Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image shabrina nabiha

Semantik di Balik Berita Viral: Mengapa Satu Kata Bisa Memiliki Banyak Makna?

Info Terkini | 2026-06-29 08:21:57
illustrasi Kekuatan satu kata dalam membentuk persepsi visual dan viral di media sosial.

Pernahkah Anda dibuat bingung oleh sebuah kata yang tiba-tiba jadi bahan perbincangan di media sosial? Satu kata yang dulu punya makna jelas, mendadak berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Fenomena ini bukan sekadar tren bahasa, melainkan pergeseran makna yang terjadi di depan mata kita.

Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa bahasa Indonesia di media sosial mengalami dinamika makna yang cukup signifikan. Ada lima kategori pergeseran semantik yang terjadi: perluasan makna, penyempitan makna, penghalusan, pengasaran, dan perubahan total. Fenomena ini didorong oleh subkultur anak muda, budaya pop, dan kebutuhan komunikasi yang singkat namun ekspresif .

Ketika Kata "Digoreng" Bukan Lagi Berada di Dapur

Salah satu contoh paling menarik adalah kata "goreng". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ini berarti memasak dengan minyak. Namun di media sosial, maknanya telah bergeser menjadi "sebuah kegiatan untuk mengolah atau mengubah fakta agar jadi lebih menarik" .

Perubahan ini terjadi karena faktor asosiasi seperti makanan digoreng hingga matang dan siap dimakan, sebuah isu pun "digoreng" hingga matang dan ramai dibicarakan banyak orang. Istilah "goreng isu" atau "digoreng" kini lazim digunakan untuk merujuk pada hal-hal berbau gosip maupun politik.

Hal ini bahkan menjadi perhatian serius. Kapolri Jenderal Tito Karnavian pernah menyatakan bahwa ada kelompok yang sengaja menggunakan isu tertentu untuk "digoreng" di media sosial guna mendiskreditkan pemerintah . Ini menunjukkan bahwa pergeseran makna kata tidak sekadar urusan bahasa, tetapi juga memiliki implikasi sosial dan politik yang nyata.

Unggahan seperti "Kebiasaan goreng isu agama" tentu tidak bisa dimaknai sebagai kegiatan memasak. Dalam konteks ini, kata "goreng" menggambarkan upaya membuat isu yang semula sepi menjadi heboh .

#KaburAjaDulu: Lebih dari Sekadar Tagar

Trend lain yang tak kalah menarik adalah tagar #KaburAjaDulu yang sempat viral di media sosial X. Menggunakan analisis semiotika Roland Barthes, tagar ini memiliki tiga lapisan makna .

Secara denotatif, tagar ini berarti ajakan untuk pergi atau menjauh dari suatu situasi. Namun secara konotatif, ia menjadi bentuk sindiran, kekecewaan, bahkan kritik sosial yang dikemas dengan gaya bahasa ringan dan humoris .

Pada level mitos, tagar ini mencerminkan narasi budaya baru tentang ketidakpercayaan terhadap sistem atau otoritas, serta semangat "lari" sebagai simbol perlawanan yang diam-diam tetapi kuat . #KaburAjaDulu bukan sekadar tren digital sesaat, melainkan bagian dari wacana sosial yang mengekspresikan keresahan kolektif dalam bentuk kreatif dan simbolik.

Kata Lain yang Juga "Berubah Wajah"

Perubahan perluasan makna ini terjadi pada banyak kata lain. Penelitian terhadap penggunaan bahasa di media sosial menemukan perubahan serupa pada kata-kata seperti "sampah" dan "binatang" yang kini bisa berarti hinaan; "najis" dan "receh/recehan" yang beralih fungsi menjadi sebutan untuk sesuatu yang rendah; serta "sepuh" yang berubah dari berarti tua menjadi seorang ahli atau senior .

Bahkan kata "matang" yang dulu merujuk pada buah yang siap dipetik, kini digunakan untuk menyebut kondisi seseorang yang siap menikah. Perubahan ini menunjukkan bahwa bahasa terus bergerak mengikuti perkembangan zaman dan cara berpikir masyarakat.

Refleksi: Bahasa yang Hidup

Dari contoh-contoh di atas, kita jadi sadar bahwa makna sebuah kata di zaman sekarang tidak lagi kaku dan pasti. Makna itu bergerak, berubah, dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Kita yang memakai bahasa di media sosial bukan sekadar pengguna pasif yang menerima makna begitu saja. Kita ikut menciptakan, menawar, dan menyepakati makna-makna baru bersama-sama. Setiap unggahan, komentar, dan tagar yang kita buat turut membentuk pemahaman kolektif di masyarakat.

Karena itulah, memahami semantik menjadi penting. Bukan agar kita terlihat pintar, tapi agar kita tidak salah paham saat membaca berita atau melihat unggahan di media sosial. Kita belajar untuk melihat kata tidak hanya dari arti kamusnya, tetapi juga dari konteks dan suasana di balik penggunaannya. Sebab bahasa adalah cermin zamannya. kata-kata yang viral adalah cermin dari kegelisahan, harapan, dan dinamika masyarakat yang terus berubah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image