Mengubah Sampah Dapur Menjadi Kompos dari Drum Komposter
Eduaksi | 2026-07-12 10:39:54
Banyak desa di Indonesia yang sama masih membiarkan sisa makanan, kulit sayur, dan daun kering ditumpuk lalu dibakar begitu saja di pekarangan. Sehingga membiarkan asapnya membubung, mencemari udara, dan meninggalkan bekas hitam di tanah. Kita sering menganggap hal ini sebagai persoalan kecil, sekadar rutinitas rumah tangga. Padahal di balik itu semua tersimpan persoalan besar yaitu potensi sumber daya yang terbuang percuma, sekaligus adanya ancaman pencemaran yang terus terakumulasi dari waktu ke waktu.
Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, adalah salah satu bentuk nyata dari persoalan ini. Sebagai desa dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian petani dan aktivitas rumah tangga di sana menghasilkan volume sampah organik yang tidak sedikit. Namun pengelolaannya masih konvensional dengan dibakar atau dibuang di lahan terbuka. Belum ada sistem pengolahan yang terstruktur, dan pengetahuan warga tentang teknologi pengomposan sederhana pun masih minim.
Maka dari itu, pada program pengabdian kepada masyarakat yang digagas oleh dosen Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya bersama empat mahasiswa KKN-nya mencoba memberikan solusi terhadap persoalan tersebut dengan cara yang sederhana, murah, dan bisa ditiru siapa saja yaitu drum komposter.
Ide sederhana dengan menggunakan sebuah drum plastik bekas berkapasitas 120 liter yang diubah menjadi alat pengolah sampah organik. Diberikan Lubang-lubang ventilasi yang dipasang di sisi kanan dan kiri agar oksigen tetap tersuplai, karena proses pengomposan yang merupakan penguraian berbahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi beroksigen. Di bagian bawah, sebuah keran dipasang untuk mengalirkan air lindi, cairan hasil peruraian sampah yang ternyata masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk cair untuk tanaman. Agar proses penguraian berjalan lebih cepat, larutan EM4 (Effective Microorganisms 4) ditambahkan sebagai bioaktivator yang secara sinergis mempercepat dekomposisi sekaligus menekan bau tak sedap yang biasanya menjadi alasan utama orang enggan mengolah sampah organik sendiri. Hasilnya, proses yang secara alami bisa memakan waktu berbulan-bulan, kini bisa dipersingkat menjadi sekitar dua hingga empat minggu.
Namun alat saja tidak cukup. Tim pengusul menyadari bahwa perubahan kebiasaan masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga membutuhkan edukasi yang menyentuh langsung penggeraknya. Karena itu, sasaran program ini dipilih dengan cermat yaitu Ibu-Ibu PKK Desa Lasem, kelompok yang selama ini menjadi ujung tombak pengelolaan rumah tangga dan sering kali menjadi agen perubahan paling efektif di tingkat akar rumput.
program ini juga bukan hanya sekedar alat kompos saja, melainkan sebuah bentuk keberlanjutan. Drum komposter tidak sekadar diserahkan lalu ditinggalkan. kelompok kecil pengelola dari anggota Ibu-Ibu PKK yang berkomitmen merawat dan mengoperasikan alat secara mandiri. Dokumentasi kegiatan turut diproduksi menjadi video pendek untuk media sosial, sehingga manfaatnya bisa menjangkau masyarakat di luar Desa Lasemsebuah langkah kecil namun strategis untuk mendorong replikasi di tempat lain.
Penulis merupakan mahasiswa peserta KKN-R29 Sub kelompok 3 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan Muchammad Rizal, S.Psi., M.Psi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
