Ketika Perhatian Menjadi Komoditas
Teknologi | 2026-07-02 13:16:51
Teknologi yang Selalu Mengikuti Kita
Pulang kuliah. Rebahan. Buka Instagram. Scroll. Scroll. Scroll.
Tiba-tiba jam menunjukkan pukul dua pagi. Tugas belum dikerjakan, mata terasa perih, dan yang tersisa hanya rasa menyesal. Bukan karena malas, melainkan karena tidak sadar kapan "sebentar" berubah menjadi berjam-jam.
Saya mengalaminya hampir setiap hari. Setelah pulang kuliah, rutinitas pertama bukan membuka catatan atau mengerjakan tugas, tetapi membuka media sosial. Bahkan sebelum tidur pun, saya sering merasa harus melihat satu video lagi, satu unggahan lagi, atau satu notifikasi lagi sebelum akhirnya terlelap. Yang tertinggal bukan rasa terhibur, melainkan kelelahan.
Pengalaman tersebut ternyata bukan hanya milik saya. Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari jutaan orang, terutama Generasi Z.
Laporan Digital 2024 dari We Are Social menunjukkan bahwa rata-rata pengguna internet di dunia menghabiskan lebih dari dua jam setiap hari di media sosial. Indonesia bahkan termasuk salah satu negara dengan tingkat penggunaan media sosial yang tinggi. Bagi banyak anak muda, media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi ruang tempat mereka belajar, mencari hiburan, membangun relasi, hingga membentuk identitas diri.
Namun, semakin lama terhubung tidak selalu berarti semakin nyaman. Di tengah penggunaan yang terus meningkat, muncul tren digital detox, istirahat dari media sosial, hingga keinginan untuk mengurangi waktu layar. Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak anak muda tidak sedang menjauhi teknologi, melainkan mencoba mengambil jarak dari kelelahan yang ditimbulkannya.
Ketika Perhatian Menjadi Komoditas
Sayangnya, kelelahan ini sering dianggap sebagai masalah disiplin pribadi. Kita kerap mendengar anggapan bahwa anak muda terlalu malas, terlalu bergantung pada ponsel, atau tidak mampu mengatur waktu. Padahal persoalannya tidak sesederhana itu.
Platform seperti Instagram dan TikTok memang dirancang untuk membuat pengguna bertahan lebih lama. Fitur infinite scroll membuat kita terus menggeser layar tanpa titik akhir yang jelas.
Algoritma mempelajari kebiasaan pengguna untuk menyajikan konten yang semakin menarik. Sementara notifikasi terus mengundang kita untuk kembali membuka aplikasi.
Dalam ekonomi digital saat ini, perhatian pengguna adalah aset yang sangat berharga. Semakin lama seseorang bertahan di sebuah platform, semakin besar keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan dari aktivitas tersebut.
Masalahnya Bukan Sekadar Individu
Di sinilah letak ironi terbesar Generasi Z. Mereka tumbuh bersama teknologi dan sering disebut sebagai generasi paling melek digital.
Namun, mereka juga menjadi kelompok yang paling banyak berinteraksi dengan sistem digital yang dirancang untuk mempertahankan perhatian selama mungkin.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi mengapa anak muda sulit lepas dari ponsel. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa platform digital begitu efektif membuat mereka terus kembali.
Beberapa negara mulai menyadari persoalan ini. Uni Eropa melalui Digital Services Act mendorong transparansi yang lebih besar terhadap sistem algoritma platform digital. Australia bahkan mengambil langkah lebih jauh dengan membatasi akses media sosial bagi pengguna di bawah usia 16 tahun karena kekhawatiran terhadap dampaknya bagi generasi muda.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan digital tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab individu semata, tetapi juga sebagai tanggung jawab perusahaan teknologi.
Saatnya Membicarakan Tanggung Jawab Platform
Tentu saja, literasi digital tetap penting. Pengguna perlu memahami cara kerja algoritma dan belajar mengatur batas penggunaan teknologi.
Namun, meminta individu terus-menerus melawan sistem yang memang dirancang untuk mempertahankan perhatian mereka bukanlah solusi yang adil.
Kita menghabiskan bertahun-tahun menciptakan teknologi yang mampu mengubah dunia. Tetapi jika teknologi yang sama justru membuat penggunanya kelelahan setiap malam, maka ada sesuatu yang perlu dievaluasi.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah Generasi Z terlalu banyak menggunakan ponsel. Pertanyaan yang lebih penting adalah: sampai kapan kita membiarkan platform digital menjadikan kelelahan pengguna sebagai bagian dari model bisnis mereka?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
