Inovasi Sulap Sampah Organik Menjadi Telur dan Daging
Teknologi | 2026-07-09 16:12:41
INFO - Pemerintah Kota Bandung mendukung inovasi Bersemi Farm karya dosen Institut Teknologi Bandung Linus Pasasa di RW 02 Kelurahan Pasirlayung untuk mengolah sampah organik menjadi sumber pangan bergizi berupa telur, ayam, ikan, dan entok melalui sistem peternakan terpadu berbasis maggot BSF. Inovasi tersebut hadir di tengah permasalahan sampah Kota Bandung yang terus berulang dan membutuhkan solusi berbasis masyarakat serta teknologi sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan permukiman.
Linus Pasasa mengatakan, 'Saya sebagai warga Bandung merasa prihatin melihat persoalan sampah, dan dari situ lahir Bersemi Farm dari sampah menjadi gizi' sebagai dasar pengembangan inovasi tersebut.
Konsep Bersemi Farm mengintegrasikan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan budidaya maggot Black Soldier Fly yang mampu mengurai limbah hanya dalam waktu sekitar 48 jam. Sampah dapur berupa sisa sayuran dan kulit buah dimanfaatkan sebagai pakan maggot, sedangkan hasil maggot digunakan kembali sebagai pakan ayam kampung, ikan, dan entok.
Sistem tersebut menciptakan siklus ekonomi sirkular tanpa limbah karena seluruh hasil pengolahan kembali dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan masyarakat.
Berbeda dengan komposter yang membutuhkan waktu hingga tiga bulan, sistem maggot ini mampu mempercepat penguraian sampah organik secara signifikan.
Apartemen Ayam Maggot dirancang secara vertikal untuk menyesuaikan keterbatasan lahan perkotaan dengan kandang bertingkat dan budidaya maggot di bagian bawah.
Kotoran ayam juga dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi tambahan bagi maggot sehingga sistem berjalan secara berkelanjutan.
Teknologi ini bahkan dilengkapi sistem panen telur otomatis yang mengalirkan telur ayam ke wadah penampungan agar tidak pecah saat dikumpulkan.
Saat ini fasilitas Bersemi Farm mampu mengolah hingga 300 kilogram sampah organik per hari, sementara produksi sampah warga RW 02 baru mencapai 50 hingga 75 kilogram per hari.
Jumlah tersebut masih berada di bawah target Pemerintah Kota Bandung yang menetapkan pengolahan sampah organik sebesar 25 kilogram per RW setiap hari.
Karena kapasitas yang masih tersedia, Linus membuka peluang bagi wilayah lain di Kota Bandung untuk memanfaatkan fasilitas pengolahan sampah tersebut.
"Kami sengaja membuat kapasitas besar, sehingga jika ada wilayah lain yang belum memiliki pengolahan sampah organik, sampahnya bisa dibawa ke sini dan tidak lagi berakhir di TPA," katanya.
Program ini tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga kolaborasi antara Institut Teknologi Bandung, Pemerintah Kota Bandung, Kelurahan Pasirlayung, Dinas Lingkungan Hidup, Tim Gasla, Bank Sampah Bersemi 02, PKK, serta masyarakat yang disiplin memilah sampah dari rumah.
Sampah organik diproses menjadi pakan maggot, sedangkan sampah anorganik dipilah melalui bank sampah sehingga residu yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir menjadi sangat minim.
Keberhasilan Bersemi Farm mulai menarik perhatian berbagai pihak dan menjadi model percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Bandung.
Sejumlah wilayah seperti Bandung Wetan, Lebak Siliwangi, Tamansari, dan Cipadung mulai mengadopsi konsep serupa untuk mengurangi beban sampah perkotaan.
Bahkan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman telah melakukan kunjungan untuk mempelajari model pengelolaan sampah berbasis peternakan terpadu tersebut.
Linus menegaskan tujuan utama inovasi ini adalah membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga agar tidak bergantung pada Tempat Pembuangan Akhir.
"Kami berharap ide ini bisa diadopsi di seluruh Indonesia, karena sampah organik seharusnya selesai di tingkat lingkungan dan berubah menjadi sumber pangan serta ekonomi," ujarnya.
Ketua RW 02 Kelurahan Pasirlayung Rahayu Wijayanti mengatakan perubahan perilaku warga dimulai sejak 2023 melalui edukasi pemilahan sampah menggunakan komposter sederhana.
Namun perubahan signifikan terjadi setelah hadirnya Program Gasla pada awal 2026 yang memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat di wilayah tersebut.
Warga kini terbiasa memilah sampah organik menjadi dua kategori, yaitu sisa makanan untuk pakan ayam dan limbah dapur untuk pakan maggot.
"Alhamdulillah masyarakat mulai terbiasa memilah sampah, bahkan saya sendiri ikut belajar mengolah sampah agar bisa memberikan manfaat," ujar Rahayu.
Inovasi ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan dalam mengurangi beban sampah Kota Bandung sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat berbasis ekonomi sirkular.(Sumber Diskominfo Kota Bandung)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
