Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image fazria siti mulyani

Rumah yang Membungkam: Mengapa Anak Takut Berbicara di Depan Publik?

Eduaksi | 2026-07-02 12:51:40

Nama: Siti Fazria Mulyani Prodi: Manajemen Haji dan Umrah, Universitas Ibnu Khaldun

Masa kecil anak yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan dan rasa ingin tahu terkadang dibungkam oleh telinga yang tidak ingin mendengarkan gangguan antusiasmenya dan rasa ekspresi yang dikeluarkan oleh sang anak. Anak justru tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberikan ruang padanya untuk mengekspresikan diri, ia hanya menjadi anak yang tidak pernah didengarkan dan diperdulikan oleh lingkungannya. Ketika kedewasaan itu tiba, berdiri di depan panggung dengan puluhan pasang mata yang sering kali menatap dengan mata yang tajam sering kali menjadi momen paling intimidatif bagi sebagian besar orang, terutama bagi orang yang memiliki kecemasan dalam psikologisnya. Gejala fisik seperti suara parau, keringat dingin, atau pikiran kosong (kosong), sering kali salah karena dianggap akibat kurangnya persiapan. Namun lebih dari itu, dalam kacamata komunikasi sosiologis, ketakutan berbicara di depan umum memiliki akar jauh personal yang mendalam, yang mempengaruhi mentalitas seseorang di depan publik.

Kegagalan Fungsi Hubungan Internal dalam Organisasi Keluarga

Dalam kacamata Public Relations (PR), fenomena inilah yang sering terjadi karena kegagalan fatal pada fungsi hubungan dalam suatu organisasi kecil, yaitu keluarga, pemimpin tertinggi dalam organisasi ini adalah orang tua. Salah satu tugas pimpinan tertinggi dalam Public Relations adalah mengelola hubungan antar individu di lingkungan organisasinya. Oleh karena itu, ketika terjalinnya fungsi PR yang baik dan sehat dalam keluarga maka akan mendukung proses individu dalam mengembangkan kapasitas diri, terutama dalam kecakapan komunikasi. Salah satu cara PR dalam mengelola komunikasi adalah dengan memberikan pendekatan hubungan manusia (human Relations) melalui komunikasi yang dilakukan secara dua arah, komunikasi dua arah inilah yang memberikan ruang bagi sang anak untuk mengungkapkan dirinya, dan tugas bagi orang tua adalah memberikan umpan balik bagi sang anak, agar anak merasa lebih dihargai dan diberikan ruang baginya untuk tumbuh. Namun, komunikasi yang terjalin pada lingkungan yang buruk sering kali terjadi karena adanya iklim komunikasi yang melindungi yang dipicu oleh orang tua sendiri sebagai otoritas tertinggi di rumah. Pakar komunikasi Jack Gibb di kutip oleh Andre Hardjana, menjelaskan bahwa komunikasi defensif merupakan pola komunikasi yang muncul ketika seseorang merasa terancam dalam komunikasi, sehingga mendorong perilaku membela diri yang dapat mengurangi efektivitas komunikasi serta merusak iklim hubungan.

Salah satu dampak nyata dari terjadinya komunikasi defensif di dalam rumah adalah fenomena mendengarkan defensif (mendengarkan secara defensif). Karena orang tua bertindak sebagai otoritas tertinggi, ketika mereka menerapkan sikap mendengarkan defensif (yaitu menganggap pernyataan atau komentar orang lain sebagai serangan pribadi), anak akan selalu merasa terancam oleh penghakiman orang tuanya. Akibatnya, ia tidak akan mampu lagi menangkap makna, motif, bahkan nilai pesan yang disampaikan. Alih-alih berusaha mendengarkan isi komunikasi, anak-anak akan lebih sibuk mencari cara untuk membela diri atau sekadar menghindari konflik. Jika keluarga seringkali menerapkan iklim komunikasi yang defensif, yang mana setiap pendapat anak itu dipatahkan dan secara terus menerus di serang, rumah yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak dapat berubah fungsinya menjadi ruang sidang. Pembungkaman yang terjadi secara konsisten, dapat merusak hubungan internal (internal Relations) anak, menghancurkan konsep diri mereka, dan menyisakan trauma komunikasi mendalam yang akan mematikan keberanian mereka untuk bersuara di hadapan publik.

Dampak Traumatis: Dari Pola Otoriter Menuju Kecemasan Komunikasi Akut

Pola komunikasi yang salah dapat menjadi hambatan besar dalam pembentukan karakter anak sejak dini hingga dewasa. Seiring dengan berjalannya waktu, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tertutup, bimbang serta kehilangan kepercayaan dirinya saat berbicara di depan umum. Ketika anak harus tampil, fokus anak bukan pada materi, melainkan pada kecemasan dan penghakiman orang lain. Dalam ilmu komunikasi, ada salah satu jenis kecemasan yang sering muncul ketika berkomunikasi. Kecemasan ini sering disebut sebagai traitlike communications apprehension atau kecemasan komunikasi bawaan, yaitu kecemasan berkomunikasi dalam jangka waktu yang sangat panjang dan relatif stabil, Merujuk pada gagasan McCroskey yang diulas dalam tulisan Taufik Talalu. Kecemasan ini bisa muncul dalam berbagai situasi komunikasi, salah satu contohnya adalah ketika public speaking.

Kegagalan yang terjadi pada lingkungan keluarga ini sering kali disebabkan oleh hubungan internal akibat penerapan sistem pola asuh otoriter dalam keluarga. Hal serupa dipaparkan oleh Suherman dalam kajian Afida Vina dan Koryna Aviory, Pola asuh otoriter adalah gaya mendidik anak yang menuntut kepatuhan mutlak, orang tua membuat aturan kepada anak yang sangat ketat, dan anak wajib menurut orang tua diberikan tanpa ruang sedikitpun. Pola asuh ini sangat tidak sehat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam pola asuh ini, anak selalu dikontrol dan kebebasannya dilindungi secara ketat, sehingga anak-anak tidak memiliki ruang bagi mereka untuk berekspresi. Ketika pola asuh ini diterapkan secara terus-menerus, masa kecil anak-anak yang seharusnya ceria akan bertransformasi menjadi kecemasan komunikasi yang akut saat ia dewasa.

Akibat dari iklim komunikasi otoriter tersebut, anak tumbuh menjadi sosok yang penakut, cemas. Mereka sering memendam masalah sendiri karena merasa tidak dihargai dan tidak didengar oleh lingkungan keluarganya sendiri. Penerapan pola asuh otoriter serta komunikasi defensif inilah yang membuat anak merasa dibungkam anak, yang mengikis psikologis serta merusak kepercayaan diri mereka secara perlahan-lahan. Kondisi psikologis anak yang rusak ini umumnya dipicu oleh rasa takut dievaluasi secara berlebihan serta pengalaman buruknya di masa lalu. Trauma dan pikiran negatif itu terbentuk karena meniru lingkungan keluarganya sendiri. Selain itu, cara kita melatih kecerdasan emosional dari kecil hingga dewasa akan sangat mempengaruhi seberapa beraninya kita berbicara di depan umum. Inilah faktor utama yang menimbulkan kecemasan saat berbicara di depan umum dan meruntuhkan kepercayaan dirinya di atas panggung.

Memutus Rantai Trauma: Transformasi Menuju Iklim Komunikasi Demokratis dan Suportif

Untuk memutus rantai trauma komunikasi yang telah mengakar sejak masa kecil, kita perlu melakukan perubahan secara besar yang harus dilakukan dari dua sisi, yaitu dari lingkungan keluarga maupun dari dalam diri kita sendiri. Pertama, organisasi keluarga, orang tua harus menyadari betapa pentingnya mendidik dirinya sendiri dengan cara yang baru. Sebagai pemimpin tertinggi keluarga, orang tua harus menjadi teladan yang baik. Mereka harus melatih komunikasi intrapersonal mereka terlebih dahulu agar menjadi pribadi yang lebih siap dalam mengontrol emosi, dan menahan ego. Dengan demikian mereka dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Dalam ranah sosiologi keluarga, pola asuh demokratis dapat membantu anak menjadi lebih berani, dan dapat mengembangkan keterampilan, mengangkat harga diri, serta meningkatkan kepercayaan diri anak secara penuh. Bukan hanya sebagai orang tua yang selalu benar, maka anak akan merasa lebih nyaman dan termotivasi untuk berbagi keluh kesahnya. Rasa aman, dipercaya, dan nyaman inilah yang menjadi dasar utama bagi anak untuk tidak ragu menyampaikan apa yang ia rasakan dan pikirkan ke dunia luar.

Namun, bagaimana jika proses pemulihan itu harus dimulai sendiri oleh anak yang telanjur tumbuh dewasa karena trauma masa lalunya? Kuncinya ada pada kemampuan anak untuk memaafkan masa lalunya dan secara sadar mulai melibatkan diri dalam pengambilan keputusan di lingkungan baru yang mendukung. Dengan perubahan lingkungan ini, anak dapat membentuk kembali konsep dirinya ke arah yang jauh lebih positif. Dia perlu memahami bahwa setiap orang itu unik, berpotensi, dan berhak penuh untuk bersuara tanpa terganggu oleh stigma negatif masa kecilnya. Kita harus memiliki pola komunikasi yang sehat pada organisasi, keluarga ataupun ketika bersosial, inilah yang akan menjadi dasar bagi kita untuk membentuk kapasitas Public Relations personal seseorang. Padahal, kita membutuhkan kejujuran dan keterbukaan untuk menjaga keharmonisan serta membangun rasa saling pengertian (saling pengertian) di dalam rumah.

Oleh karena itu, untuk menyembuhkan trauma berbicara di depan umum, seseorang harus mencari secara aktif mencari lingkungan sosial atau organisasi baru yang menerapkan hubungan yang mendukung satu sama lain. sebagaimana dikemukakan dalam teori Sistem 4 Likert. Di sisi lain Jack Gibb kembali menegaskan dalam ulasan Hardjana, komunikasi efektif dan kesehatan mental hanya akan tercapai jika penerima pesan merasa mendapat dukungan, ketenangan, serta tidak dipojokkan atau diancam egonya. Dalam lingkungan yang mendukung inilah, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkomunikasi dan menyampaikan pendapatnya. Ketika anak menemukan ruang yang menghargai suaranya tanpa rasa takut adanya penghakiman, kecemasan dan ketakutannya akan berkurang secara drastis. Dalam lingkungan seperti ini, pola komunkasi lisan tatap muka dapat membantu seseorang merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam berkomunkasi.

Pada akhirnya, perjalanan dari seorang anak yang dibungkam menjadi seorang pembicara masyarakat yang tangguh bukanlah perjalanan yang terjadi dalam semalam. Ini adalah proses yang membutuhkan keberanian yang besar untuk menata ulang dirinya sendiri, apa yang ada di dunia Public Relations disebut sebagai rebranding personal. Seseorang dengan luka masa kecil harus menyadari bahwa suaranya berharga, dan masa lalunya tidak lagi bisa mengaturnya. Ketika seseorang berhasil mengganti suara-suara penghakiman masa lalu di kepalanya dengan keyakinan baru yang mendukung, ia sedang melakukan fungsi pemulihan hubungan internal yang paling intim, yaitu damai dengan dirinya sendiri.

Kesimpulan: Ketakutan berbicara di depan umum pada usia dewasa merupakan akar dari trauma masa kecil akibat pola asuh otoriter dan iklim komunikasi defensif yang ada di rumah. Meskipun merusak kepercayaan diri, rantai trauma ini dapat diputuskan melalui transformasi pola asuh yang lebih baik, seperti pola asuh demokratis, serta langkah-langkah yang harus dilakukan pada diri sendiri untuk melakukan rebranding personal. Dengan beralih ke lingkungan baru yang mendukung, seseorang dapat memulihkan konsep dirinya dan menemukan kembali suaranya yang sempat dibungkam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image