Mengapa Santri Gontor Berani Berbicara di Depan Publik? Jawabannya Ada dalam Pendidikan
Lomba | 2026-06-29 19:24:55
Jantung berdebar, kaki bergetar, dan wajah dipenuhi keringat. Itulah yang dirasakan banyak orang ketika diminta untuk berbicara di depan umum.
Tidak sedikit mahasiswa, pelajar, bahkan para profesional yang lebih memilih diam daripada berdiri dan berbicara di depan audiens.
Namun, pemandangan berbeda dapat ditemukan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di hadapan ratusan bahkan ribuan penonton, para santri justru tampil percaya diri menyampaikan pidato, presentasi, maupun nasihat dalam berbagai bahasa. Keberanian itu tentu bukan muncul begitu saja, apalagi karena bakat semata.
Lalu, apa rahasianya?
Salah satu jawabannya dapat dilihat dalam lomba Public Speaking Contest, sebuah ajang yang bukan hanya menjadi perlombaan berpidato, tetapi juga menjadi sarana pendidikan mental, kepemimpinan, dan komunikasi bagi para santri.
Di Gontor, berbicara di depan umum bukan sekadar keterampilan tambahan (soft skill), melainkan bagian dari proses pendidikan.
Melalui berbagai latihan dan perlombaan, santri dibiasakan mengolah kata, menyusunnya secara sistematis, lalu menyampaikannya dengan percaya diri. Proses inilah yang perlahan mengubah rasa gugup menjadi keberanian, serta rasa takut menjadi percaya diri.
Public Speaking Contest bukan sekadar ajang mencari pemenang. Lebih dari itu, perlombaan ini menjadi media pembentukan karakter santri.
Seluruh santri yang ikut dituntut menyusun materi secara mandiri, menguasai teknik penyampaian, mengatur intonasi, bahasa tubuh, hingga mampu mengendalikan rasa gugup saat tampil di hadapan banyak orang.
Di sinilah mental keberanian, kedisiplinan, dan tanggung jawab ditempa melalui pengalaman nyata, bukan hanya pembelajaran di dalam kelas.
Yang menarik, keberanian berbicara santri Gontor lahir dari proses pembiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Berbagai latihan pidato, presentasi, diskusi, hingga perlombaan menjadi bagian dari kehidupan santri sehari-hari.
Tidak mengherankan apabila banyak alumni Pondok Modern Darussalam Gontor yang mampu tampil sebagai dai, muballigh, pemimpin, akademisi, maupun tokoh masyarakat yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Public Speaking Contest hanyalah salah satu puncak dari proses pendidikan yang telah berlangsung sejak awal para santri menempuh pendidikan di pondok.
Pada akhirnya, keberanian berbicara di depan publik bukanlah bakat yang dimiliki segelintir orang, melainkan kemampuan yang dapat dibentuk melalui pendidikan, latihan, dan pembiasaan.
Public Speaking Contest menjadi bukti bahwa Gontor tidak hanya mencetak santri yang pandai berbicara, tetapi juga pribadi yang berani menyampaikan kebenaran, menginspirasi orang lain, dan siap mengemban amanah di tengah masyarakat.
Inilah salah satu wajah pendidikan Gontor yang terus melahirkan generasi berilmu, berkarakter, dan berakhlak.
Sebagaimana pesan KH. Imam Zarkasyi, “Jadilah ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama.”
Public Speaking Contest menjadi salah satu cara Pondok Modern Darussalam Gontor dalam mewujudkan cita-cita tersebut melalui pendidikan yang membentuk ilmu, mental, dan kepemimpinan secara bersamaan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
