Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image salsabila ramadhani

Mengukur Pola Belajar Asrama Mahasiswa Nusantara

Sekolah | 2026-07-05 13:27:54

Pada November 2022, Presiden Joko Widodo meresmikan Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) di Surabaya. Kehadirannya bukan sekadar menghadirkan fasilitas hunian bagi mahasiswa, melainkan bagian dari upaya memperkuat persatuan di tengah keberagaman Indonesia. Gagasan ini lahir setelah insiden penyerangan terhadap asrama mahasiswa Papua di Surabaya pada 2019 yang disertai ujaran rasis dan memicu gelombang demonstrasi di berbagai daerah. Peristiwa itu jadi pengingat bahwa mahasiswa perantau butuh ruang yang bukan hanya aman secara fisik, namun juga bisa menumbuhkan semangat kebangsaan melalui kehidupan bersama.

Pada Peraturan Presiden Nomor 106 Tahun 2021, pemerintah menetapkan AMN sebagai wadah pembinaan mahasiswa dari berbagai suku, budaya, agama, dan daerah. Di dalamnya, mahasiswa diharapkan bisa hidup berdampingan sekaligus berkembang menjadi generasi yang berkarakter, berwawasan kebangsaan, dan mempunyai kemampuan akademik yang baik. Namun, lebih dari tiga tahun sejak beroperasi, ada satu pertanyaan yang belum banyak dijawab yakni apakah lingkungan AMN benar-benar berhasil membentuk kebiasaan belajar yang baik bagi para penghuninya?

Pertanyaan itulah yang mendorong sekelompok mahasiswa Program Studi Statistika Universitas Airlangga meneliti pola belajar mahasiswa penghuni AMN Surabaya. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa hingga kini belum tersedia data yang menggambarkan secara representatif bagaimana kebiasaan belajar mahasiswa yang tinggal di AMN. Padahal, data semacam ini penting sebagai dasar evaluasi terhadap efektivitas program pembinaan yang dijalankan.

 Gambar 1. Gedung Asrama Mahasiswa Nusantara Surabaya. Sumber: <a href=amnsurabaya.id" />
Gambar 1. Gedung Asrama Mahasiswa Nusantara Surabaya. Sumber: amnsurabaya.id

AMN Surabaya saat ini dihuni 369 mahasiswa dari Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Negeri Surabaya, dan UPN Veteran Jawa Timur. Dari populasi itu dipilih 72 responden menggunakan teknik systematic random sampling yaitu metode pengambilan sampel secara sistematis dengan interval tertentu sehingga setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terwakili. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperoleh gambaran kondisi populasi tanpa harus melakukan survei terhadap seluruh penghuni.

Pola belajar diukur melalui 9 indikator meliputi kedisiplinan menghadiri perkuliahan, tidak membolos tanpa alasan, kebiasaan membuat catatan, kemampuan berkonsentrasi saat belajar, tujuan belajar yang jelas, kepemilikan jadwal belajar, waktu istirahat yang cukup, kedisiplinan menyelesaikan tugas, serta pencapaian IPK minimal 3,00. Mahasiswa dikategorikan memiliki pola belajar yang baik apabila memenuhi minimal enam dari sembilan indikator tersebut.

Hasilnya, 52 dari 72 responden mempunyai pola belajar yang baik. Angka ini, setelah dihitung dengan estimasi proporsi, merepresentasikan sekitar 72,2 persen dari seluruh penghuni AMN Surabaya, dengan batas kesalahan 9,54 persen. Artinya, mayoritas mahasiswa sudah mempunyai kebiasaan belajar yang relatif baik dan terstruktur.

Ada dua sisi yang bisa dibaca dari angka itu. Yang pertama, hasil ini cukup menunjukkan bahwa lingkungan asrama berpotensi mendorong terbentuknya budaya belajar yang sehat. Ruang diskusi, perpustakaan, akses internet, dan suasana yang mendukung kegiatan akademik ikut membantu mahasiswa membangun rutinitas belajar yang lebih disiplin. Interaksi dengan teman-teman dari berbagai daerah pun membuka ruang untuk saling memotivasi dan bertukar cara belajar.

Sisi keduanya, masih ada sekitar 27,8 persen mahasiswa yang pola belajarnya belum optimal. Keberhasilan program pembinaan rupanya belum dirasakan merata oleh semua penghuni. Perbedaan latar belakang pendidikan, kemampuan beradaptasi, manajemen waktu, sampai kesibukan berorganisasi kemungkinan besar ikut memengaruhi kebiasaan belajar tiap mahasiswa. Fasilitas fisik saja rupanya belum cukup jika tidak diikuti program pendampingan akademik yang berkelanjutan.

Bagi pengelola AMN, data ini bisa jadi dasar merancang program yang lebih tepat sasaran, misalnya pelatihan manajemen waktu, pendampingan belajar, mentoring antarmahasiswa, atau evaluasi rutin terhadap perkembangan akademik penghuni asrama. Dengan pendekatan berbasis data, kebijakan yang diambil tidak lagi sekadar berlandaskan asumsi, tapi benar-benar menjawab kebutuhan mahasiswa yang tinggal di dalamnya.

Penelitian ini pada dasarnya mengingatkan pentingnya membangun budaya evaluasi dalam setiap program publik. Keberhasilan sebuah kebijakan tidak cukup diukur dari berdirinya gedung, lengkapnya fasilitas, atau banyaknya peserta yang terlibat, melainkan sejauh mana program itu mampu mengubah kebiasaan dan memberi dampak nyata bagi penerima manfaatnya.

Hingga akhirnya, Asrama Mahasiswa Nusantara bukan sekadar tempat tinggal bagi mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia, melainkan ruang pembelajaran sosial dan akademik yang diharapkan melahirkan generasi berprestasi sekaligus berkarakter, disiplin, dan punya semangat kebangsaan. Penelitian ini memang dilakukan dalam skala terbatas, tapi memberi satu pelajaran sederhana yaitu kualitas sebuah program akan lebih mudah diperbaiki jika dievaluasi dengan data. Sebab data bukan cuma menunjukkan apa yang sudah berhasil dicapai, tapi juga mengungkap bagian mana yang masih perlu dibenahi.

Penulis merupakan Raja Van Den Bosch Sihotang, Choiri Nasry, Salsabila Naifa Ramadhani, dan Arsya Rabbani Farhanadi, mahasiswa Program Studi Statistika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image