Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hanakireina Desriantoro

Gaya Hidup Ramah Lingkungan di Kalangan Generasi Z

Info Terkini | 2026-07-06 21:47:50

Penulis: Hanakireina Desriantoro | Mahasiswa jurusan S1 - Kimia Universitas Airlangga | Email: hanakireina.desriantoro-2025@fst.unair.ac.id

Belakangan ini, Generasi Z kerap menjadi sorotan publik karena dianggap sebagai kelompok yang lekat dengan gaya hidup ramah lingkungan atau eco-friendly. Generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini tumbuh di tengah gempuran informasi tentang krisis iklim, bencana alam, dan kerusakan lingkungan yang semakin nyata. Tak heran jika kesadaran mereka terhadap isu lingkungan disebut lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, sejauh mana kepedulian ini benar-benar diterjemahkan ke dalam tindakan sehari-hari?

credit: Kodmy via Pinterest" />
credit: Kodmy via Pinterest

1. Wajah Gaya Hidup Hijau Generasi Z

1.1. Mengurangi Plastik Sekali Pakai

Salah satu gaya hidup yang paling terlihat di kalangan Gen Z adalah kebiasaan membawa tumbler dan wadah makanan pribadi. Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan gerakan nyata yang menunjukkan kesadaran akan bahaya limbah plastik. Di banyak kampus, mahasiswa Gen Z didukung oleh kebijakan kampus yang melarang botol plastik sekali pakai dan menyediakan fasilitas isi ulang air minum (Antara, 2025a).

1.2. Mendukung Produk Lokal dan UMKM

Gen Z menunjukkan kepedulian pada ekonomi masyarakat dengan memilih membeli dan menggunakan produk buatan lokal. Langkah sederhana ini tidak hanya memperkuat UMKM tetapi juga mengurangi jejak karbon dari rantai pasok yang panjang. Mereka juga mulai kritis menanyakan asal-usul produk yang mereka konsumsi—termasuk kopi yang mereka minum—apakah ramah lingkungan atau tidak (Kompas, 2025c).

1.3. Urban Farming dan Pola Makan Berkelanjutan

Berkebun di area terbatas seperti balkon atau halaman kecil kini menjadi tren di kalangan Gen Z. Menanam cabai dalam pot atau sayuran dengan botol bekas bukan hanya memberikan kepuasan tersendiri, tetapi juga menyediakan bahan pangan segar untuk kebutuhan sehari-hari (Antara, 2025a). Selain itu, kesadaran menjaga pola makan sehat juga mendorong mereka mengurangi konsumsi daging dan produk hewani, sekaligus mendukung pertanian lokal dan pilihan pangan yang lebih berkelanjutan.

1.4. Transportasi Ramah Lingkungan

Untuk mendukung kualitas udara yang lebih baik, Gen Z cenderung memilih transportasi ramah lingkungan—mulai dari berjalan kaki, bersepeda, menggunakan transportasi umum, hingga beralih ke kendaraan listrik. Survei Deloitte Global’s 2025 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan bahwa 63 persen Gen Z dan 56 persen milenial di Indonesia berencana membeli kendaraan listrik. Lebih dari itu, 89 persen Gen Z dan 90 persen milenial bersedia membayar lebih untuk membeli produk atau layanan yang lebih ramah lingkungan (Deloitte, 2025).

1.5. Kreatif Mendaur Ulang dan Zero Waste

Aktivitas mendaur ulang juga menjadi bagian dari gaya hidup eco-friendly yang populer di kalangan Gen Z. Mereka memilah barang bekas yang masih bisa digunakan—seperti pakaian atau elektronik—untuk mengurangi sampah. Tren zero waste dan slow fashion semakin diminati, dengan Gen Z mulai memilih pakaian zero waste atau berpewarna alam sebagai bentuk kepedulian terhadap isu iklim (RRI, 2025b; Kompas, 2025c).

2. Mengapa Gen Z Begitu Peduli?

2.1. Akses Informasi yang Luas

Tingginya kepedulian Gen Z terhadap lingkungan dipicu oleh akses informasi yang luas, yang mampu meningkatkan kesadaran mereka untuk menjadi agen perubahan. Sebagai generasi digital native, mereka memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan isu-isu lingkungan dan mengkampanyekan gaya hidup hijau (Antara, 2025b).

2.2. Kesadaran yang Tinggi terhadap Dampak Iklim

Survei yang dilakukan Climate Rangers terhadap 382 responden Gen Z memperlihatkan bahwa generasi muda semakin menyadari dampak perubahan iklim (Antara, 2025b). Hasil survei Deloitte bahkan menunjukkan bahwa 89 persen Gen Z di Indonesia merasa cemas mengenai dampak lingkungan (Deloitte, 2025). Penelitian dari PPIM UIN Jakarta juga menemukan bahwa 78,5 persen Generasi Z lebih melek isu lingkungan dibandingkan generasi lain (UIN Jakarta, 2024).

2.3. Pengaruh Lingkungan Terdekat

Penelitian menunjukkan bahwa perilaku pro-lingkungan Gen Z lebih dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat dan contoh dari orang terdekat, ketimbang perintah atau ceramah. Kaum Z mengadopsi perilaku pro-lingkungan berdasarkan kebiasaan yang diterapkan oleh lingkungan terdekat mereka, terutama keluarga (RRI, 2025a). Dengan kata lain, tindakan nyata berbicara lebih keras daripada sekadar kata-kata.

3. Tantangan yang Masih Dihadapi

3.1. Kesenjangan antara Kesadaran dan Aksi

Meskipun kesadaran lingkungan Gen Z tergolong tinggi, masih ada kesenjangan antara sikap dan perilaku nyata. Sebagian anak muda mengikuti kegiatan lingkungan hanya untuk memperluas jaringan sosial, bukan karena kepedulian yang mendalam. Selain itu, waktu layar yang tinggi di media sosial terbukti menurunkan keterlibatan dalam aksi nyata—mereka yang menghabiskan banyak waktu secara daring cenderung pasif dalam aktivitas seperti pengelolaan sampah atau penghijauan (RRI, 2025a).

3.2. Krisis Sampah yang Masif

Indonesia menghasilkan 56,63 juta ton sampah setiap tahun, namun hanya sekitar 39 persen yang berhasil dikelola. Sisanya mengendap di sungai, menumpuk di TPA, atau hanyut ke laut. Lebih dari setengah TPA di Indonesia masih menggunakan sistem open dumping—buang langsung tanpa proses pengelolaan yang layak (Kompas, 2025a). Ini menjadi tantangan besar yang tidak bisa diatasi hanya dengan gaya hidup individu semata.

3.3. Pelibatan yang Bersifat Tokenisme

Survei Climate Rangers menunjukkan bahwa 62,4 persen responden Gen Z merasa bahwa pelibatan orang muda oleh pemerintah dalam kebijakan iklim masih bersifat tokenisme—sekadar formalitas tanpa makna (Antara, 2025b). Padahal, partisipasi orang muda dalam pengambilan keputusan sangat dibutuhkan karena mereka adalah kelompok yang paling rentan terhadap dampak krisis iklim.

4. Harapan dan Arah ke Depan

Generasi Z, dengan jumlah lebih dari 71 juta jiwa atau 26,4 persen dari total populasi Indonesia, memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak perubahan lingkungan. Youth Sustainability Index 2025, hasil kolaborasi Youthlab Indonesia dan WWF-Indonesia, merekomendasikan pendekatan yang lebih adaptif terhadap karakter generasi muda—misalnya melalui kegiatan yang singkat, interaktif, dan relevan dengan pola konsumsi konten digital (Republika, 2025).

Seperti yang diungkapkan oleh Salli Atika Noor Rahma dari Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut, perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dari rumah—pilah sampah, kurangi plastik, dan biasakan berpikir dua kali sebelum membuang sesuatu(Kompas, 2025a).

Gaya hidup ramah lingkungan di kalangan Generasi Z bukanlah sekadar gaya-gayaan atau tren sesaat. Ini adalah respons nyata terhadap krisis iklim yang mereka rasakan dan wariskan. Dari membawa tumbler hingga memilih transportasi hijau, dari mendukung produk lokal hingga mendaur ulang—setiap langkah kecil adalah bentuk investasi terhadap masa depan bumi.

Namun, kesadaran individu saja tidak cukup. Dibutuhkan dukungan sistemik dari pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan untuk menciptakan ekosistem yang memungkinkan perilaku ramah lingkungan menjadi pilihan yang mudah dan terjangkau bagi semua. Karena pada akhirnya, lingkungan yang sehat bukan hanya untuk Generasi Z, tetapi untuk generasi-generasi yang akan datang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image