Situs Purbakala Sendang Agung di Desa Urangagung, Sidoarjo
Wisata | 2026-07-04 19:21:25Desa Urangagung adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Mojorangagung dan Desa Kebonagung, di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Pilang dan Desa Lebo, di sebelah timur berbatasan dengan Desa Salam dan Desa Cemeng Bakalan, di sebelah barat berbatasan dengan Desa Wonokasian dan Desa Sumberejo. Desa Urangagung berada di wilayah paling barat Kecamatan Sidoarjo. Desa ini juga merupakan salah satu desa tertua yang menjadi cikal bakal berdirinya Kabupaten Sidoarjo.
Dalam lingkup wilayah Desa Urangagung, banyak terdapat situs-situs bersejarah. Beberapa situs masih belum diteliti lebih lanjut, sehingga meninggalkan banyak misteri dan mitos-mitos yang sering dibicarakan para warga Desa Urangagung. Di antara banyaknya situs yang masih menjadi misteri dan mitos ini, ada satu situs yang sudah terkenal di Desa Urangagung, yaitu Situs Sendang Agung.
Situs Sendang Agung ditemukan di wilayah persawahan Dusun Njaretan, Desa Urangagung. Pada hari Kamis, tanggal 29 Oktober 2015, Bapak Gintono menemukan sebuah situs berupa tumpukan batu bata yang terlihat menyerupai saluran irigasi. Pada awalnya, Bapak Gintono melakukan penggalian sumur yang ada di tengah lahan persawahan beliau, karena sedang dalam musim kemarau yang panjang pada tahun tersebut dapat menyebabkan kekeringan di persawahan Desa Urangagung. Dikarenakan Bapak Gintono khawatir tanaman beliau mati, maka dilakukanlah penggalian sumur supaya dapat mengairi sawah beliau.
Setelah penggalian sumur sampai pada kedalaman tertentu, mata cangkul Bapak Gintono mengenai benda keras. Hal tersebut menyebabkan kesulitan dalam penggalian, akan tetapi Bapak Gintono tetap memaksa untuk mendongkel benda keras tadi. Ternyata mata cangkul Bapak Gintono menyangkut pada sebuah batu bata yang tampak kuno, dengan ukuran besar dan tebal. Ukuran batu bata tersebut terlihat berbeda dengan batu bata yang ada di kehidupan sehari-hari. Kemudian Bapak Gintono segera melaporkan temuan tersebut kepada pengurus RT/RW setempat. Temuan situs tersebut memancing perhatian warga Dusun Njaretan dan sekitarnya untuk datang dan melihat.
Pihak RT/RW setempat segera mengadakan kerja bakti warga Dusun Njaretan setelah menerima laporan dari Bapak Gintono. Dengan didasari rasa penasaran warga setempat, kerja bakti dilaksanakan untuk memastikan bentuk dan ukuran batu bata kuno tersebut. Setelah beberapa saat proses penggalian, struktur batu bata yang diduga saluran irigasi tersebut mulai tampak bentuknya.
Berita penemuan situs purbakala ini kemudian menyebar dengan cepat. Banyak pihak-pihak lain mulai berdatangan seiring dengan semakin besarnya pemberitaan di media terkait penemuan situs purbakala tersebut. Pihak-pihak tersebut antara lain pemerintah Kelurahan Urangagung, Pemerintah Kecamatan Sidoarjo Kota, Polsek Kota Sidoarjo, dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan.
Hasil survei dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Trowulan, Mojokerto, telah memastikan bahwa penemuan situs tersebut merupakan peninggalan purbakala. Ditemukan batuan bata yang tersusun rapi membentuk seperti sendang atau kolam air pada penggalian dengan kedalaman 1,5 meter. Kemungkinan susunan batu bata tersebut merupakan salah satu bangunan peninggalan dari kerajaan yang pernah berkuasa di daerah Sidoarjo, bisa jadi pada zaman kekuasaan Kerajaan Jenggala ataupun Kerajaan Majapahit.
Situs purbakala tersebut kemudian dinamai Sendang Agung. Sendang diambil dari nama situs tersebut yang berbentuk seperti sendang atau kolam air, dan Agung diambil dari nama Desa Urangagung. Banyak warga desa lain datang membawa botol-botol kosong untuk mengambil air dari situs tersebut untuk keperluan sehari-hari. Tidak menutup kemungkinan, dengan kentalnya mitos banyak warga berkeyakinan bahwa air dari situs tersebut memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit, dan lain-lain.
Dari hasil penelitian Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Ph air Situs Sendang Agung berada di atas normal atau bersifat alkali. Dari sini dapat dikatakan bahwa air di Sendang Agung layak dikonsumsi dan baik untuk kesehatan.
Adanya kemungkinan bahwa masih ada situs lainnya yang tersebar di sekitar Sendang Agung, mahasiswa ITS Surabaya melakukan survei georadar seperti yang pernah mereka lakukan pada Situs Pelawangan Suwaluh Balongbendo. Dan benar saja, pada bulan Desember 2015, dari jarak 50 meter dari temuan pertama, ditemukan sumur kuno berbentuk oval dengan kedalaman 5 meter.
Penemuan situs lainnya pun berlanjut. Temuan ketiga ditemukan pada bulan Januari 2016. Bentuknya berupa struktur batu bata. Letaknya berada di sebelah utara temuan pertama. Kemudian pada bulan Desember 2016, ditemukan penemuan keempat yang berada di sebelah barat temuan ketiga.
Sekitar bulan November 2017, temuan kelima ditemukan, letaknya berada di selatan temuan pertama. Dengan temuan kelima ini, sempat terjadi kehebohan. Adanya salah paham antara pihak BPCB Trowulan dan pihak Paguyuban Sendang Agung terkait penggalian yang dilakukan secara swadaya. Pihak BPCB Trowulan memberikan teguran keras kepada warga Njaretan, khususnya Paguyuban Sendang Agung, untuk menghentikan penggalian situs yang dianggap liar dan melanggar Undang-Undang Cagar Budaya. Para penggali tersebut tidak memenuhi syarat dan tidak memiliki kompetensi, sehingga kegiatan penggalian tidak sesuai dengan prosedur yang seharusnya.
Aktivitas penggalian liar tersebut terjadi karena warga setempat masih belum mendapatkan kejelasan mengenai status Sendang Agung dari BPCB. Pada akhirnya, warga desa mau menghentikan penggalian, namun tetap memperjuangkan status Sendang Agung agar diakui secara resmi sebagai Situs Cagar Budaya.
Temuan situs di sekitar Sendang Agung masih belum selesai. Dua hari setelah Kirab Agung 7 Tumpeng, secara tidak sengaja warga menemukan sebuah sumur kuno. Pada 13 September 2018, sebuah sumur kuno ditemukan lagi, kali ini ditemukan oleh Mbah Gino.
Hasil penelitian pihak ITS pada akhir 2015, pada grafik geolistrik ITS menunjukkan banyak sekali yang diduga sebagai struktur bangunan kuno yang ada di sekitar Situs Sendang Agung. Semoga dengan ini pemerintah Sidoarjo dan warganya dapat melestarikan situs-situs tersebut dengan baik.
Referensi
Vidiyoga, Sos Edwin. (2016). Investigasi Batuan Purbakala Menggunakan Metode Resistivitas: Studi Kasus di Situs Sendang Agung, Desa Urangagung, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo. (Tugas Akhir, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2016) Diakses dari chrome-extension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://core.ac.uk/download/pdf/291460478.pdf
Abdullah, T. (2021). Misteri Yang Belum Terkuak. Diambil kembali dari Risalah Misteri: https://risalahmisteri.com/detail/1568/misteri-desa-urang-agung331625
Admin. (2017). Selayang Pandang Situs Urang Agung. Retrieved from Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya Gardawilwatikta: http://gardawilwatikta.blogspot.com/2017/12/selayang-pandang-situs-urang-agung.html
Duta.Co. (2017). BPCB Jatim Turun ke Situs Sendang Agung. Diambil kembali dari duta.co Kantor Berita Religius-Nasionalis: https://redaksi.duta.co/baca-duta-co-bpcb-jatim-turun-ke-situs-sendang-agung-sidoarjo/
Sidarta, M. (2015). Situs Urang Agung Keluarkan Air Berkhasiat. Diambil kembali dari Kompasiana: https://www.kompasiana.com/mawan.sidarta/564d73ebb79373fe06c06f4d/situs-urang-agung-keluarkan-air-berkhasiat?page=all#section1
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
