Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mahsa Dwi

Alat Ukur Kadar Air: Ketika Data Bertemu Kearifan Petani di Desa Gedangan

Edukasi | 2026-07-16 10:18:53

Selama tidak ada angka pembanding, petani akan selalu berada di posisi yang lebih lemah saat tawar-menawar

Saya tidak sedang mengatakan bahwa persoalan ini sudah selesai hanya karena satu alat ukur kadar air diperkenalkan di Desa Gedangan. Yang ingin saya soroti justru sebaliknya: ada celah yang selama ini dibiarkan terbuka, dan celah itu bukan cuma soal gabah yang berjamur di gudang, melainkan soal siapa yang sebenarnya diuntungkan ketika petani hanya mengandalkan rasa untuk menentukan kadar air hasil panennya.

Selama kegiatan pengabdian di Desa Gedangan, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, saya menyaksikan sendiri bagaimana petani mengukur kadar air gabah, jagung, atau kacang dengan cara dikretek pakai gigi atau dengan cara jikan. Cara ini sudah dipraktikkan turun-temurun, dan saya sama sekali tidak meragukan pengalaman di baliknya. Tapi menurut saya, di titik inilah letak celahnya: ketika hasil panen itu harus dijual, petani masuk ke meja tawar-menawar hanya berbekal firasat, sementara pihak lain di seberang meja tidak selalu punya kepentingan yang sama.

Ini bukan soal menyelesaikan masalah kadar air secara tuntas. ini soal menyadari bahwa selama petani hanya punya satu sumber informasi, yaitu tangan dan lidah sendiri, mereka selalu berada dalam posisi yang bisa dipermainkan, sadar atau tidak sadar, oleh pihak yang punya kepentingan untuk menekan harga.

Celah yang Selama Ini Dibiarkan Terbuka

Tengkulak, dalam banyak kasus, punya kepentingan yang jelas: membeli hasil panen dengan harga serendah mungkin. Salah satu cara paling mudah untuk menekan harga adalah dengan mengklaim bahwa gabah atau jagung masih terlalu basah untuk dihargai penuh. Jika petani tidak punya angka apa pun untuk membantah klaim itu, satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanyalah percaya atau tidak percaya, tanpa bukti yang bisa dipegang.

Di sinilah celahnya. Bukan pada alatnya, bukan juga pada niat tengkulak secara umum, melainkan pada ketimpangan informasi antara kedua pihak. Selama petani tidak punya cara untuk memverifikasi klaim itu sendiri, ruang untuk dipermainkan akan selalu terbuka, entah itu terjadi secara sengaja atau hanya karena kebiasaan tawar-menawar yang timpang.

Kalau Hanya Mengandalkan Cara Lama, Risikonya Harus Diterima

Saya melihat ada dua pilihan yang dihadapi petani, meskipun sering kali mereka tidak menyadarinya sebagai pilihan. Pilihan pertama, tetap sepenuhnya mengandalkan cara konvensional seperti sekarang. Konsekuensinya, petani harus siap menerima risiko bahwa klaim tengkulak soal kadar air tidak bisa dibantah dengan apa pun selain kata-kata. Dalam posisi tawar seperti itu, siapa yang punya alasan untuk menawar lebih rendah biasanya yang menang, bukan siapa yang benar.

Pilihan kedua adalah melakukan semacam double check, yaitu mencocokkan perkiraan berdasarkan pengalaman dengan angka dari alat ukur sebelum hasil panen dibawa ke tempat penjualan. Ini bukan jaminan bahwa penipuan tidak akan pernah terjadi. Tetapi setidaknya, ruang bagi klaim sepihak untuk begitu saja dipercaya menjadi jauh lebih sempit. Ketika petani punya angka sendiri untuk dibandingkan, klaim tengkulak yang tidak sesuai kenyataan akan lebih mudah dipertanyakan, bukan hanya diterima begitu saja.

Bukan Solusi, Hanya Mempersempit Ruang untuk Dipermainkan

Saya ingin menegaskan bahwa memperkenalkan alat ukur kadar air bukan berarti masalah tawar-menawar antara petani dan tengkulak otomatis selesai. Alat ini tidak mengubah niat siapa pun, dan tidak menghapus ketimpangan posisi tawar yang sudah lama ada. Yang bisa dilakukan alat ini hanyalah mengurangi sedikit ruang gerak bagi klaim yang tidak berdasar, dengan cara memberi petani angka pembanding yang sebelumnya tidak mereka miliki.

Bagi saya, itu justru menjadi alasan kenapa langkah kecil seperti ini penting untuk terus didorong, bukan karena akan menghilangkan sepenuhnya praktik curang jika memang ada, tetapi karena mempersempit celah selalu lebih baik daripada membiarkannya tetap terbuka lebar.

Peran Mahasiswa: Menunjukkan Celah, Bukan Menutup Semuanya

Pengalaman ini membuka mata saya bahwa peran mahasiswa dalam program pengabdian semacam ini bukan untuk datang membawa solusi yang menyelesaikan segalanya. Yang bisa kami lakukan adalah menunjukkan kepada petani bahwa ada celah dalam cara mereka selama ini bertransaksi, dan bahwa celah itu bisa dipersempit dengan langkah sederhana seperti mencocokkan angka sebelum tawar-menawar dimulai. Selebihnya, keputusan untuk memakainya secara konsisten ada di tangan petani sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image