Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Marta

Bahasa Daerah di Tengah Kemajuan Zaman

Sastra | 2026-07-06 13:18:37

Dalam bahasa sehari-hari kamu sering menggunakan bahasa daerah atau bahasa lain? Bagi banyak anak muda daerah perkotaan, mungkin penggunaan bahasa daerah sudah mulai asing, bahkan jika dihitung tidak melebihi jari-jari satu tangan atau bisa jadi sama sekali tidak ada.

Di tengah serbuan istilah-istilah global moder yang sedang tren seperti healing atau flexing, dan lain-lain, bahasa daerah perlahan-lahan mulai tersisih dan menghilang. Saat ini, bahasa daerah seolah terpinggirkan, dianggap sebagai peninggalan masa lalu yang sudah ketinggalan zaman.

Kemajuan modern khususnya digitalisasi dan globalisasim menghadirkan dilema besar bagi pelestarian bahasa daerah di Indonesia. Dengan keberadaan lebih dari 700 bahasa daerah, kita kini berada di persimpangan jalan yang krusial, dan menjadi sebuah ancaman bagi budaya berbahasa daerah.

Di satu sisi, penguasaan bahasa nasional dan bahasa internasional seperti bahasa Inggris sangatlah penting untuk bertahan dan bersaing di kancah global saat ini, bahasa interanasional juga merupakan kunci kemajuan agar kita tidak tertinggal. Namun disisi lain, ada harga mahal yang harus dibayar seiring kita perlahan kehilangan ikatan dengan bahasa ibu kita sendiri. Kita harus menyadari bahwa bahasa daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas dan warisan budaya kita bangsa Indonesia.

Kita perlu mencari cara untuk melestarikan bahasa-bahasa daerah agar tidak terlupakan dan punah. Langkah awal yang bisa kita lakukan adalah mengajarkan bahasa daerah di sekolah serta mendorong masyarakat untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita dapat menjaga kelangsungan hidup bahasa daerah sembari tetap mampu bersaing di tingkat global.

Bahasa daerah sering kali dipandang sekadar sebagai sarana komunikasi biasa. Padahal, fungsinya jauh lebih mendalam. Bahasa daerah menjadi wadah bagi ingatan kita bersama, sarana penyimpan kearifan lokal, serta cerminan pandangan hidup suatu masyarakat. Ketika kata-kata dari bahasa daerah punah, kita tidak hanya kehilangan sebuah kata, melainkan juga kehilangan identitas diri.

Sebagai contoh, perhatikan konsep unggah-ungguh dalam bahasa Jawa atau tatakrama dalam bahasa Sunda, keduanya bukan sekadar aturan berbahasa, melainkan kerangka untuk menunjukkan rasa hormat dan menumbuhkan empati nilai-nilai yang tertanam kuat di dalam bahasa itu sendiri. Nuansa semacam itu sulit diterjemahkan sepenuhnya ke dalam bahasa asing ataupun bahasa Indonesia.

Ironisnya, kita sering menganggap penggunaan bahasa daerah sebagai sesuatu yang tidak modern atau ketinggalan zaman. Banyak anak muda merasa lebih "keren" menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Sementara itu, para orang tua di perkotaan hingga pedesaan semakin enggan mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anak mereka karena khawatir hal itu dapat menghambat prestasi akademik sang anak. Akibatnya, pewarisan bahasa-bahasa tersebut antargenerasi pun mulai perlahan terputus. Jika hal ini terus berlanjut, ratusan bahasa daerah di Indonesia bisa perlahan punah selamanya dalam beberapa dekade mendatang.

Namun, menyalahkan perkembangan zaman atau teknologi bukanlah sebuah sikap yang tepat. Pada dasarnya, teknologi tidaklah baik ataupun buruk, teknologi hanyalah sebuah alat. Kita sebaiknya memandang digitalisasi sebagai peluang, bukan ancaman. Jika budaya pop luar negeri bisa tersebar luas melalui internet, mengapa bahasa daerah tidak bisa melakukan hal yang sama?

Selain mengandalkan metode pembelajaran disekolah untuk melestarikan bahasa daerah, mengajarkan bahasa-bahasa ini di sekolah hanya dengan materi yang membosankan dan mengharuskan hafalan semata adalah cara yang kurang efektif. Kita membutuhkan sebuah kreativitas yang mampu menarik minat Generasi Z dan Generasi Alpha untuk mau belajar bahasa daerah. Kita memerlukan kreator yang menghasilkan konten menarik seperti sketsa komedi atau siniar (podcast) dalam bahasa daerah. Dengan mengintegrasikan bahasa daerah ke dalam teknologi seperti kecerdasan buatan dan lokalisasi aplikasi digital, kita dapat menciptakan sesuatu yang memikat bagi generasi muda.

Pada akhirnya, melestarikan bahasa daerah di tengah laju kemajuan teknologi bukanlah tindakan menutup diri dari dunia luar, ini adalah soal menyeimbangkan jati diri. Menjadi modern tidak berarti kita harus memutus akar budaya kita sendiri. Justru, sosok modern yang paling mengesankan adalah mereka yang mampu merangkul teknologi global di satu sisi, namun tetap fasih menuturkan bahasa yang mencerminkan esensi identitas tanah kelahiran mereka. Sebelum bahasa daerah kita benar-benar menjadi artefak sejarah yang hanya bisa dijumpai di museum, mari kita mulai kembali menggunakan bahasa ibu kita mulai hari ini, bahasa daerah bukanlah hal yang memalukan melainkan ini adalah sebuah kebanggan dan identitas diri kita sebagai bangsa Indonesia yang penuh dengan kebudayaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image