Mengapa Santri Gontor Betah Tinggal Jauh dari Orang Tua?
Pendidikan dan Literasi | 2026-06-25 18:53:32
“Pondok pesantren mengajarkan bahwa keluarga tidak selalu lahir dari hubungan darah, tetapi juga dari perjuangan, kebersamaan, dan doa yang dipanjatkan bersama.”
Kehidupan santri tidak lepas dari kedisiplinan. Mereka tinggal di asrama dengan berbagai aturan, belajar di kelas yang menuntut ketertiban, serta menjalani aktivitas harian yang senantiasa berpedoman pada nizham (peraturan) pondok.
Hal ini sejalan dengan nasihat KH. Hasan Adullah Sahal bahwa, “Tidak ada keberhasilan tanpa kedisiplinan dan tidak ada kedisiplinan tanpa keteladanan.”
Setelah lulus dari Pondok Pesantren Darussalam Gontor, ada satu pertanyaan yang cukup sering saya dengar dari masyarakat, wali santri, maupun calon santri:
“Apa yang membuat santri kerasan tinggal di pondok meski jauh dari orang tua?”
Sebagai orang yang pernah menjalani kehidupan tersebut, saya meyakini bahwa jawabannya tidak hanya satu.
Bukan hanya karena beragam aktivitas yang mengisi hari-hari para santri, tetapi juga karena tumbuhnya rasa persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian yang menjadikan setiap santri merasa memiliki keluarga di tempat yang jauh dari rumah.
Persahabatan yang Tumbuh dari Perjuangan Bersama
Di Pondok Modern Darussalam Gontor, para santri menjalani kehidupan bersama selama dua puluh empat jam. Mereka belajar di kelas yang sama, tinggal di asrama yang sama, mengikuti berbagai kegiatan pondok, hingga menghadapi tantangan kehidupan santri secara bersama-sama.
Kebersamaan yang terjalin setiap hari tersebut secara perlahan melahirkan hubungan yang lebih dari sekadar pertemanan.
Tidak sedikit santri yang menganggap sahabatnya sebagai saudara sendiri karena telah melalui berbagai pengalaman, baik suka maupun duka bersama-sama.
Persahabatan di pondok juga tumbuh melalui budaya saling membantu dan menguatkan. Ketika ada teman yang mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran, maupun kehidupan sehari-hari, santri lain akan berusaha memberikan bantuan dan dukungan.
Dari sinilah lahir ikatan emosional yang kuat dan sering kali tetap terjaga hingga bertahun-tahun setelah lulus. Persahabatan yang dibangun atas dasar perjuangan bersama inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak santri merasa kerasan tinggal di pondok.
Suasana Kekeluargaan yang Menjadikan Pondok sebagai Rumah Kedua
Meskipun jauh dari orang tua dan keluarga, santri Gontor tidak merasa hidup sendirian. Pondok Modern Darussalam Gontor menanamkan nilai ukhuwah Islamiyah yang kuat sehingga setiap santri diajarkan untuk saling menghormati, membantu, dan menjaga satu sama lain.
Kehangatan tersebut juga tercermin dalam hubungan antara para santri dengan gurunya yang tidak hanya sebatas hubungan guru dengan murid, namun juga seperti hubungan antara adik dengan abang.
Di sisi lain, para guru dan pembimbing senantiasa hadir memberikan arahan, perhatian, serta nasihat yang membuat santri merasa diperhatikan layaknya oleh keluarga sendiri.
Suasana kekeluargaan semakin terasa melalui berbagai kegiatan pondok, seperti pertemuan konsulat, kegiatan asrama, tanzhif ‘am (kerja bakti), maupun acara kebersamaan lainnya.
Dalam kegiatan-kegiatan tersebut, para santri belajar hidup bersama dengan berbagai karakter dan latar belakang yang berbeda. Kebersamaan yang terus terbangun inilah yang menjadikan pondok bukan sekadar tempat belajar, melainkan rumah kedua yang memberikan kenyamanan dan kehangatan bagi para santri.
Kehidupan yang Penuh Makna dan Pengalaman Berharga
Kehidupan di Pondok Modern Darussalam Gontor dipenuhi berbagai aktivitas yang sarat dengan nilai pendidikan. Para santri tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman melalui organisasi, muhadharah (latihan pidato), pramuka, perlombaan, kepanitiaan, serta berbagai kegiatan lainnya.
Seluruh aktivitas tersebut dirancang untuk membentuk karakter, melatih tanggung jawab, dan mengembangkan potensi santri secara menyeluruh. Oleh karena itu, kehidupan pondok tidak pernah terasa monoton karena selalu ada pelajaran dan pengalaman baru yang dapat dipetik setiap harinya.
Berbagai pengalaman tersebut kemudian menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Di balik jadwal yang padat dan aturan yang ketat, tersimpan banyak momen berharga yang membentuk kepribadian para santri.
Tidak heran jika banyak alumni mengaku merindukan masa-masa mereka di pondok setelah lulus.
Bagi sebagian santri, pondok bukan hanya tempat menuntut ilmu, melainkan tempat membentuk jati diri, belajar kehidupan, dan menemukan makna kebersamaan yang tidak selalu mereka temukan di luar pondok.
“Kehidupan di pondok mahal harganya, sukar dicari, dan jarang adanya” (KH. Imam Zarkasyi).
Bagi sebagian orang, tinggal bertahun-tahun di pondok mungkin terdengar berat. Namun bagi santri Gontor, pondok bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang tempat mereka bertumbuh, berjuang, dan menemukan keluarga kedua.
Di balik disiplin yang ketat, padatnya aktivitas, dan jauhnya jarak dari orang tua, tersimpan persahabatan yang tulus, kepedulian yang hangat, serta kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan.
Barangkali itulah alasan mengapa banyak alumni tidak hanya mengenang Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai tempat mereka belajar, tetapi juga sebagai rumah yang selalu dirindukan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
