Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ardian

Apotek Hidup yang Nyaris Mati Suri

Teknologi | 2026-07-13 16:19:21

Di banyak kampung dan desa di Indonesia, ada satu sudut yang dulu dibangun penuh harapan, tapi belakangan kerap luput dari perhatian: rumah tanaman obat keluarga, atau yang akrab disingkat TOGA. Ia hadir dengan cita-cita sederhana, agar ibu-ibu tak perlu jauh-jauh mencari apotek hanya untuk mengambil jahe, kunyit, atau daun sirih ketika anak demam atau perut kembung. Sayangnya, tidak sedikit TOGA yang bernasib seperti yang kami temui di Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik: wadah tanam yang retak, gulma yang tumbuh liar, dan rimpang yang seharusnya jadi obat justru merana karena air yang datang tak menentu.

Yang menarik, ketika kami menelusuri akar masalahnya bersama warga, jawabannya bukan "warga tidak peduli." Warga RT 5 dan RT 6 Desa Lasem sesungguhnya tahu betul manfaat TOGA. Yang mereka tidak punya adalah waktu. Menyiram tanaman setiap pagi dan sore terdengar sepele, tapi bagi seseorang yang harus berangkat kerja sebelum matahari terbit atau mengurus rumah tangga sepanjang hari, rutinitas kecil itu gampang tergeser oleh hal-hal yang lebih mendesak. Lambat laun, lahan yang dulu dirawat beramai-ramai berubah menjadi sudut yang terlupakan.

Fenomena ini sebetulnya bukan hal baru. Banyak program pemberdayaan masyarakat, dari bank sampah, kebun gizi, sampai rumah tanaman obat, punya nasib serupa: diresmikan dengan meriah, ramai dikunjungi saat awal peluncuran, lalu perlahan padam begitu momentum itu berlalu. Kita sering buru-buru menyimpulkan itu tanda "kurangnya kesadaran masyarakat." Padahal yang sebenarnya terjadi lebih rumit: program semacam itu kerap dirancang di atas asumsi bahwa warga punya waktu luang tak terbatas untuk bergotong royong. Padahal di tengah himpitan ekonomi hari ini, waktu justru menjadi sumber daya paling langka yang dimiliki keluarga.

Dari titik itulah tim pengabdian kepada masyarakat Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mencoba pendekatan yang sedikit berbeda di Desa Lasem. Alih-alih hanya menggelar penyuluhan atau membagikan bibit baru, yang cepat atau lambat akan kembali terbengkalai oleh masalah yang sama, kami memilih menambal celah waktu itu dengan teknologi sederhana. Sebuah mikrokontroler ESP32 berbiaya rendah, yang sudah punya kemampuan WiFi bawaan, kami padukan dengan pompa air kecil menjadi sistem penyiram otomatis yang bekerja tiga kali sehari tanpa perlu disentuh manusia. Jam penyiramannya diselaraskan otomatis lewat jaringan WiFi yang sudah tersedia di lokasi, sehingga tim tidak perlu menambah komponen jam elektronik terpisah. Tidak canggih dan tidak mahal, alat ini justru sengaja dirancang untuk menumpang pada infrastruktur sederhana yang sudah dimiliki warga.

Hasilnya cukup menggembirakan. Dalam waktu relatif singkat, rak-rak polibag yang dulu berantakan kini tertata mengikuti prinsip urban farming, dan yang lebih penting, warga tidak lagi harus meluangkan waktu khusus tiga kali sehari hanya untuk menyiram. Tapi kami sadar betul, alat secanggih apa pun akan kembali rusak dan terbengkalai jika tidak ada yang merawatnya. Karena itu, sebagian besar energi kami justru dicurahkan untuk hal yang tidak selalu terlihat mentereng di laporan: melatih perwakilan warga, yang kemudian menamakan diri sendiri "Kader TOGA," untuk membaca indikator alat, membersihkan pompa dari lumut, dan memahami dasar keselamatan kelistrikan di area yang lembap. Sebuah buku panduan sederhana kami tinggalkan sebagai pegangan, bukan sebagai pelengkap laporan semata, melainkan agar kemandirian itu benar-benar berpindah tangan dari kampus kepada warga.

Pengalaman di Desa Lasem ini, bagi kami, menyimpan pelajaran yang lebih luas daripada sekadar cerita satu kampung. Perguruan tinggi kerap turun ke tengah masyarakat dengan semangat besar, tapi tidak jarang meninggalkan solusi yang rapuh karena bergantung pada sesuatu yang justru paling sulit dijaga warga: kesabaran, waktu luang, dan konsistensi harian di tengah kesibukan masing-masing. Padahal, banyak persoalan di akar rumput sesungguhnya tidak butuh teknologi rumit atau anggaran besar. Yang dibutuhkan hanyalah kejelian melihat titik persis di mana warga "kehabisan waktu," lalu merancang solusi tepat guna yang mengisi celah itu tanpa menambah beban baru di pundak mereka.

Rumah TOGA di Desa Lasem barangkali hanya satu titik kecil di peta pengabdian masyarakat di Indonesia. Namun jika logika sederhana ini, yaitu memindahkan beban rutin ke teknologi murah sembari memastikan warga tetap memegang kendali dan pengetahuannya, mulai diterapkan pula pada kebun gizi, bank sampah, atau posyandu lain yang bernasib serupa, barangkali kita bisa lebih jarang kehilangan aset-aset kecil masyarakat setiap kali momentum seremoni usai. Sebab pada akhirnya, kemandirian kesehatan warga tidak akan pernah selesai hanya dengan satu kali acara tanam bersama. Ia butuh sesuatu yang terus bekerja, bahkan ketika kamera sudah lama pergi.

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, dan anggota Tim Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image