Mencari Jati Diri, Menyusun Masa Depan: Remaja Gedangan Mempersiapkan Karier
Edukasi | 2026-07-14 14:17:51
Oleh: Bening Nurany Mahasiswa Pengabdian Masyarakat Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Sabtu malam, 11 Juli 2026, balai Desa Gedangan, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, tidak seperti biasanya. Bukan rapat rutin warga atau musyawarah desa yang digelar, 26 remaja duduk berkelompok, sebagian menulis di lembar kertas yang di berikan, sebagian lain berdiskusi kecil sambil sesekali tertawa. Malam itu, pukul 19.00 hingga 21.00, mereka mengikuti pelatihan eksplorasi potensi diri dan perencanaan karier, sebuah kegiatan yang saya inisiasi sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat, dengan pendampingan Salsabila Ratu Kencana Syaharani, S.Psi., M.Psi.
Saya sengaja memilih tema ini bukan tanpa alasan. Selama beberapa minggu tinggal di Gedangan, saya banyak mengobrol dengan remaja setempat, dan satu hal yang terus muncul adalah kebingungan. Bingung mau lanjut kuliah atau kerja. Bingung jurusan apa yang cocok. Bingung apa yang sebenarnya mereka mampu dan mereka mau. Kebingungan semacam ini sebenarnya wajar dialami siapa saja di usia remaja, tapi di desa, persoalan itu sering tidak mendapat ruang untuk dibicarakan secara serius. Tidak banyak yang mengajak mereka duduk dan bertanya, "sebenarnya kamu ini siapa, dan mau jadi apa?"
Dari situ pelatihan ini lahir. Bukan seminar motivasi yang penuh jargon, tapi sesi yang mengajak remaja mengenali diri mereka sendiri lebih dulu, sebelum bicara soal cita-cita dan karier. Dalam sesi yang dipandu Mbak Salsabila, para peserta diajak mengenali minat, kekuatan, dan nilai-nilai pribadi mereka lewat refleksi sederhana, bukan tes psikologi yang rumit, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang memancing mereka berpikir jujur tentang diri sendiri. Banyak dari mereka baru menyadari bahwa yang mereka sukai selama ini, entah itu menggambar, berorganisasi, atau sekadar suka membantu orang lain, sebenarnya bisa jadi bekal arah masa depan.
Setelah sesi eksplorasi diri, pembahasan berlanjut ke perencanaan karier yang lebih konkret. Remaja diajak memetakan pilihan-pilihan yang realistis sesuai kondisi mereka, baik yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi, mengikuti pelatihan vokasi, maupun yang memilih langsung bekerja. Tidak ada penekanan bahwa satu jalur lebih mulia dari yang lain. Justru yang ditekankan adalah bahwa setiap pilihan butuh kesiapan, dan kesiapan itu dimulai dari mengenal diri sendiri lebih dulu.
Yang membuat saya cukup terharu adalah antusiasme mereka. Padahal kegiatan berlangsung malam hari, setelah lelah beraktivitas sepanjang hari, tapi hampir semua peserta bertahan sampai akhir. Ada yang bercerita tentang keinginannya jadi guru, ada yang ingin merantau untuk kuliah, ada juga yang masih ragu tapi mulai berani mengutarakan keraguannya di depan teman-temannya. Bagi saya, itu sudah menjadi capaian tersendiri. Kesiapan karier tidak selalu berarti seseorang sudah punya jawaban pasti, tapi setidaknya sudah berani bertanya dan mulai mencari jawabannya.
Desa sering dianggap jauh dari isu-isu semacam pengembangan karier atau bimbingan konseling. Padahal remaja desa punya kebutuhan yang sama dengan remaja di kota untuk memahami arah hidup mereka. Bedanya, akses terhadap informasi dan pendampingan itu yang masih terbatas. Melalui kegiatan kecil di balai desa malam itu, saya berharap ada percikan yang tumbuh, bahwa remaja Gedangan semakin sadar bahwa masa depan bukan sesuatu yang datang begitu saja, melainkan sesuatu yang bisa dan perlu mereka susun sendiri, sedari sekarang.
Pelatihan semalam tentu bukan solusi tuntas atas segala kebingungan remaja soal karier. Tapi setidaknya, malam itu, di sebuah balai desa yang sederhana, ada langkah kecil yang dimulai: langkah mencari jati diri, sebelum melangkah menyusun masa depan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
