Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Flunatiaa

Pakai AI, tapi Kok Malah Makin Malas?

Teknologi | 2026-07-08 22:50:32
(Suasana pemaparan materi di dalam aula / Foto: Dokumentasi Pribadi)

Kemarin saya sempat ngobrol dengan beberapa teman setelah selesai kelas di kampus Universitas Pamulang. Topik yang kami bahas lumayan menggelitik: hampir semua tugas kuliah sekarang beres dalam hitungan menit berkat bantuan berbagai aplikasi pintar. Tapi di balik kemudahan itu, ada keresahan yang muncul: apakah kita memanfaatkan teknologi ini untuk berkembang, atau justru menjadikannya alasan untuk berhenti berpikir?

Sebagai mahasiswa, kita hidup di era di mana semua jawaban atas tugas kuliah bisa didapatkan hanya dengan sekali klik. Fenomena ini membuat kita merasa seperti orang paling pintar sedunia. Kita bisa bikin esai panjang, menyusun rencana bisnis, hingga membuat kode program tanpa perlu memeras keringat di depan tumpukan buku perpustakaan.

Kontras banget, kan? Di satu sisi kita merasa keren karena sudah melek digital, tapi di sisi lain, logika dan daya kritis kita perlahan mulai tumpul karena terlalu sering disuapi.

Kenyataannya, kehadiran teknologi AI di lingkungan akademik bak pisau bermata dua. Kalau kita cuma sekadar salin-tempel mentah-mentah apa yang dihasilkan oleh mesin, kita sebenarnya sedang membohongi diri sendiri. Industri di luar sana tidak butuh robot bernyawa yang cuma jago kasih perintah ke aplikasi. Yang mereka cari adalah manusia yang punya insting pemecahan masalah yang kuat—sesuatu yang tidak dimiliki oleh algoritma secanggih apa pun.

Di sinilah sebetulnya kita harus mulai sadar diri. Menjadikan teknologi AI sebagai asisten untuk belajar itu sah-sah saja dan justru sangat bagus. Kita bisa menggunakannya buat mencari referensi baru, membedah teori yang susah dipahami, atau mencari ide segar. Tapi ingat, kendali utama tetap harus ada di kepala kita sendiri, bukan pasrah seratus persen pada hasil ketikan layar.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang gagap saat diminta menjelaskan isi tugas kita sendiri di depan dosen atau dunia kerja nanti. Kemampuan berpikir analitis dan empati manusia adalah aset paling mahal yang gak bisa di-coding oleh programmer mana pun. Teknologi harusnya bikin kita makin produktif untuk bikin inovasi baru, bukan malah bikin kita malas membaca dan malas menganalisis masalah.

Lewat refleksi sederhana ini, yuk kita tantang diri kita lagi. Mulai besok, jangan langsung telan bulat-bulat hasil instan dari aplikasi pintar itu. Tantangan terbesar kita sekarang adalah gimana caranya biar teknologi AI ini bisa bikin otak kita makin cerdas dan kritis, bukan malah bikin kita malas dan terjebak di zona nyaman yang semu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image