Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Aqilah Andien Rizqi Amalia

Kecemasan Generasi Muda dalam Mencari Makna Hidup Ditengah Ketidakpastian Masa Depan

Trend | 2026-07-07 19:46:37

Pada saat ini banyak sekali remaja atau generasi muda yang bingung mencari arah hidupnya sendiri. Kemajuan teknologi, persaingan dunia kerja, serta tuntutan untuk

mencapai berbagai pencapaian pada usia muda membuat banyak individu merasa harus

segera menemukan arah hidup. Apalagi di zaman modern seperti sekarang, media sosial

menjadi tolak ukur seberapa jauh pencapaian seseorang, seperti mendapat jabatan

pekerjaan yang tinggi atau pendapatan yang diatas rata-rata umum (Mahmud, 2024).

Akibatnya, banyak generasi muda yang merasa tertinggal ketika kenyataan hidup tidak

sesuai dengan ekspektasi mereka.

Fenomena ini dikenal dengan sebutan “Quarter-life crisis”, yaitu kondisi dimana

seseorang merasakan kebingungan, kecemasan, keraguan terhadap masa depan. Dalam

fase ini, seseorang mulai mempertanyakan pilihan hidup, identitas, tujuan, sampai makna

kehidupan yang sedang dijalani (Handayani & Wibowo, 2026). Fase quarter-life crisis

banyak dialami pada generasi muda, terutama pada kisaran usia 20-30 tahun, atau mereka

yang sedang berada pada masa transisi dari dunia Pendidikan menuju dunia kerja.

Selain dihadapkan pada ketidakpastian karier dan tuntutan untuk mencapai

kesuksesan di usia muda, sebagian generasi muda juga menghadapi fenomena generasi

sandwich. Istilah ini merujuk pada seseorang yang harus memenuhi kebutuhan hidupnya

sendiri sekaligus menanggung beban ekonomi orang tua dan juga anggota keluarga

lainnya. Kondisi tersebut membuat banyak anak muda memikul tanggung jawab yang

lebih besar sejak usia produktif

Tekanan sebagai generasi sandwich sering kali menimbulkan dilema. Bagi

generasi sandwich, pengalaman absurd bahkan terasa lebih kompleks. Mereka memiliki

keinginan untuk mengembangkan diri, mengejar impian, dan menikmati hasil kerja

kerasnya sendiri. Namun, pada saat yang sama, mereka juga memikul tanggung jawab

terhadap keluarga. Tidak jarang mereka harus mengorbankan cita-cita pribadi demi

memenuhi kebutuhan orang tua atau saudara. Dilema tersebut menciptakan konflik batin

yang mendalam. Mereka ingin menjalani hidup sesuai impian, tetapi realitas memaksa

mereka memilih jalan yang berbeda. Benturan antara harapan pribadi dan tuntutan

kehidupan inilah yang menunjukkan bentuk nyata dari absurditas sebagaimana dijelaskan

oleh Camus.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kecemasan generasi muda tidak hanya

berasal dari faktor psikologis, tetapi juga dipengaruhi oleh tekanan sosial dan ekonomi.

Mereka tidak hanya dituntut untuk menjadi pribadi yang sukses, tetapi juga diharapkan

mampu menjadi penopang keluarga. Harapan yang begitu besar sering kali tidak

sebanding dengan kenyataan yang di hadapi, seperti sulitnya memperoleh pekerjaan yang

layak, tingginya biaya hidup, persaingan kerja yang semakin ketat, serta kondisi ekonomi

yang tidak menentu. Akibatnya, banyak generasi muda merasa telah bekerja keras, tetapi

hasil yang diperoleh belum mampu memenuhi harapan diri sendiri maupun keluarga.

Dalam perspektif Albert Camus, keadaan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk

absurditas, yaitu pertentangan antara keinginan manusia untuk memperoleh makna,

kepastian, dan arah hidup dengan kenyataan dunia yang tidak selalu memberikan jawaban

jelas. Camus menjelaskan bahwa manusia kerap merindukan keteraturan dan kebenaran

universal, tetapi realitas justru ditandai oleh ketidakpastian dan kebisuan. Karena itu,

kecemasan generasi muda dalam menghadapi masa depan dapat dibaca sebagai

pengalaman absurd yang lahir dari benturan antara harapan dan realitas.

Meskipun demikian, Camus tidak memandang absurditas sebagai akhir dari

kehidupan. Ia menolak anggapan bahwa manusia harus menyerah ketika menyadari hidup

penuh dengan ketidakpastian. Sebaliknya, Camus mau menekankan bahwa

pemberontakan adalah sikap manusia yang alami dan mencerminkan dorongan untuk

menolak penindasan dan memperjuangkan kebebasan atau hak dalam dirinya (Meicen,

2023). Camus menjelaskan bahwa setelah manusia menyadari hidup itu absurd, ada tiga

kemungkinan respons: bunuh diri, lompatan iman (philosophical suicide), atau revolt.

Revolt, adalah keberanian untuk terus hidup, bekerja, dan berjuang meskipun mengetahui

bahwa kehidupan tidak selalu memberikan jawaban yang pasti. Dalam konteks generasi

muda, sikap tersebut dapat dimaknai sebagai keberanian untuk tetap membangun masa

depan, mengejar cita-cita, serta menjalankan tanggung jawab kepada keluarga tanpa

kehilangan kesadaran bahwa setiap individu memiliki perjalanan hidup yang berbeda.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image