Asyik Main HP Pas Nongkrong? Kenali Phubbing dan Arti Psikologisnya!
Leisure | 2026-06-25 18:54:46
Bayangkan, saat kamu sedang bermain bersama teman dekatmu di kafe dan kamu sedang serius bercerita tentang hal yang terjadi akhir-akhir ini, tetapi temanmu di tengah-tengah percakapan membuka handphonenya lalu mulai asik membalas pesan atau menelpon temannya yang lain. Hal ini tentu sering terjadi apalagi di era digital serba canggih. Selain tidak sopan, hal ini disebut sebagai Phubbing. Apa itu Phubbing? Mari simak lebih lanjut untuk mengetahui apa itu Phubbing, mengapa bisa terjadi, dan dampak yang terjadi!
Kata Phubbing adalah singkatan dari Phone (telepon) dan Subbing (menghina) yang artinya menghina seseorang dengan cara mengabaikan mereka demi telepon genggam atau smartphone. Orang yang melakukan phubbing disebut phubber, sedangkan orang yang jadi "korbannya" disebut phubbee (Siregar, 2024; Farkhah et al., 2023).
Fenomena phubbing ini bisa menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Bahkan, berdasarkan data pengguna smartphone di Indonesia yang mencapai 89,63% pada tahun 2021, potensi seseorang melakukan phubbing di negara kita tergolong sangat tinggi lho! (Farkhah et al., 2023).
Faktor-faktor Psikologis Phubbing
Ternyata, banyak sekali faktor yang menjadikan seseorang berperilaku Phubbing. Apa saja ya kira-kira?
- Kecanduan sosial media
- Mudah bosan
- FOMO (Fear Of Missing Out)
- Kurangnya kontrol diri
- Konformitas atau ikut-ikutan
- Gender
Dari berbagai faktor di atas, kecanduan media sosial menjadi faktor paling dominan yang mendorong seseorang melakukan phubbing, dengan kontribusi sebesar 23,5% (Saloom & Veriantari, 2021). Selain itu, kurangnya kontrol diri dan gender juga terbukti berpengaruh signifikan. Menariknya, perempuan cenderung lebih sering melakukan phubbing dibandingkan laki-laki. Kemungkinan karena pola penggunaan media sosial yang berbeda antar gender. Yang bikin miris, sebagian besar orang melakukan phubbing tanpa benar-benar menyadari bahwa kebiasaan tersebut bisa merugikan orang-orang di sekitar mereka (Saloom & Veriantari, 2021; Siregar, 2024).
Dampak Phubbing
Mungkin kamu pikir phubbing itu cuma masalah etika biasa. Tapi ternyata, dampaknya jauh lebih dalam dari yang kita kira. Berdasarkan literatur review terhadap 50 penelitian oleh Farkhah et al. (2023), dampak phubbing bisa dibagi menjadi tiga kategori:
1. Dampak Fisik
Jangan salah, phubbing juga punya dampak ke tubuh! Terlalu sering menatap layar HP saat berinteraksi sosial bisa menyebabkan sakit kepala, nyeri mata, serta ketegangan pada otot leher dan wajah.
2. Dampak Psikologis
Ini yang paling berat. Baik phubber maupun phubbee bisa terdampak secara mental, seperti
Merasa diabaikan dan harga diri menurun
Depresi dan kecemasan
Kesepian meski sedang bersama orang lain
Kecanduan smartphone yang makin parah
Sulit mengontrol emosi
3. Dampak Sosial
Phubbing perlahan-lahan merusak kualitas hubungan kita dengan orang sekitar, seperti
Komunikasi jadi terganggu dan kurang bermakna
Hubungan pertemanan dan interpersonal merenggang
Dalam keluarga, hubungan orang tua dan anak bisa semakin jauh
Dalam hubungan romantis, kecemburuan meningkat dan keintiman berkurang
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Kabar baiknya, phubbing bisa diatasi! Berikut beberapa cara dan tips praktis yang didukung penelitian
Konseling dan Self-Management
Salah satu cara yang efektif adalah dengan konseling kelompok dengan teknik self-management atau melatih diri sendiri untuk lebih sabar dan bertanggung jawab atau perilakunya.
Tingkatkan Kontrol Diri
Mulai dari hal kecil, seperti menaruh HP saat sedang makan, menaruh HP saat sedang berbicara dengan orang lain, dan lainnya. Semakin tinggi kontrol diri kita, semakin kecil kemungkinan kita phubbing
Edukasi Diri Sendiri
Pahami dan mulai sadari bahwa kecanduan media sosial bisa merugikan orang disekitar kalian dan juga bisa berdampak buruk pada diri kalian sendiri.
Tips Praktis!
Coba phone stacking saat nongkrong! semua HP ditumpuk di tengah meja, siapa yang pegang duluan bayar!
Tetapkan waktu bebas HP (phone-free time) setiap hari
Kalau memang harus balas pesan penting, minta izin dulu ke lawan bicara
-----------------------------------------------------------------------------------
Ditulis oleh: Tasya Amelia Febrianty dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog
Referensi:
Siregar, S. W. (2024). Fenomena Phubbing pada Mahasiswa. Al-Murabbi Jurnal Pendidikan Islam, 2(1), 235-247.
Farkhah, L., Saptyani, P. M., & Syamsiah, R. I. (2023). Dampak perilaku phubbing: literatur review. Jurnal keperawatan komplementer holistic, 1(2), 1-18.
Saloom, G., & Veriantari, G. (2021). Faktor-faktor psikologis perilaku phubbing. Jurnal Studia Insania, 9(2), 152-167.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
