Dapur Menjadi Ruang Belajar Gizi Bersama di Desa Bungah
Eduaksi | 2026-07-15 14:33:22
Di Desa Bungah, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, populasi lanjut usia bukan sekadar angka demografi, melainkan kelompok yang setiap hari bergulat dengan persoalan yang jarang dibicarakan secara terbuka: kecukupan gizi. Selama menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa ini, kami mendapati bahwa sebagian besar lansia masih mengandalkan pola makan seadanya, seperti nasi dengan lauk seadanya tanpa memperhatikan keseimbangan protein, sayur, dan cairan. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak tahu.
Persoalan ini sesungguhnya bukan isu lokal semata. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 mencatat bahwa 20,7 persen lansia usia di atas 65 tahun dan 11,7 persen lansia usia 60 hingga 64 tahun di Indonesia mengalami kekurangan gizi. Kementerian Kesehatan RI juga mengidentifikasi malnutrisi sebagai salah satu dari rangkaian sindrom geriatri yang umum dijumpai, bersanding dengan gangguan mobilitas dan penurunan fungsi kognitif. Angka-angka ini menegaskan bahwa masalah gizi lansia bukan sekadar soal selera makan, melainkan indikator kualitas hidup yang berdampak langsung pada risiko penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, dan osteoporosis.
Berangkat dari kondisi tersebut, kami menggagas program "Masak Bersama, Lansia Bahagia", sebuah pelatihan gizi lansia tangguh yang diselenggarakan pada Sabtu, 11 Juli 2026, dan diikuti oleh sekitar 20 hingga 30 lansia Desa Bungah. Program ini tidak berhenti pada ceramah atau penyuluhan satu arah, melainkan mengajak lansia untuk turun tangan langsung dalam proses memasak. Menu yang dipilih pun bukan menu asing, melainkan hidangan yang akrab dengan lidah masyarakat namun disusun ulang agar memenuhi prinsip gizi seimbang: sup ayam sayuran sebagai sumber protein dan serat, serta ikan kembung goreng siram tumis tahu bayam yang memadukan protein hewani, protein nabati, dan zat besi dalam satu piring.
Pendekatan ini sengaja dipilih karena keterbatasan gizi pada lansia umumnya bukan disebabkan oleh ketiadaan bahan pangan, melainkan oleh minimnya pengetahuan tentang cara mengolah bahan yang sudah ada menjadi hidangan yang bergizi lengkap. Dengan melibatkan lansia secara aktif di dapur, kami berharap pengetahuan yang ditransfer tidak berhenti sebagai teori, tetapi benar-benar terpakai di rumah masing-masing.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi lansia karena menambah wawasan tentang makanan yang bergizi lengkap dan pentingnya pemenuhan gizi pada usia lanjut. Kegiatan ini juga bagus karena menciptakan momen yang bahagia bagi lansia,” kata Bu Fifa, salah satu kader Posyandu Lansia yang mendampingi jalannya pelatihan.
Pernyataan Bu Fifa menyingkap dua persoalan sekaligus yang selama ini kerap luput dari perhatian program kesehatan lansia di tingkat desa: minimnya wawasan gizi dan minimnya ruang kebahagiaan bagi kelompok usia lanjut. Selama ini, banyak program kesehatan lansia berhenti pada pengukuran tekanan darah dan pembagian obat, tanpa menyentuh akar persoalan, yaitu pola makan sehari-hari yang sebetulnya bisa diperbaiki dengan pengetahuan sederhana.
Kalangan geriatri sendiri menegaskan bahwa menjaga asupan gizi pada lansia bukan perkara sepele. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan geriatri dari RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, dalam berbagai forum kesehatan publik kerap menyoroti pentingnya menjaga kebugaran lansia melalui pengaturan pola makan yang tepat, termasuk pembatasan asupan garam dan gula tanpa mengorbankan cita rasa makanan agar nafsu makan lansia tetap terjaga. Prinsip inilah yang kami coba terapkan sederhana di dapur warga Bungah: bukan mengurangi kenikmatan makan, melainkan menata ulang isi piring agar lebih bersahabat dengan tubuh yang menua.
Kami menyadari bahwa satu kali kegiatan masak bersama tidak akan menyelesaikan persoalan gizi lansia secara tuntas. Karena itu, besar harapan kami agar program semacam ini dapat diteruskan oleh kader Posyandu Lansia dan perangkat Desa Bungah setelah masa KKN berakhir, misalnya dengan menjadikannya agenda rutin bulanan yang terintegrasi dengan kegiatan posyandu lansia yang sudah berjalan. Dengan begitu, pengetahuan gizi tidak berhenti sebagai kenangan satu hari, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan yang terus dijaga bersama.
Kami belajar bahwa persoalan gizi lansia sesungguhnya tidak memerlukan solusi yang rumit. Ia memerlukan ruang untuk belajar bersama, dapur untuk berlatih, dan kesediaan untuk mendengarkan kebutuhan kelompok yang selama ini kerap dianggap sudah selesai dengan urusannya sendiri. Dari sepanci sup ayam sayuran dan sepiring ikan kembung goreng siram tumis tahu bayam, kami berharap Desa Bungah dapat menumbuhkan generasi lansia yang bukan hanya sehat, tetapi juga bahagia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
