Burnout pada Generasi Muda yang Harus Belajar dan Bekerja Sekaligus
Eduaksi | 2026-06-23 07:55:47
Di era sekarang, menjadi pelajar tidak selalu berarti hanya fokus belajar di sekolah. Banyak remaja yang juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan pribadi, membantu perekonomian keluarga, atau sekadar menambah pengalaman sebelum memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. Fenomena ini semakin mudah ditemukan, terutama dengan banyaknya peluang kerja paruh waktu yang tersedia, baik secara langsung maupun melalui platform digital.
Bagi sebagian orang, bekerja sambil sekolah dianggap sebagai sesuatu yang membanggakan. Remaja yang mampu menghasilkan uang sendiri seringkali dipandang lebih mandiri dan bertanggung jawab. Namun, di balik pencapaian tersebut terdapat tantangan yang tidak sederhana. Menjalani dua peran sekaligus sebagai pelajar dan pekerja menuntut kemampuan membagi waktu, tenaga, serta fokus yang tidak sedikit. Ketika tuntutan tersebut terus menumpuk tanpa diimbangi dengan waktu istirahat yang memadai, kondisi burnout dapat muncul secara perlahan.
Istilah burnout pertama kali diperkenalkan oleh Freudenberger (1974) untuk menggambarkan kondisi kelelahan yang muncul akibat stres berkepanjangan. Seiring perkembangan penelitian psikologi, burnout tidak hanya ditemukan pada pekerja, tetapi juga pada individu yang berada dalam lingkungan pendidikan. Maslach, Schaufeli, dan Leiter (2001) menjelaskan bahwa burnout merupakan sindrom psikologis yang ditandai oleh kelelahan emosional, sikap sinis terhadap aktivitas yang dijalani, serta menurunnya rasa kompetensi diri.
Dalam konteks pendidikan, burnout sering disebut sebagai burnout akademik. Kondisi ini ditandai dengan rasa lelah terhadap kegiatan belajar, menurunnya motivasi, hingga munculnya perasaan tidak peduli terhadap tugas maupun tanggung jawab akademik (Schaufeli et al., 2002). Siswa yang mengalami burnout biasanya tidak lagi menikmati proses belajar seperti sebelumnya. Mereka datang ke sekolah karena kewajiban, bukan karena memiliki semangat untuk belajar.
Masalah ini menjadi semakin kompleks ketika siswa juga memiliki pekerjaan. Bayangkan seorang remaja yang harus mengikuti pelajaran sejak pagi, mengerjakan tugas sekolah, lalu melanjutkan bekerja hingga malam hari. Ketika sampai di rumah, tenaga yang tersisa sering kali tidak cukup untuk beristirahat dengan baik, apalagi melakukan kegiatan yang menyenangkan. Rutinitas seperti ini mungkin bisa dijalani dalam waktu tertentu, tetapi jika berlangsung terus-menerus, dampaknya terhadap kesehatan mental tidak bisa diabaikan.
Fenomena burnout akademik saat ini menjadi perhatian banyak peneliti. Maysarah dkk. (2024) menemukan bahwa 57,2% siswa SMA mengalami burnout akademik dengan dimensi yang paling dominan berupa kelelahan fisik, mental, dan emosional. Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan yang dirasakan siswa saat ini bukanlah persoalan sederhana. Burnout telah menjadi masalah yang nyata dan perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak.
Tuntutan akademik yang semakin tinggi menjadi salah satu penyebabnya. Sistem pendidikan masih menempatkan prestasi sebagai ukuran utama keberhasilan siswa. Mereka dituntut memperoleh nilai yang baik, aktif mengikuti kegiatan sekolah, dan mampu bersaing dengan teman-temannya. Pada saat yang sama, sebagian siswa juga harus memikirkan jadwal kerja, target pekerjaan, serta tanggung jawab lain di luar sekolah. Tidak mengherankan apabila banyak dari mereka merasa kehabisan energi.
Kelelahan yang muncul tidak selalu terlihat secara langsung. Ada siswa yang tetap hadir di kelas setiap hari dan menyelesaikan tugas tepat waktu, tetapi sebenarnya sedang berjuang menghadapi tekanan yang besar. Mereka merasa lelah hampir setiap saat, sulit berkonsentrasi ketika belajar, mudah tersinggung, bahkan kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai. Kondisi ini sering kali tidak disadari oleh lingkungan sekitar karena siswa masih berusaha menjalankan perannya seperti biasa.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui teori Job Demands-Resources (JD-R). Menurut Bakker dan Demerouti (2007), burnout muncul ketika tuntutan yang dihadapi individu lebih besar dibandingkan sumber daya yang dimilikinya. Sumber daya tersebut dapat berupa dukungan sosial, kemampuan mengelola stres, waktu istirahat yang cukup, maupun kondisi kesehatan yang baik. Ketika tuntutan akademik dan pekerjaan hadir secara bersamaan tanpa diimbangi sumber daya yang memadai, risiko burnout menjadi semakin tinggi.
Selain tuntutan sekolah dan pekerjaan, perkembangan media sosial juga turut memberikan tekanan tersendiri bagi generasi muda. Saat membuka media sosial, remaja sering kali melihat berbagai pencapaian orang lain yang tampak sempurna. Ada yang berhasil memperoleh nilai tinggi, aktif berorganisasi, memiliki pekerjaan, bahkan membangun usaha sendiri. Tanpa disadari, kondisi tersebut dapat menimbulkan perbandingan sosial yang membuat seseorang merasa tertinggal.
Menurut Santrock (2019), masa remaja merupakan periode perkembangan yang ditandai dengan pencarian identitas diri dan meningkatnya sensitivitas terhadap penilaian sosial. Oleh karena itu, paparan terhadap standar kesuksesan yang tinggi di media sosial dapat meningkatkan tekanan psikologis pada remaja. Mereka merasa harus mampu melakukan banyak hal sekaligus agar dianggap berhasil, padahal setiap individu memiliki kapasitas yang berbeda-beda.
Dampak burnout tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Dari sisi akademik, burnout sering dikaitkan dengan menurunnya prestasi belajar, rendahnya motivasi akademik, serta meningkatnya risiko ketidakhadiran di sekolah (Schaufeli et al., 2002). Ketika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, siswa dapat kehilangan minat terhadap pendidikan dan merasa tidak mampu mencapai target yang diharapkan.
Fenomena siswa yang bekerja sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial dan ekonomi masyarakat saat ini. Meningkatnya kebutuhan hidup membuat sebagian keluarga tidak mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Dalam situasi seperti ini, bekerja menjadi pilihan yang dianggap rasional. Tidak sedikit siswa yang menggunakan penghasilannya untuk membayar biaya transportasi, membeli perlengkapan sekolah, membantu kebutuhan rumah tangga, atau bahkan menabung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keputusan untuk bekerja sering kali bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan juga bentuk adaptasi terhadap tuntutan lingkungan.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital turut mengubah cara generasi muda memandang pekerjaan. Saat ini, peluang memperoleh penghasilan dapat ditemukan dengan lebih mudah melalui media sosial dan berbagai platform digital. Banyak remaja yang menjadi content creator, reseller, admin media sosial, desainer lepas, hingga pekerja layanan digital lainnya. Fleksibilitas yang ditawarkan pekerjaan tersebut memang memberikan keuntungan, tetapi sering kali membuat batas antara waktu belajar, bekerja, dan beristirahat menjadi semakin kabur. Akibatnya, siswa dapat terus merasa "harus produktif" hampir sepanjang waktu.
Budaya produktivitas yang berkembang di media sosial juga berperan dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap kesuksesan. Berbagai konten yang menampilkan pencapaian di usia muda sering kali memunculkan keyakinan bahwa seseorang harus mampu menghasilkan uang, memiliki prestasi akademik tinggi, aktif berorganisasi, dan tetap memiliki kehidupan sosial yang baik secara bersamaan. Padahal, standar tersebut tidak selalu realistis untuk setiap individu. Ketika seseorang terus berusaha memenuhi berbagai ekspektasi tersebut tanpa mempertimbangkan kondisi dirinya, tekanan psikologis yang muncul dapat semakin besar.
Kondisi burnout yang dialami siswa sering kali tidak langsung dikenali. Banyak siswa menganggap kelelahan yang mereka rasakan sebagai hal yang biasa karena sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Mereka tetap datang ke sekolah, menyelesaikan pekerjaan, dan berusaha memenuhi berbagai tanggung jawab meskipun sebenarnya sedang mengalami kelelahan yang cukup berat. Akibatnya, burnout sering terlambat disadari hingga akhirnya memengaruhi kesehatan fisik maupun psikologis secara lebih serius.
Apabila berlangsung dalam jangka panjang, burnout dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap perkembangan individu. Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan identitas, pengembangan potensi diri, dan persiapan menuju masa dewasa (Santrock, 2019). Ketika sebagian besar energi dihabiskan untuk menghadapi tekanan akademik dan pekerjaan, kesempatan untuk mengeksplorasi minat, membangun hubungan sosial yang sehat, serta mengembangkan keterampilan lain dapat menjadi berkurang. Dalam kondisi tertentu, hal ini berpotensi memengaruhi kualitas hidup individu pada masa mendatang.
Oleh karena itu, penting untuk membangun kesadaran bahwa kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan pendidikan. Selama ini, keberhasilan sering kali hanya diukur melalui nilai akademik atau pencapaian ekonomi. Padahal, kemampuan menjaga keseimbangan antara tuntutan hidup dan kesejahteraan psikologis juga merupakan indikator penting dari perkembangan yang sehat. Generasi muda tidak hanya membutuhkan kesempatan untuk berprestasi, tetapi juga ruang untuk beristirahat, belajar mengenali dirinya sendiri, dan menikmati proses pertumbuhan yang mereka jalani.
Dari sisi kesehatan mental, burnout juga berkaitan dengan meningkatnya tingkat stres, kecemasan, dan depresi (American Psychological Association, 2023). Individu yang mengalami burnout cenderung merasa tidak berdaya, kehilangan energi, dan mengalami kesulitan menikmati aktivitas sehari-hari. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa terlalu lelah untuk berinteraksi dengan orang lain.
Sayangnya, banyak orang masih menganggap kelelahan sebagai sesuatu yang normal. Ungkapan seperti "masa muda harus digunakan untuk bekerja keras" sering kali membuat keluhan kelelahan dianggap sebagai tanda kurang kuat menghadapi tantangan. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (2019) telah mengakui burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan stres kronis yang tidak berhasil dikelola dengan baik. Artinya, burnout bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan kondisi yang perlu diperhatikan secara serius.
Karena itu, penting bagi siswa yang bekerja untuk mulai mengenali batas kemampuannya. Menjadi produktif memang penting, tetapi menjaga kesehatan mental juga merupakan kebutuhan yang tidak boleh diabaikan. Mengatur jadwal secara realistis, memberikan waktu yang cukup untuk beristirahat, serta menjaga keseimbangan antara belajar dan bekerja merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mencegah burnout.
Dukungan sosial juga memiliki peran yang sangat penting. Menurut Sarafino dan Smith (2017), individu yang memperoleh dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitarnya cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan hidup. Dukungan tersebut dapat berupa bantuan emosional, motivasi, maupun pemahaman terhadap kondisi yang sedang dialami seseorang.
Selain itu, sekolah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan mental siswa. Layanan konseling yang mudah diakses, edukasi mengenai burnout, serta lingkungan belajar yang mendukung kesejahteraan psikologis dapat menjadi langkah preventif yang efektif. Sekolah tidak hanya berperan dalam mengembangkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka tumbuh secara sehat dari segi mental dan emosional.
Pada akhirnya, fenomena siswa yang belajar sambil bekerja mencerminkan perubahan sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Di satu sisi, kondisi ini menunjukkan semangat, kemandirian, dan kemampuan adaptasi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman. Namun di sisi lain, terdapat risiko burnout yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius. Jangan sampai keinginan untuk meraih masa depan yang lebih baik justru membuat generasi muda mengorbankan kesehatan mentalnya sejak dini.
Keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya pencapaian yang diraih atau seberapa sibuk seseorang menjalani aktivitasnya. Keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan hidup, mengenali batas diri, dan merawat kesehatan mental di tengah berbagai tuntutan yang ada. Oleh karena itu, ketika sekolah tak lagi menjadi satu-satunya tanggung jawab yang harus dijalani, perhatian terhadap kesejahteraan psikologis generasi muda menjadi semakin penting untuk diwujudkan bersama.
Daftar Pustaka
American Psychological Association. (2023). Stress in America 2023: A nation recovering from collective trauma.
Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2007). The job demands-resources model: State of the art. Journal of Managerial Psychology, 22(3), 309–328.
Freudenberger, H. J. (1974). Staff burn-out. Journal of Social Issues, 30(1), 159–165.
Maslach, C., Schaufeli, W. B., & Leiter, M. P. (2001). Job burnout. Annual Review of Psychology, 52, 397–422.
Maysarah, N., dkk. (2024). Burnout akademik pada siswa SMA. (Sesuaikan dengan sumber yang digunakan).
Santrock, J. W. (2019). Adolescence (17th ed.). McGraw-Hill Education.
Sarafino, E. P., & Smith, T. W. (2017). Health psychology: Biopsychosocial interactions (9th ed.). Wiley.
Schaufeli, W. B., Martínez, I. M., Pinto, A. M., Salanova, M., & Bakker, A. B. (2002). Burnout and engagement in university students: A cross-national study. Journal of Cross-Cultural Psychology, 33(5), 464–481.
World Health Organization. (2019). Burn-out an occupational phenomenon: International Classification of Diseases (ICD-11).
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
