Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Maulana Malik Ibrahim

Urgensi Pengajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi

Sastra | 2026-07-10 11:37:39

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa. Penguasaan bahasa asing memang semakin penting untuk menghadapi persaingan global, tetapi hal tersebut tidak boleh menggeser peran Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa negara, sekaligus bahasa ilmu pengetahuan. Sayangnya, masih banyak mahasiswa yang menganggap mata kuliah Bahasa Indonesia hanya sebagai pelengkap kurikulum karena merasa telah mempelajarinya sejak sekolah. Pandangan tersebut perlu diluruskan. Pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi justru memiliki urgensi yang besar dalam membentuk kemampuan berpikir kritis, komunikasi ilmiah, serta karakter kebangsaan mahasiswa.

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga identitas suatu bangsa. Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, Bahasa Indonesia memiliki kedudukan sebagai bahasa resmi negara yang digunakan dalam pendidikan, pemerintahan, dan berbagai aktivitas resmi lainnya. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa mahasiswa mampu menggunakan Bahasa Indonesia secara baik dan benar, terutama dalam konteks akademik. Kemampuan tersebut menjadi modal penting bagi mahasiswa sebagai calon sarjana, peneliti, maupun pemimpin di masa depan.

Salah satu alasan utama pentingnya pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi adalah untuk meningkatkan kualitas literasi akademik mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa yang masih mengalami kesulitan dalam menyusun karya ilmiah, mulai dari penggunaan ejaan, penyusunan kalimat efektif, pengembangan paragraf, hingga penyajian argumentasi yang logis. Padahal, hampir seluruh aktivitas akademik di perguruan tinggi, seperti penyusunan makalah, laporan penelitian, proposal, artikel ilmiah, maupun skripsi, membutuhkan kemampuan berbahasa yang baik. Pengajaran Bahasa Indonesia bukan hanya mengajarkan tata bahasa, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir secara sistematis karena bahasa dan pola pikir merupakan dua hal yang saling berkaitan.

Selain itu, pembelajaran Bahasa Indonesia juga berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Ketika mahasiswa belajar menyusun argumen, mengkritisi suatu persoalan, serta menyampaikan gagasan secara runtut dan berbasis data, mereka sebenarnya sedang melatih kemampuan bernalar. Kemampuan tersebut menjadi salah satu kompetensi utama yang dibutuhkan dalam dunia akademik maupun dunia kerja. Seorang lulusan perguruan tinggi tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan di bidangnya, tetapi juga mampu mengomunikasikan ide secara jelas, objektif, dan meyakinkan. Oleh sebab itu, mata kuliah Bahasa Indonesia seharusnya dipandang sebagai sarana pengembangan keterampilan berpikir, bukan sekadar mata kuliah kebahasaan.

Di sisi lain, perkembangan media sosial membawa tantangan tersendiri terhadap penggunaan Bahasa Indonesia. Fenomena penggunaan bahasa gaul, singkatan yang berlebihan, hingga pencampuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing semakin sering ditemukan dalam komunikasi sehari-hari. Meskipun penggunaan ragam bahasa tersebut merupakan bagian dari dinamika bahasa, kebiasaan tersebut terkadang terbawa ke dalam penulisan akademik sehingga menurunkan kualitas karya ilmiah mahasiswa. Pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi menjadi penting untuk menanamkan kesadaran bahwa setiap konteks komunikasi memiliki ragam bahasa yang berbeda. Mahasiswa perlu memahami kapan mereka dapat menggunakan bahasa informal dan kapan mereka harus menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah.

Urgensi pengajaran Bahasa Indonesia juga berkaitan dengan upaya menjaga identitas nasional di tengah pengaruh globalisasi. Penguasaan bahasa asing memang penting untuk membuka akses terhadap ilmu pengetahuan dan kerja sama internasional. Namun, kemampuan tersebut tidak boleh membuat generasi muda kehilangan kebanggaan terhadap bahasa sendiri. Negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan Prancis tetap menjadikan bahasa nasional sebagai bahasa utama dalam pendidikan tinggi tanpa mengabaikan pembelajaran bahasa asing. Indonesia juga perlu menempatkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan yang mampu mengikuti perkembangan zaman melalui pengayaan kosakata, penyusunan istilah ilmiah, serta peningkatan kualitas publikasi akademik.

Namun demikian, efektivitas pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah metode pembelajaran yang terkadang terlalu berorientasi pada teori kebahasaan sehingga kurang menarik bagi mahasiswa. Pembelajaran akan lebih bermakna apabila dikaitkan dengan kebutuhan nyata mahasiswa, misalnya melalui latihan menulis artikel ilmiah, opini, esai, proposal penelitian, hingga presentasi akademik. Dengan demikian, mahasiswa dapat merasakan manfaat langsung dari materi yang dipelajari. Di samping itu, pemanfaatan teknologi digital juga perlu dioptimalkan, seperti penggunaan aplikasi pengecekan ejaan, perangkat lunak manajemen referensi, maupun platform pembelajaran daring untuk meningkatkan kemampuan menulis.

Perguruan tinggi juga perlu menanamkan pemahaman bahwa kemampuan berbahasa merupakan bagian dari kompetensi profesional. Di dunia kerja, kemampuan menyusun laporan, membuat surat resmi, menyampaikan presentasi, maupun berkomunikasi dengan berbagai pihak menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan. Tidak sedikit perusahaan maupun instansi pemerintah yang menilai kemampuan komunikasi sebagai salah satu indikator kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya bermanfaat selama masa perkuliahan, tetapi juga menjadi bekal penting dalam kehidupan profesional mahasiswa setelah lulus.

Pada akhirnya, pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi bukan sekadar memenuhi kewajiban kurikulum nasional, melainkan merupakan investasi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia. Mahasiswa yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik akan lebih mudah menyampaikan gagasan, menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas, berpikir secara kritis, serta berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Di tengah perkembangan dunia yang semakin kompetitif, kemampuan tersebut menjadi modal yang tidak kalah penting dibandingkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan demikian, urgensi pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi tidak dapat dipandang sebelah mata. Mata kuliah ini memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi akademik, membentuk kemampuan berpikir kritis, memperkuat identitas nasional, serta mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan dunia profesional. Oleh karena itu, seluruh pihak, baik pemerintah, perguruan tinggi, dosen, maupun mahasiswa, perlu bersama-sama meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia agar benar-benar mampu melahirkan lulusan yang cakap berbahasa, unggul secara intelektual, dan tetap menjunjung tinggi jati diri bangsa Indonesia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image