau untuk meyakininya. Selain itu, dia telah menunjukkan semua bukti mukjizat yang kau minta. Itu sangat tidak perlu untuk membunuhnya."
Kalimat itu tentu saja langsung dicurigai oleh Fir'aun, bagaimana mungkin kata kata itu terucap dari orang kepercayaannya sendiri.
Namun, disisi lain kerabatnya tersebut justru menyambung dengan kalimat
"Jika dia seorang pendusta, maka dialah yang akan menanggung akibat dustanya itu”.
Dalam artian jika Nabi Musa berbohong tentang dakwahnya, maka dialah yang akan menanggung akibat perbuatannya sendiri, dan itu sama sekali tidak membahayakan Fir'aun sedikitpun.
Fir'aun mengira ucapan itu justru menguatkan keyakinannya bahwa Musa hanyalah seorang pendusta dan akan menerima balasan yang sangat buruk.
Tak sampai disitu, dilanjutkanlah kalimatnya
"Tapi jika dia seorang yang benar niscaya sebagian bencana yang diancamkannya padamu akan menimpamu”.
Ia sengaja memilih kalimat yang sulit dibantah. Sebab ia tahu Fir'aun begitu yakin bahwa Musa hanyalah seorang pendusta.
Siapa sangka, kalimat diplomasi kerabatnya itu mampu menahan niat jahat Fir'aun untuk sementara waktu.
Namun, ternyata ada rahasia besar yang disembunyikan oleh kerabat dekatnya tersebut, ketidaksetiannya mulai tercium ketika dia selalu menolak dalam sesi upacara penyembahan dewa-dewa Mesir.
Puncaknya terungkap ketika istrinya ketahuan memuja nama Allah SWT.
"Ternyata kau bodohi aku, Pengkhianat!"
Kemarahan Fir'aun pun berujung pada penangkapan kerabatnya dan keluarga dekatnya tersebut.
Mereka dibawa ke lapangan yang luas dan mengalami penderitaan yang sangat tidak manusiawi.
Namun, ada riwayat mengatakan bahwa ketika tubuhnya mulai disiksa secara tidak wajar, mereka tidak merasakan sakitnya, bahkan diperlihatkan oleh Allah surga yang sangat indah sebagai tempat kembalinya.
Yang paling mengejutkan dari kisah ini bukanlah keberanian Nabi Musa, melainkan keberanian seseorang yang hidup di dalam istana Fir'aun tetapi tidak membiarkan hatinya diperbudak oleh kekuasaan.
Sebab terkadang, membela kebenaran tidak selalu dimulai dari mengalahkan musuh. Kadang, ia dimulai dari keberanian untuk tidak ikut membenarkan kebatilan.
Mungkin hari ini kita tidak hidup di istana Fir'aun. Namun tekanan untuk diam saat melihat kebatilan masih ada di mana-mana.
Kisah ini mengajarkan bahwa keberanian terbesar bukan selalu mengangkat suara paling keras, melainkan tetap berpihak kepada kebenaran ketika semua orang memilih untuk diam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
