Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M. Ricky Adi Saputra

Fomo, Ketika Takut Ketinggalan Membuat Kita Sulit Menikmati Hidup

Gaya Hidup | 2026-08-23 11:56:26

 

Sebuah notifikasi masuk. Teman sedang liburan. Orang lain baru membeli ponsel terbaru. Teman seangkatan mengunggah pencapaian akademik. Ada yang sedang nongkrong bersama kelompok pertemanan tanpa mengajak kita. Tidak lama kemudian muncul pikiran sederhana: “Kok gue nggak ikut?”

Sumber: Pixabay

Perasaan seperti itu semakin mudah muncul ketika kehidupan orang lain dapat dilihat hampir setiap saat melalui media sosial. Di Indonesia, DataReportal memperkirakan terdapat 143 juta identitas pengguna media sosial pada Januari 2025, setara dengan sekitar 50,2 persen populasi. Angka tersebut memang bukan jumlah individu unik karena satu orang dapat memiliki beberapa akun, tetapi tetap menunjukkan besarnya ruang digital dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam situasi tersebut, seseorang dapat mengalami Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan akan tertinggal dari pengalaman, informasi, pergaulan, atau kesempatan yang sedang dinikmati orang lain.

FOMO bukan sekadar kebiasaan membuka media sosial terlalu sering. Di baliknya terdapat kebutuhan manusia untuk merasa diterima, terhubung, dan menjadi bagian dari kelompok.

Masalah muncul ketika rasa takut tertinggal membuat seseorang terus memeriksa ponsel, mengikuti semua tren, memaksakan diri menghadiri setiap kegiatan, bahkan merasa hidupnya kurang hanya karena melihat kehidupan orang lain.

FOMO Bukan Sekadar Takut Ketinggalan Tren

Istilah FOMO berkaitan dengan kondisi ketika seseorang merasa bahwa orang lain sedang mengalami sesuatu yang menyenangkan atau berharga sementara dirinya tidak ikut mengalaminya.

Dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2013, Andrew Przybylski dan rekan-rekannya mengembangkan konsep FOMO sebagai kekhawatiran bahwa orang lain mungkin sedang memperoleh pengalaman yang menyenangkan ketika seseorang tidak hadir. Konsep tersebut juga berkaitan dengan keinginan untuk terus terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain.

Artinya, FOMO memiliki dimensi sosial yang kuat.

Seseorang tidak selalu ingin membeli barang terbaru karena benar-benar membutuhkannya. Ia mungkin menginginkannya karena melihat hampir semua teman menggunakan barang tersebut.

Mahasiswa tidak selalu ingin mengikuti sebuah acara karena tertarik pada acaranya. Bisa saja ia takut kehilangan kesempatan untuk berkumpul dengan teman dan kemudian merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya.

Begitu pula seseorang yang terus membuka media sosial. Ia mungkin sebenarnya tidak memiliki tujuan tertentu. Ia hanya takut ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuannya.

Penelitian sistematis dan meta-analisis terhadap 85 studi dengan 86 ukuran efek dan lebih dari 55 ribu peserta menemukan adanya hubungan antara FOMO dan penggunaan internet, meskipun kekuatan hubungan tersebut berbeda-beda di setiap populasi. Penelitian tersebut juga menekankan bahwa hubungan FOMO dan penggunaan internet tidak sesederhana hubungan sebab-akibat tunggal.

Karena itu, FOMO sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai gangguan psikologis. FOMO lebih tepat dipahami sebagai fenomena psikologis dan sosial yang dapat memengaruhi perilaku seseorang, terutama dalam lingkungan yang sangat terhubung secara digital.

Media Sosial Membuat FOMO Semakin Mudah Muncul

Salah satu alasan FOMO semakin sering dibicarakan adalah perubahan cara manusia memperoleh informasi.

Dahulu, seseorang mungkin mengetahui kegiatan teman setelah bertemu langsung atau mendapat cerita beberapa hari kemudian. Sekarang, seseorang dapat mengetahui aktivitas orang lain dalam hitungan detik.

Teman sedang makan di restoran.

Teman sedang berlibur.

Teman mendapatkan penghargaan.

Teman menghadiri konser.

Teman membeli barang baru.

Semua dapat muncul di layar dalam waktu yang hampir bersamaan.

Masalahnya, media sosial tidak menampilkan kehidupan seseorang secara utuh. Pengguna biasanya memilih momen tertentu untuk dibagikan. Akibatnya, seseorang dapat membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan potongan kehidupan terbaik orang lain.

Inilah salah satu jebakan FOMO.

Kita melihat teman tersenyum di tempat wisata, tetapi tidak melihat masalah yang sedang mereka hadapi. Kita melihat seseorang mendapatkan pencapaian, tetapi tidak mengetahui berapa lama proses yang mereka jalani. Kita melihat seseorang membeli barang mahal, tetapi tidak mengetahui kondisi keuangan di balik pembelian tersebut.

Perbandingan tersebut dapat menghasilkan kesimpulan yang tidak adil terhadap diri sendiri.

“Orang lain hidupnya lebih menarik.”

“Teman-teman saya lebih sukses.”

“Saya ketinggalan.”

Padahal, informasi yang digunakan untuk membuat kesimpulan tersebut sangat terbatas.

Kajian ilmiah yang terbit di PLOS ONE pada 2024 meninjau 106 artikel mengenai hubungan FOMO, penggunaan teknologi digital, dan kesejahteraan psikologis. Para peneliti menemukan bahwa literatur mengenai FOMO masih memiliki berbagai perbedaan konseptual dan belum memungkinkan kesimpulan sederhana bahwa FOMO selalu menyebabkan rendahnya kesejahteraan psikologis.

Hal ini penting karena pembahasan FOMO seharusnya tidak berubah menjadi ketakutan terhadap media sosial itu sendiri.

Persoalannya bukan sekadar berapa lama seseorang menggunakan media sosial, tetapi juga bagaimana ia menggunakan dan memaknai apa yang dilihatnya.

Ketika FOMO Mulai Mengendalikan Kehidupan

FOMO menjadi persoalan ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk menentukan pilihan berdasarkan kebutuhannya sendiri.

Misalnya, seseorang sebenarnya ingin beristirahat di rumah. Namun, setelah melihat teman-temannya berkumpul, ia merasa harus ikut. Bukan karena ingin bertemu, melainkan karena takut tidak dianggap bagian dari kelompok.

Contoh lain terjadi dalam konsumsi.

Sebuah tren baru muncul. Banyak orang membelinya. Seseorang sebenarnya tidak membutuhkan produk tersebut, tetapi merasa harus memilikinya agar tidak terlihat ketinggalan.

FOMO juga dapat muncul dalam pendidikan dan karier.

Melihat teman mengikuti banyak organisasi, kursus, seminar, magang, atau sertifikasi dapat membuat seseorang merasa hidupnya tidak produktif. Akhirnya, ia mengambil terlalu banyak kegiatan sekaligus tanpa mempertimbangkan kemampuan dan prioritas.

Jika berlangsung terus-menerus, pola tersebut dapat melelahkan.

Penelitian meta-analisis terhadap 172 artikel dan lebih dari 252 ribu peserta dari 28 negara menemukan hubungan positif antara penggunaan jejaring sosial bermasalah dan FOMO, dengan korelasi FOMO sebesar 0,496 dalam analisis tersebut. Namun, hubungan seperti ini tetap perlu dipahami sebagai korelasi, bukan bukti bahwa satu faktor secara otomatis menyebabkan faktor lainnya.

FOMO juga dapat memengaruhi hubungan tatap muka. Meta-analisis mengenai phubbing—kebiasaan mengabaikan orang yang sedang diajak berbicara karena lebih memperhatikan ponsel—menemukan hubungan positif yang cukup kuat dengan FOMO. Studi tersebut menganalisis 27 penelitian yang melibatkan lebih dari 20 ribu peserta.

Ironisnya, seseorang dapat menjadi sangat takut kehilangan hubungan sosial di dunia digital sampai akhirnya justru mengabaikan orang yang sedang berada tepat di depannya.

Lalu bagaimana mengatasinya?

Langkah pertama adalah menyadari bahwa tidak semua hal harus diikuti.

Tidak menghadiri semua acara bukan berarti kehilangan teman. Tidak membeli semua barang yang sedang tren bukan berarti tertinggal. Tidak mengetahui setiap berita atau unggahan bukan berarti kehidupan kita berhenti.

Kita juga perlu membatasi kebiasaan memeriksa media sosial tanpa tujuan. Matikan notifikasi yang tidak penting, tentukan waktu tertentu untuk membuka media sosial, dan hindari menjadikan unggahan orang lain sebagai ukuran keberhasilan pribadi.

Yang paling penting adalah menentukan prioritas berdasarkan kehidupan nyata.

Pertanyaan sederhana dapat membantu:

“Saya melakukan ini karena memang menginginkannya atau karena takut dianggap tertinggal?”

Jika jawabannya adalah yang kedua, mungkin keputusan tersebut perlu dipikirkan kembali.

Penutup

FOMO muncul dari sesuatu yang sangat manusiawi: keinginan untuk diterima, terhubung, dan tidak merasa sendirian.

Dalam kadar tertentu, rasa takut tertinggal bahkan dapat mendorong seseorang untuk mencari informasi, mengikuti kegiatan positif, atau menjaga hubungan dengan orang lain. Namun, FOMO menjadi masalah ketika keputusan hidup lebih banyak ditentukan oleh apa yang dilakukan orang lain daripada apa yang benar-benar dibutuhkan diri sendiri.

Media sosial membuat perbandingan tersebut semakin mudah. Kita dapat melihat ratusan kehidupan dalam satu hari, sementara kita hanya menjalani satu kehidupan sendiri.

Karena itu, kemampuan yang semakin penting bukanlah mengetahui semua hal, melainkan mengetahui hal apa yang memang layak kita pedulikan.

Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua undangan harus diterima. Tidak semua pencapaian orang lain harus menjadi alasan untuk merasa gagal.

Sebab hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling cepat mengetahui, memiliki, atau mengalami sesuatu.

Terkadang, merasa cukup dan berani melewatkan sesuatu justru merupakan bentuk kebebasan.

Referensi

  1. Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior.
  2. Akbari, M., Seydavi, M., Palmieri, S., Mansueto, G., Caselli, G., & Spada, M. M. (2021). Fear of missing out (FoMO) and internet use: A comprehensive systematic review and meta-analysis. Journal of Behavioral Addictions.
  3. Alt, D. (2015). College students' academic motivation, media engagement and fear of missing out. Computers in Human Behavior.
  4. Elhai, J. D., Levine, J. C., Dvorak, R. D., & Hall, B. J. (2016). Fear of missing out, need for touch, anxiety and depression are related to problematic smartphone use. Computers in Human Behavior.
  5. Barry, C. T., & Wong, M. Y. (2020). Fear of missing out (FoMO): A generational phenomenon or a cultural response? Journal of Social and Personal Relationships.
  6. Groenestein, E., et al. (2024). The relationship between fear of missing out, digital technology use, and psychological well-being. PLOS ONE.
  7. Akbari, M., et al. (2020). Fear of missing out (FOMO): Overview, theoretical underpinnings, and literature review on relations with severity of negative affectivity and problematic technology use. Journal of Affective Disorders Reports.
  8. DataReportal. Digital 2025: Indonesia.
  9. Steele, R. G., et al. (2023). Examining the Association Between Digital Stress Components and Psychological Wellbeing: A Meta-Analysis.
  10. Meta-analisis mengenai penggunaan jejaring sosial bermasalah dan kecemasan, termasuk FOMO, dengan 252.337 peserta dari 28 negara.
  11. Meta-analisis mengenai hubungan phubbing dan FOMO yang mencakup 27 studi dan 20.415 peserta.
  12. Kılınçel, Ş., et al. (2025). Social Media Addiction, Loneliness, and Fear of Missing Out: A Meta-Analysis. Psychiatry and Clinical Psychopharmacology.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image