Mengelola Amarah, Menjaga Keluarga
Agama | 2026-06-23 12:06:18
Fitriana Ita Sari, Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Setiap keluarga pasti mengalami berbagai macam masalah. Ungkapan yang terlontar terlalu tajam, pintu yang ditutup dengan keras, atau keheningan yang sangat lama — semua ini adalah bentuk pengungkapan dari satu hal yang sama: kemarahan yang tidak dikelola dengan baik.
Perselisihan dalam keluarga bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan. Sebaliknya, itu merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan hubungan antara dua individu yang memiliki latar belakang, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda. Yang menjadi pembeda antara keluarga yang sukses dan yang gagal bukanlah ada atau tidaknya konflik, melainkan bagaimana mereka menghadapi konflik tersebut. Di sini, psikologi dan ajaran Islam saling bersinergi — bahwa kemarahan seharusnya dikelola dengan baik, bukan ditahan, dan konflik perlu diselesaikan, bukan dihindari.
Islam telah menyediakan pedoman yang sangat berharga mengenai bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap saat emosi mengelola emosi serta menahan diri ketika marah sejak 14 abad yang lalu. Rasulullah ﷺ bersabda, "Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah. " (HR. Bukhari dan Muslim). Nasihat ini lebih dari sekadar panduan moral — ini adalah prinsip psikologis yang kini mulai diakui oleh dunia modern sebagai kunci penting untuk kesehatan hubungan.
Lalu, bagaimana sebenarnya amarah berfungsi di dalam otak kita? Apa yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri saat perdebatan tampak semakin memanas? Dan bagaimana nilai-nilai Islam dapat berperan sebagai panduan dalam mengatur emosi sehari-hari?
Apa Itu Regulasi Emosi dan Mengapa Penting dalam Rumah Tangga
Regulasi emosi merupakan kemampuan individu untuk mengenali, memahami, dan mengatur perasaannya sendiri, terutama ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Menurut psikolog James Gross dari Stanford University, regulasi emosi tidak berarti menekan perasaan, melainkan sebagian dari proses bagaimana seseorang dengan sadar memproses dan merespons emosinya (Gross & John, 2003). Ini tidak berarti seseorang harus selalu nampak tenang atau berpura-pura bahagia — justru regulasi emosi yang sehat mengajarkan kita untuk bersikap jujur terhadap perasaan yang kita alami, sambil tetap dapat memilih cara untuk mengekspresikannya.
Dalam konteks kehidupan berumah tangga, kemampuan ini bukan hanya merupakan nilai tambah, tetapi kebutuhan yang mendasar. Bayangkan sepasang individu yang hidup bersama setiap hari, saling berbagi ruang, keuangan, pengasuhan anak, dan membuat keputusan penting. Ketegangan pasti akan muncul. Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Family Psychology menunjukkan bahwa pasangan yang memiliki keterampilan regulasi emosi yang baik cenderung merasakan tingkat kepuasan dalam pernikahan yang lebih tinggi dan lebih jarang terjebak dalam siklus konflik yang berulang (Bloch, Haase & Levenson, 2014).
Apabila salah satu atau bahkan kedua pasangan tidak memiliki keterampilan regulasi emosi yang baik, permasalahan kecil dapat dengan cepat meningkat. Kritik mengenai pekerjaan rumah bisa berujung pada perdebatan tentang siapa yang lebih banyak mengorbankan diri. Keterlambatan pulang kerja dapat memicu pertengkaran mengenai kepercayaan. Para ahli menyebut fenomena ini sebagai banjir emosional yaitu keadaan di mana emosi yang melimpah membuat seseorang tidak mampu berpikir dengan jernih dan rasional (Gottman & Silver, 1999).
Sebaliknya, pasangan yang dapat mengatur emosinya cenderung lebih mudah untuk saling mendengarkan, lebih cepat menemukan solusi dari konflik, dan jarang memendam luka yang tidak terucapkan, namun mereka punya cara untuk kembali pulih setelah masalah menghampiri.
Amarah dalam Perspektif Islam: Bukan Musuh, Tapi Ujian
Islam tidak melarang manusia merasakan amarah. Amarah adalah bagian alami dari sifat manusia — perasaan emosional yang sudah diciptakan Allah sebagai tanda bahwa sesuatu yang dianggap tidak adil atau menyakitkan terjadi. Masalahnya bukanlah adanya amarah itu sendiri, tapi cara amarah itu dielola dan diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan keluarga.
Ketika seseorang terpengaruh oleh amarah, otak akan memasuki kondisi fight-or-flight, di mana amigdala mengambil alih kendali dan kemampuan berpikir secara rasional menjadi lemah sementara. Ini disebut sebagai amygdala hijack menurut psikolog Goleman tahun 1995. Pada saat itu, kata-kata yang terucap sering kali bukan mencerminkan maksud sebenarnya, melainkan ledakan yang meninggalkan luka mendalam dalam hubungan antara suami dan istri.
Islam memberikan solusi yang praktis dan telah terbukti efektif secara ilmiah, yaitu dengan mengubah posisi tubuh. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seseorang yang sedang marah untuk duduk jika sedang berdiri, dan berbaring jika perasaannya masih belum tenang (HR). Abu Dawud). Dari sudut pandang neurosains, perubahan postur ini membantu meredakan aktivitas sistem saraf simpatik yang memicu respons agresif. Selain itu, nasihat untuk berwudhu saat sedang marah juga sesuai dengan penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa kontak air dingin pada wajah dapat memicu refleks diving yang membuat jantung berdetak lebih lambat dan menenangkan sistem saraf.Jadi, amarah dalam Islam bukanlah sesuatu yang harus ditakuti atau dipadamkan sepenuhnya. Ia adalah ujian yang, jika dihadapi dengan bijak, bisa menjadi jalan menuju pertumbuhan emosional dan kebahagiaan dalam rumah tangga.
Teknik Regulasi Emosi dalam Konflik Rumah Tangga
Tahu bahwa amarah itu perlu dikendalikan adalah hal yang penting. Tapi ketika pertengkaran benar-benar berlangsung, suara mulai berubah menjadi lebih tinggi, perasaan sesak di dada, kata-kata sudah hampir keluar dari mulut, teori itu terasa sangat jauh. Yang dibutuhkan bukan lagi penjelasan, tetapi sesuatu yang bisa langsung dikerjakan.
Teknik pertama yang paling mudah adalah berhenti sejenak. Bukan lari dari masalah, juga bukan diam sebagai hukuman. Tapi berhenti karena menyadari bahwa pikiran sedang tidak dalam kondisi terbaik untuk berbicara. Tubuh membutuhkan minimal 20 menit agar bisa benar-benar pulih dari perasaan emosional yang sangat intens (Gottman & Silver, 1999). Selama masa itu, terus berdebat sama seperti membuang bensin ke api. Islam sudah mengajarkan hal ini jauh sebelum penelitian modern menemukannya. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, "Jika salah seorang dari kalian marah, maka biarkan dia diam." (HR.) Ahmad). Diam yang dimaksud bukan berarti menyerah, tapi memberi waktu agar pikiran bisa kembali tenang dan jernih.
Teknik kedua adalah mencoba melihat kondisi dari perspektif yang berbeda. Dalam psikologi, istilahnya adalah cognitive reappraisal artinya, kita mengevaluasi ulang pikiran awal yang muncul. Ketika pasangan pulang terlambat tanpa memberi tahu, reaksi pertama yang muncul mungkin langsung adalah dia tidak peduli. Tapi kalau jujur, apakah hal itu benar-benar terjadi, atau hanya karena kita sedang lelah dan cemas saja (Finkel et al., 2013). Islam menyebut sikap ini dengan istilah husnuzan, yaitu sikap berbaik sangka. Tidak berarti mengabaikan masalah, tapi tidak terburu-buru menyalahkan sebelum semua fakta terungkap.
Teknik ketiga mungkin terdengar remeh, tapi hasilnya jelas: ubah posisi badanmu. Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk duduk ketika sedang marah, dan jika amarah belum berlalu, maka berbaringlah. Ini bukan hanya sekedar tindakan simbolis secara ilmiah, perubahan posisi tubuh membantu mengurangi kegiatan sistem saraf yang menyebabkan respons agresif. Tubuh yang berpindah posisi mengirim sinyal baru ke otak, membantu seseorang secara perlahan keluar dari keadaan bertahan dan menyerang (Buchheit et al., 2009; Neurosomatic Research, 2025).
Semua teknik ini memiliki tujuan yang sama, yaitu bukan mencegah konflik terjadi, tetapi memastikan konflik dapat diselesaikan dengan kondisi yang tepat. Pertengkaran yang terjadi dengan pikiran yang marah biasanya hanya membuat masalah jadi lebih parah dan meninggas lebih lama. Tapi ketika dua orang bisa tenang dulu, percakapan selanjutnya jadi lebih mungkin berakhir dengan saling paham, bukan saling menyalahkan.
Komunikasi Empati Berbicara dari Hati, Bukan dari Ego
Setelah emosi berlalu, banyak pasangan merasa bagian yang sulit sudah selesai. Padahal, justru di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Karena bukan hanya isi pesan yang menentukan arah percakapan, tetapi juga cara mengucapkannya. Pernah tidak, meskipun sudah berusaha berbicara dengan tenang, tapi akhirnya masih terjadi perkelahian? Seringkali bukan karena pesan itu salah, tapi karena cara penyampaiannya tanpa disadari terdengar seperti serangan. Di situlah komunikasi empatik berperan.
Islam sudah lama membangun dasar ini melalui konsep qaulan ma'rufan berbicara dengan cara yang baik dan patut. Dalam QS. Ayat Al-Baqarah: 235, Allah menggunakan kata ini untuk menjelaskan cara berbicara yang menjunjung tinggi perasaan orang lain. Bukan tentang memilih kata-kata yang terdengar bagus, tapi tentang maksud di baliknya — apakah kita berbicara agar orang memahami, atau agar menang?
Cara paling nyata untuk menerapkan hal itu adalah dengan memperhatikan siapa yang menjadi pelaku dalam kalimat kita. Ada perbedaan besar antara "Aku merasa tidak diperhatikan ketika kamu pulang tanpa kabar" dan "Kamu tidak pernah peduli sama aku." Kalimat pertama menyampaikan perasaan tanpa menyerang, memberi kesempatan kepada pasangan untuk mendengarkan dan merespons. Kalimat kedua langsung membangun tembok. Penelitian Kubany dan tim menunjukkan bahwa menggunakan I-language justru lebih jarang menyebabkan reaksi defensif dan lebih mendorong sikap kerja sama dari pasangan dibandingkan you-language yang biasanya membuat orang merasa diserang (Kubany et al., dalam Rackley et al., 2018). Dalam konteks yang lebih luas, Marshall Rosenberg menyebut metode ini sebagai Komunikasi Tanpa Kekerasan cara berkomunikasi yang fokus pada perasaan dan kebutuhan, bukan pada penilaian atau tuduhan (Rosenberg, 2003).
Tapi berbicara dengan baik saja tidak cukup kalau tidak diimbangi dengan kemampuan mendengar yang benar-benar tulus. Mendengar di sini bukan hanya menunggu giliran untuk berbicara sambil merangkai argumen di kepalanya. Mendengar secara benar adalah hadir sepenuhnya — mendengarkan kata-katanya, nada suaranya, bahkan hal-hal yang tidak iaucapkan. Sebuah penelitian yang diterbitkan di Journal of Family Psychology menunjukkan bahwa pasangan yang menggunakan pendengar aktif dan empati mengalami kepuasan dalam hubungan yang lebih baik serta menghadapi konflik yang lebih sedikit (Smith et al., 2023). Gottman dan Silver (1999) menemukan bahwa pasangan yang bisa bertahan lama dalam pernikahan bahagia memiliki perbandingan antara interaksi positif dan negatif sebesar 5:1.Artinya, untuk setiap satu momen yang menyebabkan ketegangan, ada lima momen kehangatan yang menyeimbangkannya. Salah satu momen positif yang paling mudah adalah merasa benar-benar diambil peduli.
Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik dalam hal ini. Beliau dikenal sebagai orang yang tidak pernah mengganggu pembicaraan orang lain, selalu fokus dan menatap dengan penuh perhatian saat berbicara dengan seseorang, serta memperlakukan istrinya dengan lembut yang benar-benar tulus, bukan hanya lembut secara paksa. Aisyah r.a.menceritakan bagaimana Nabi ﷺ selalu mendengarkan dengan baik dan memberikan tanggapan yang perhatian, bahkan dalam situasi yang sulit sekali pun.
Pada akhirnya, komunikasi empatik bukan tentang siapa yang lebih cerdas dalam berdebat atau siapa yang lebih dulu meminta maaf. Ini soal apakah dua orang yang duduk muka ke muka itu merasa didengar, dihargai, dan nyaman untuk jujur. Karena rumah tangga yang kuat tidak terbangun dari pasangan yang selalu bertengkar tapi dari pasangan yang tahu cara saling kembali satu sama lain setelah badai berlalu.
Memaafkan sebagai Proses, Bukan Kelemahan Banyak pasangan sudah bisa tenang, bisa duduk dan berbicara dengan baik, tetapi masih merasa ada rasa sakit atau perasaan tersendat di dalam dada. Bukan karena masalahnya belum dibicarakan habis, tapi karena ada satu langkah yang sering luput diingat, yaitu memaafkan.
Memaafkan adalah salah satu konsep yang paling sering disalah artikan dalam hubungan. Banyak orang menghindarinya bukan karena tidak ingin, tapi karena takut takut dianggap lemah, takut kesalahannya tidak dianggap serius, atau takut hal yang sama akan terjadi lagi. Padahal, memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang tidak sama. Maafkan juga tidak berarti sudah rekonsiliasi yaitu kembali bersikap seperti tidak ada yang terjadi. Dalam psikologi, memaafkan diartikan sebagai keputusan yang disadari untuk melepaskan perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk membalas.Proses ini terjadi di dalam diri seseorang, dan tidak bergantung pada apakah orang yang menyakiti itu sudah meminta maaf atau belum (Psychology Today, 2024). Rekonsiliasi, di sisi lain, adalah cara memulihkan kepercayaan bersama — dan itu membutuhkan usaha dari kedua pihak.
Dari segi ilmu, manfaat memaafkan jauh lebih besar daripada hanya soal hubungan antar manusia. Worthington (2006), salah satu peneliti terkenal di bidang ini, menemukan bahwa memaafkan dapat mengurangi tingkat stres, meningkatkan kesejahteraan mental, serta merangsang sistem saraf parasimpatik—sistem yang bertugas membawa tubuh kembali ke kondisi rileks setelah mengalami tekanan emosional. Justru menyimpan rasa sakit dalam waktu lama bisa membuat tubuh terus-menerus mengalami stres, dan perlahan-lahan hal ini bisa memengaruhi kesehatan fisik serta mental (Worthington & Scherer, 2004). Dengan kata lain, ketika seseorang tidak mau memaafkan, ia bukan sedang menghukum pasangannya, tapi ia sedang menghukum dirinya sendiri.
Islam tidak hanya memandang memaafkan sebagai hal yang baik, tetapi juga menempatkannya sebagai bagian dari kekuatan jiwa yang sejati. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 134, memuji orang-orang yang bisa mengendalikan kemarahan mereka dan memaafkan kesalahan orang lain. Menariknya, ayat ini tidak menyatakan bahwa orang yang memaafkan tidak merasakan sakit melainkan orang yang memilih untuk tidak membiarkan rasa sakit itu mengambil alih tindakan mereka. Ini sesuai tepat dengan definisi psikologis tentang memaafkan: sebuah keputusan yang disadari, bukan perasaan yang muncul tiba-tiba.
Yang penting adalah bahwa memaafkan adalah proses, bukan tombol yang bisa ditekan langsung. Ada pasangan yang membutuhkan waktu beberapa hari, ada yang sampai beberapa minggu, dan itu adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah keinginan untuk hadir artinya ada niat untuk tidak terus menyimpan rasa sakit, karena luka yang tidak diatasi tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya bersembunyi, dan nanti akan muncul lagi dalam bentuk yang berbeda di waktu yang lain.
Maafkan bukan berarti apa yang terjadi tidak menyakitkan. Bukan berarti kesalahan pasangan dibenarkan. Maafkan adalah pilihan seseorang untuk tidak membiarkan masa lalu terus memengaruhi perasaan mereka hari ini dan itu, justru, merupakan salah satu bentuk kekuatan terbesar dalam sebuah pernikahan.
Membangun Keluarga yang Kuat: Satu Tindakan Setiap Harinya.
Tidak ada keluarga yang sempurna. Tidak ada pasangan yang selalu benar dalam berbicara, selalu memahami dengan tepat, atau selalu menghindari menyakiti satu sama lain baik secara sengaja maupun tidak. Yang membedakan keluarga yang bisa bertahan bukan karena tidak ada konflik, melainkan karena berani belajar dari setiap konflik yang terjadi.
Mengelola kemarahannya, berkomunikasi dengan penuh empati, dan memaafkan bukanlah keahlian yang muncul begitu saja. Ia dibangun perlahan dari satu pertengkaran yang berhasil diatasi dengan tenang, dari satu kalimat yang dipilih dengan rapi, dari satu keputusan untuk memaafkan meski masih terasa berat. Islam dan psikologi modern keduanya menunjukkan hal yang sama, yaitu bahwa keluarga yang harmonis bukanlah hadiah yang tiba-tiba jatuh dari langit, melainkan hasil dari dua orang yang setiap hari memutuskan untuk saling mendukung dan menjaga pilihan itu bisa dimulai dari hari ini.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Bukhari, M. I. (w. 256 H). Sahih al-Bukhari. Dar Tawq al-Najah.
Muslim ibn al-Hajjaj. (w. 261 H). Sahih Muslim. Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi.
Abu Dawud, S. A. (w. 275 H). Sunan Abi Dawud. Dar al-Risalah al-'Alamiyyah.
Ahmad ibn Hanbal. (w. 241 H). Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal. Mu'assasah al-Risalah.
Bloch, L., Haase, C. M., & Levenson, R. W. (2014). Emotion regulation predicts marital satisfaction: More than a wives' tale. Journal of Family Psychology, 28(1), 130–134. https://doi.org/10.1037/a0034972
Buchheit, M., Simon, C., Piquard, A., Muzet, A., & Brandenberger, G. (2009). Effect of body posture on autonomic nervous system activity. European Journal of Applied Physiology, 106(3), 331–340.
Finkel, E. J., Slotter, E. B., Luchies, L. B., Walton, G. M., & Gross, J. J. (2013). A brief intervention to promote conflict reappraisal preserves marital quality over time. Psychological Science, 24(8), 1595–1601. https://doi.org/10.1177/0956797612474938
Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. Bantam Books.
Gottman, J. M., & Silver, N. (1999). The seven principles for making marriage work. Crown Publishers.
Gross, J. J., & John, O. P. (2003). Individual differences in two emotion regulation processes: Implications for affect, relationships, and well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 85(2), 348–362. https://doi.org/10.1037/0022-3514.85.2.348
Psychology Today. (2024). Forgiveness. https://www.psychologytoday.com/us/basics/forgiveness
Rackley, S., Miller, R. B., Coyne, J. C., & Beach, S. R. H. (2018). The role of I-language versus you-language in couples' conflict discussions. Journal of Couple & Relationship Therapy, 17(2), 129–147.
Rosenberg, M. B. (2003). Nonviolent communication: A language of life. PuddleDancer Press.
Smith, J., Jones, A., & Brown, K. (2023). Active listening and empathy in marital relationships. Journal of Family Psychology, 37(2), 215–228.
Worthington, E. L., Jr. (2006). Forgiveness and reconciliation: Theory and application. Routledge.
Worthington,E.L.,Jr.,&Scherer,M.(2004).Forgivenessisanemotion-focusedcopingstrategythatcanreducehealthrisksandpromotehealthresilience.Psychology&Health,19(3),385–405.https://doi.org/10.1080/0887044042000196674
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
