Belajar Hidup Bermasyarakat Dimulai dari Bermain Bersama
Guru Menulis | 2026-07-01 07:26:40Belajar Hidup Bermasyarakat, Dimulai dari Bermain Bersama
Dzira Vania Putri Purnomo
Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pernahkah kita memperhatikan bagaimana anak-anak dulu begitu mudah berteman?
Cukup datang ke lapangan, halaman rumah, atau gang kecil di depan rumah, mereka sudah bisa bermain bersama tanpa harus saling mengenal lebih dulu. Tidak ada undangan khusus, tidak ada grup percakapan, bahkan tidak perlu membawa apa pun selain semangat untuk bermain.
Dalam hitungan menit, anak-anak yang awalnya asing bisa berubah menjadi teman sepermainan.
Kini, pemandangan seperti itu mulai jarang terlihat. Banyak anak menghabiskan waktu luangnya di dalam rumah. Sebagian sibuk menonton video, sebagian lagi bermain gim melalui telepon pintar.
Kalaupun berkumpul, tidak sedikit yang justru lebih fokus pada layar masing-masing daripada saling berbincang. Padahal, masa kanak-kanak merupakan masa ketika kemampuan hidup bermasyarakat mulai dibentuk melalui interaksi sederhana dengan teman sebaya.
Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), manusia dikenal sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Sejak usia sekolah dasar, anak mulai belajar mengenal aturan, kerja sama, tanggung jawab, hingga cara menghargai perbedaan.
Semua kemampuan tersebut sebenarnya tidak hanya diperoleh melalui pelajaran di kelas, tetapi juga melalui pengalaman bermain bersama.
Bermain sering kali dianggap sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Padahal, di balik permainan sederhana terdapat proses belajar yang sangat penting. Ketika bermain petak umpet, misalnya, anak belajar menunggu giliran dan mematuhi aturan yang telah disepakati.
Saat bermain bentengan atau gobak sodor, mereka belajar bekerja sama, menyusun strategi, sekaligus menerima kekalahan tanpa harus memutuskan hubungan pertemanan. Semua pengalaman tersebut membentuk kemampuan sosial yang akan mereka bawa hingga dewasa.
Dari sudut pandang IPS, bermain bersama juga menjadi cara anak mengenal kehidupan bermasyarakat. Mereka belajar bahwa setiap kelompok memiliki aturan yang harus dipatuhi. Mereka memahami bahwa keputusan sering kali diambil melalui kesepakatan bersama.
Ketika terjadi perselisihan, mereka belajar menyelesaikannya melalui komunikasi, bukan dengan saling menyalahkan. Nilai-nilai seperti inilah yang menjadi dasar kehidupan bermasyarakat.
Sayangnya, ruang belajar sosial tersebut perlahan mulai berkurang. Perkembangan teknologi memang memberikan banyak manfaat, tetapi tanpa disadari juga mengubah cara anak berinteraksi. Banyak permainan yang kini dapat dilakukan sendiri melalui layar.
Anak memang tetap bermain, tetapi pengalaman bernegosiasi, berbagi, atau menghadapi perbedaan pendapat menjadi lebih sedikit dibandingkan ketika bermain secara langsung dengan teman-temannya.
Perubahan lingkungan juga turut memengaruhi kondisi tersebut. Di banyak kawasan perkotaan, lahan kosong yang dahulu menjadi tempat bermain kini berubah menjadi bangunan atau kawasan permukiman.
Aktivitas belajar yang semakin padat juga membuat waktu bermain anak semakin terbatas. Akibatnya, kesempatan untuk membangun hubungan sosial secara alami ikut berkurang.
Padahal, kemampuan hidup bermasyarakat tidak muncul begitu saja. Anak perlu mengalami berbagai situasi nyata agar mampu memahami perasaan orang lain.
Mereka perlu merasakan bagaimana bekerja sama saat memenangkan permainan, bagaimana meminta maaf ketika berbuat salah, dan bagaimana berdamai setelah terjadi perselisihan kecil. Pengalaman-pengalaman seperti ini sulit diperoleh jika interaksi lebih banyak berlangsung melalui layar.
Penelitian mengenai pembelajaran IPS menunjukkan bahwa pengalaman langsung merupakan bagian penting dalam membantu siswa memahami kehidupan sosial di sekitarnya.
Pembelajaran akan menjadi lebih bermakna ketika anak tidak hanya membaca konsep dalam buku, tetapi juga mengalami sendiri bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bermain bersama menjadi salah satu bentuk pengalaman yang sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap perkembangan sosial anak.
Orang tua dan sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan kembali ruang interaksi tersebut. Sekolah dapat menghadirkan permainan kelompok dalam kegiatan pembelajaran maupun saat istirahat.
Permainan tradisional, kegiatan kerja kelompok, hingga proyek kolaboratif dapat menjadi sarana bagi siswa untuk belajar berkomunikasi dan bekerja sama. Sementara itu, orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain bersama teman di lingkungan sekitar, tentu dengan pengawasan yang sesuai.
Lingkungan masyarakat juga tidak kalah penting. Kegiatan seperti lomba permainan tradisional saat peringatan Hari Kemerdekaan, kerja bakti, atau aktivitas bersama di lingkungan tempat tinggal dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengenal tetangga sekaligus belajar hidup berdampingan.
Dari kegiatan-kegiatan sederhana tersebut, anak memahami bahwa kehidupan bermasyarakat dibangun melalui kebersamaan, bukan hanya melalui hubungan di dunia maya.
Melestarikan kebiasaan bermain bersama bukan berarti menolak perkembangan teknologi. Anak tetap perlu mengenal dunia digital sebagai bagian dari perkembangan zaman. Namun, keseimbangan menjadi hal yang penting.
Anak membutuhkan teknologi untuk memperoleh informasi, tetapi mereka juga membutuhkan pengalaman nyata agar mampu tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap orang lain.
Pada akhirnya, bermain bersama bukan sekadar aktivitas yang menyenangkan. Di balik tawa, kejar-kejaran, dan permainan sederhana, anak sedang belajar menjadi bagian dari masyarakat. Mereka belajar menghormati aturan, memahami perbedaan, menyelesaikan konflik, dan bekerja sama demi tujuan bersama.
Semua pelajaran itu merupakan bekal penting yang tidak hanya berguna selama di sekolah, tetapi juga ketika mereka tumbuh menjadi anggota masyarakat di masa depan.
Karena itu, ketika melihat anak-anak bermain bersama di halaman rumah, lapangan, atau lingkungan sekolah, sesungguhnya kita sedang menyaksikan proses pendidikan sosial yang berlangsung secara alami.
Mereka bukan hanya sedang bermain, melainkan sedang belajar menjadi manusia yang mampu hidup berdampingan dengan orang lain. Dan mungkin, pelajaran tentang hidup bermasyarakat memang paling mudah dipahami ketika dimulai dari sebuah permainan sederhana bersama teman.
Sumber Bacaan :
Khasyia, D. S., dkk. (2025). Implementasi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah Dasar. Harmony: Jurnal Pembelajaran IPS dan PKN. https://journal.unnes.ac.id/journals/harmony/article/view/36150
Wardatussa'idah, I., dkk. (2024). Implementasi Metode Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal dalam Muatan IPS di Sekolah Dasar. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas/article/view/16956
Andriani, T. (2012). Permainan Tradisional dalam Membentuk Karakter Anak Usia Dini. Jurnal Sosial Budaya, 9(1), 121–136. https://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/SosialBudaya/article/view/376
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
