Kita Makin Terhubung, Kenapa Justru Makin Kesepian?
Litera | 2026-07-05 02:35:04Sebelum masuk ke pembahasan, saya ingin bertanya, apakah kalian pernah berada di sebuah kafe atau coffeshop yang sangat ramai pengunjung, tetapi justru suasananya terasa sunyi? Atau kalian pernah berada di antara sekelompok orang dan teman yang duduk mengelilingi satu meja, namun masing-masing dari mereka lebih sibuk menatap layar handphonenya daripada saling berbincang satu sama lain?.
Di era digital seperti saat ini, hal tersebut sering kali dan sangat mudah kita jumpai baik di transportasi umum, restoran, atau tempat-tempat yang seharusnya menjadi perkumpulan orang banyak saling berbagi cerita dan menghabiskan waktu. Mirisnya, meskipun teknologi mampu mendekatkan manusia tanpa terhalang oleh batas geografis, hubungan emosional dan kualitas percakapan terasa semakin berjarak.
Hal tersebut sudah menjadi fenomena dan bukan sekedar kesan sesaat. Fenomena yang dimana perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berinteraksi. Komunikasi dapat dijalin dan dilakukan kapan saja dan dimana saja melalui berbagai platform media sosial, aplikasi pesan instan, dan ruang pertemuan virtual.
Mungkin kalimat “Kita tidak kekurangan koneksi, tetapi kita mulai kehilangan hubungan” yang semakin mencerminkan keadaan masyarakat modern. Hampir semua pekerjaan atau kegiatan yang kita lakukan tidak lepas dari peran smartphone. Komunikasi yang terjalin di dalamnya memang lebih cepat, fleksibel, mudah, serta informasi bisa kita dapatkan hanya dalam hitungan detik. Tetapi, kemudahan yang dihasilkan justru menimbulkan sebuah paradoks bahwa semakin banyak orang yang terhubung secara digital, semakin banyak juga orang yang merasa kesepian.
Menurut survei global yang dilakukan oleh Meta-Gallup pada tahun 2024, membuktikan bahwa masih banyak orang di berbagai belahan dunia yang mengalami kesepian seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi yang terus berkembang. Dalam kondisi seperti ini, konsep human relations menjadi sangat relevan. Human relations sering kali dipahami sebagai sebuah istilah sempit yang merupakan kemampuan berkomunikasi atau bersikap kepada orang lain. Dengan pandangan dan artian yang lebih luas, human relations merupakan tentang bagaimana manusia membangun hubungan interpersonal yang sehat melalui komunikasi yang didasari oleh empati, saling menghargai, kepercayaan, dan kerja sama.
Menurut Keith Davis (1957) dalam (Putri & Kadewandana, 2018) human relations merupakan interaksi antar individu yang bertujuan untuk menciptakan kerja sama secara sukarela melalui pemahaman terhadap kebutuhan, perasaan, dan motivasi masing-masing individu. Hubungan yang baik tidak hanya terbentuk karena seseorang sering berbicara, melainkan karena adanya rasa saling memahami satu sama lain.
Kemajuan teknologi memberikan tantangan baru terhadap kualitas hubungan antarindividu. Seseorang bisa saja memiliki ribuan pengikut di media sosial, tergabung dalam berbagai grup percakapan, berinteraksi setiap hari melalui pesan instan. Tetapi, itu semua belum tentu menciptakan kedekatan emosional yang sebenarnya. Banyak orang yang masih merasa kesepian meskipun dikelilingi berbagai jenis komunikasi digital.
Hal tersebut bukan berarti bahwa teknologi adalah faktor utama yang menyebabkan hubungan antar manusia menjadi lebih buruk. Pada dasarnya teknologi hanyalah sebuah alat. Permasalahan terjadi ketika manusia mulai menggantikan komunikasi yang intens dengan interaksi yang serba instan. Individu saat ini kerap kali mengganti percakapan panjang menjadi pesan singkat, dan ungkapan perasaan atau ekspresi wajah dengan sebuah emoji, padahal perhatian yang dibutuhkan adalah dalam bentuk waktu, kehadiran, dan kesediaan untuk mendengarkan.
Dari apa yang disebutkan di atas, kita menyadari bahwa pentingnya membangun kembali human relations ke dalam kehidupan modern saat ini. Hubungan yang dibangun atau dijaga secara sehat bisa berdampak dan memberikan manfaat bukan hanya secara emosional, tapi juga berdampak pada kesehatan mental, produktivitas, serta kemampuan seseorang dalam menangani dan menghadapi permasalahan atau tantangan sosial lainnya.
Selain itu, human relations yang baik merupakan modal utama yang sangat penting untuk bersosial di masyarakat. Rasa kepercayaan, saling menghargai, dan kerja sama merupakan dasar atau syarat agar terciptanya lingkungan dan hubungan yang harmonis. Human relations juga bukan sekedar teori yang dipelajari di dunia pendidikan dan hanya diterapkan dalam lingkup tertentu, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan dasar atau fondasi untuk menjalankan kehidupan.
Kesimpulan
Kemajuan teknologi yang terjadi saat ini janganlah kita anggap sebagai penghalang atau lawan dari human relations. Sebaliknya, kemajuan teknologi justru kita jadikan sebagai sarana untuk memperkuat hubungan apabila digunakan dengan benar dan bijaksana. Berbagai platform media sosial dan digital dapat kita gunakan menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antarindividu. Tantangan yang sesungguhnya kita hadapi terletak pada bagaimana manusia menggunakan teknologi agar tetap menjunjung dan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi akan selalu ada dan berkembang dalam kehidupan manusia. Tetapi, masa depan yang lebih baik kembali pada bagaimana manusia menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Referensi:
https://www.gallup.com/analytics/509675/state-of-social-connections.aspx
Putri, D. P., & Kadewandana, D. (2018). Prinsip-Prinsip Human Relations dalam Pelaksanaan Komunikasi Organisasi di Kementerian Komunikasi dan Informatika. CoverAge: Journal of Strategic Communication, 8(2), 24-35.
Cahyanti, P. M. (2024). Kegiatan Human Relations dalam membangun motivasi kerja karyawan PT. Perkebunan Nusantara I Regional 2 (Eks PTPN VIII) (Doctoral dissertation, UIN Sunan Gunung Djati Bandung).
Deviyanti, D., & Utami, E. (2023). Analisis penerapan prinsip-prinsip human relations dalam komunikasi organisasi pada startup di Indonesia. Jurnal Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 7(2), 308-326.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
