Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Salma Nurul Fadhilah

Piala Dunia 2026 dan Jebakan Konsumtif yang Berbalut Euforia

Liga Dunia | 2026-07-03 07:27:05

Setiap empat tahun sekali, dunia seperti tiba-tiba satu frekuensi. Tidak peduli beda negara, beda bahasa, atau beda selera musik, semua orang bisa duduk bersama membicarakan satu hal yang sama: sepak bola. Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tahun ini tidak terkecuali. Turnamen ini bahkan menjadi yang terbesar dalam sejarah karena pertama kalinya melibatkan 48 tim peserta.

Dan seperti biasa, euforianya sampai ke Indonesia jauh sebelum peluit pertama berbunyi.Warung kopi pasang layar besar. Grup WhatsApp keluarga yang biasanya sepi tiba-tiba ramai prediksi pertandingan. Feed Instagram dipenuhi foto nonton bareng dengan jersey berwarna-warni. Semua terasa menyenangkan dan wajar. Tapi di balik kegembiraan itu, ada fenomena yang menarik untuk dicermati lebih dalam, yaitu bagaimana Piala Dunia secara diam-diam menguras dompet banyak orang.

Jersey: Antara Dukungan dan Gengsi

Mari bicara jujur tentang jersey. Di Tanah Abang, penjual jersey mengaku omzetnya melonjak lebih dari 50 persen sejak Piala Dunia bergulir. Di Malang, berbagai toko olahraga kewalahan melayani pembeli yang memburu jersey tim favorit. Fenomena ini terjadi merata dari Sabang sampai Merauke.Harganya pun beragam. Jersey lokal dijual mulai Rp65.000, versi grade ori mulai Rp150.000, sementara jersey original resmi dari toko resmi dibanderol mulai Rp800.000 hingga tembus Rp9 juta untuk edisi tertentu. Dan yang mengejutkan, yang versi mahal pun tetap laris.Pertanyaannya bukan apakah membeli jersey itu salah. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang menarik untuk direnungkan adalah motivasi di baliknya. Berapa banyak dari kita membeli jersey karena memang ingin mendukung tim, dan berapa banyak yang membeli karena tidak mau dianggap ketinggalan? Karena foto nonton bareng terasa kurang lengkap tanpa jersey Argentina di badan?Di sinilah batas antara antusiasme dan konsumtivisme mulai kabur.

Nonton Bareng: Tradisi yang Berevolusi Jadi Industri

Nonton bareng atau nobar dulu identik dengan layar tancap di lapangan kampung, tikar seadanya, dan kopi sachet yang dibagi-bagi. Sekarang nobar sudah bertransformasi menjadi event berbayar dengan tiket masuk, paket makanan, dress code jersey, bahkan live DJ sebelum pertandingan dimulai.Tidak ada yang salah dengan evolusi ini. Pengusaha kreatif memanfaatkan momen, dan itu sah. Tapi dari sisi konsumen, khususnya mahasiswa dan anak muda yang penghasilannya pas-pasan, akumulasi pengeluaran selama satu turnamen bisa cukup mengejutkan jika dihitung serius.Bayangkan beli jersey satu atau dua lembar, bayar tiket nobar beberapa kali, beli makanan dan minuman di venue, tambah aksesori pendukung seperti syal atau topi. Dalam sebulan, angkanya bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, hanya untuk mendukung tim yang bahkan tidak tahu nama kita.

Belum lagi biaya tak terduga yang sering muncul, data internet membengkak karena streaming pertandingan dini hari, ongkos transportasi pulang malam setelah nobar, atau impulsif beli jersey tim yang tiba-tiba mencuri hati setelah penampilan gemilang di babak 16 besar. Semua itu kecil-kecil, tapi jika ditotal dalam satu turnamen yang berlangsung lebih dari sebulan, angkanya bisa membuat kita terkejut sendiri.

Identitas yang Dibeli, Bukan Dibangun

Ada aspek psikologis menarik di balik demam konsumsi saat Piala Dunia. Kita membeli jersey Brasil bukan karena kita orang Brasil. Kita pasang bendera Argentina di kamar bukan karena pernah ke sana. Kita secara sukarela menjadi bagian dari sebuah komunitas global melalui simbol-simbol yang kita beli.Ini bukan fenomena baru. Para akademisi menyebutnya sebagai identitas yang dikonstruksi melalui konsumsi. Dalam konteks sepak bola, hal ini diperkuat oleh mesin pemasaran yang sangat besar. Brand seperti Adidas, Nike, dan Puma tahu persis bahwa Piala Dunia bukan hanya ajang olahraga, tapi juga festival belanja global yang terjadwal rapi setiap empat tahun sekali.Kita adalah target pasarnya. Dan kita menyambutnya dengan antusias.

Menikmati Tanpa Terjebak

Tulisan ini bukan ajakan untuk tidak ikut merayakan Piala Dunia. Justru sebaliknya, momen seperti ini langka dan berharga. Rasa kebersamaan yang muncul saat nonton bareng, kegembiraan kolektif ketika gol tercipta di menit akhir, obrolan panjang soal siapa yang bakal juara, semuanya adalah pengalaman sosial yang tidak ternilai.Yang perlu kita latih adalah kesadaran untuk memisahkan mana yang kita lakukan karena benar-benar ingin, dan mana yang kita lakukan karena tekanan sosial atau rasa takut ketinggalan tren.

Beli jersey tim favorit karena kamu memang fans beratnya? Silakan. Beli karena semua teman beli dan kamu tidak mau dianggap kurang gaul? Itu patut dipertanyakan.Coba sesekali iseng hitung berapa yang sudah keluar selama turnamen ini berlangsung. Bukan untuk membuat diri sendiri merasa bersalah, tapi untuk jadi lebih sadar. Kesadaran finansial bukan berarti pelit, melainkan tahu persis ke mana uang kita pergi dan apakah itu pilihan yang kita buat dengan kepala dingin atau sekadar terseret arus euforia.

Piala Dunia memang datang empat tahun sekali. Tapi kondisi keuangan kita ada setiap hari. Pastikan euforia yang kita rasakan selama sebulan ini tidak meninggalkan tagihan yang harus dibayar berbulan-bulan setelahnya.Nikmati bolanya. Tapi jangan biarkan bola menguras rekening.



 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image