Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image opek

Fenomena Kelas Menengah yang Tertekan: Tinjauan Ekonomi Syariah

Bisnis | 2026-07-05 10:44:15

Fenomena Kelas Menengah yang Tertekan: Tinjauan Ekonomi Syariah

Fenomena kelas menengah yang tertekan—atau sering disebut sebagai the squeezing middle class—kini menjadi salah satu isu ekonomi-sosial paling krusial. Dalam perspektif ekonomi syariah, kelompok ini berada pada posisi dilematis yang sangat menantang. Mereka bukan kelompok fakir atau miskin yang berhak menerima zakat (mustahik), tetapi mereka juga tidak memiliki kelebihan harta (nisab) yang mapan untuk menjadi muzaki (pembayar zakat). Di tengah lonjakan biaya hidup, kelompok yang berada di zona abu-abu ini sedang berjuang keras menjaga martabat ekonomi mereka agar tidak jatuh ke jurang kemiskinan.

Jika dibedah melalui kacamata ekonomi syariah, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan tertekannya kelas menengah ini.

Pertama adalah terjebak dalam lingkaran riberalistik (keuangan berbasis riba). Sulitnya akses terhadap hunian, kendaraan, dan modal usaha yang terjangkau membuat banyak masyarakat kelas menengah mengambil jalan pintas melalui instrumen keuangan konvensional, seperti kredit berbunga tinggi, pinjaman online, atau skema paylater. Beban bunga yang berlipat ganda (riba) ini perlahan-lahan mengikis pendapatan bersih mereka, sehingga harta yang dihasilkan kehilangan keberkahannya dan habis hanya untuk membiayai keranjang utang yang konsumtif.

Kedua adalah beban biaya kebutuhan pokok (daruriyat) yang tidak terkendali. Dalam konsep Maqasid Syariah (tujuan hukum Islam), negara dan sistem ekonomi wajib menjaga lima hal pokok, di antaranya adalah jiwa, akal, dan keturunan. Namun saat ini, biaya pemenuhan kebutuhan untuk menjaga hal tersebut—seperti pendidikan berkualitas (menjaga akal) dan layanan kesehatan (menjaga jiwa)—mengalami inflasi yang sangat tinggi. Kelas menengah harus memikul biaya-biaya esensial ini secara mandiri tanpa adanya subsidi, yang mengakibatkan pendapatan mereka terserap habis untuk bertahan hidup daripada untuk investasi masa depan.

Ketiga adalah belum optimalnya peran instrumen sosial syariah (Ziswaf) bagi kelas menengah. Selama ini, penyaluran Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (Ziswaf) secara logis diprioritaskan untuk masyarakat miskin ekstrem. Akibatnya, kelas menengah yang mengalami guncangan ekonomi, seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), sering kali tidak tersentuh oleh bantuan. Padahal, dalam fikih kontemporer, mereka yang terlilit utang demi kebutuhan pokok (gharimin) atau yang kehilangan mata pencaharian juga membutuhkan jaring pengaman sosial yang cepat dan adaptif.

Dampak dari fenomena ini sangat sistemik. Kelas menengah adalah penggerak utama sirkulasi harta di pasar. Jika daya beli mereka lumpuh, konsep takaful (saling menanggung) dan perputaran ekonomi secara riil akan mandek. Harta akhirnya hanya berputar di kalangan orang-orang kaya saja—sebuah kondisi yang sangat dilarang dalam Al-Qur'an (QS. Al-Hasyr: 7).

Sebagai kesimpulan, fenomena tertekannya kelas menengah merupakan alarm atas pentingnya transformasi menuju ekosistem ekonomi yang lebih berkeadilan dan bermartabat. Solusinya tidak hanya terletak pada penguatan daya beli konvensional, tetapi juga pada penyediaan alternatif keuangan syariah yang murni bebas riba, seperti skema mudarabah atau musyarakah untuk usaha, serta penyediaan hunian berbasis wakaf produktif. Selain itu, lembaga amil zakat perlu mulai merumuskan program berbasis kemaslahatan (maslahah) yang menyasar kelas menengah rentan agar mereka tidak turun kelas menjadi fakir miskin.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image