Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wardatun Nisa

Maraknya Tawuran Pelajar: Kegagalan Pengawasan atau Krisis Karakter?

Pendidikan | 2026-06-25 18:08:37

Tawuran pelajar masih menjadi persoalan yang sering terjadi di Indonesia hingga sekarang. Berbagai pemberitaan menunjukkan bahwa aparat kepolisian masih sering mengamankan pelaku tawuran yang sebagian besar berusia remaja. Bahkan di Jakarta, ratusan pelaku tawuran telah diamankan selama awal tahun 2026, yang menunjukkan bahwa masalah ini belum terselesaikan secara tuntas.

Gambar 1: metropolis.batampos.co.id

Menurut saya, tawuran bukan hanya masalah pelanggaran hukum semata, tetapi juga mencerminkan adanya persoalan sosial dan pendidikan yang lebih dalam. Banyak remaja terlibat tawuran karena pengaruh lingkungan pergaulan, lemahnya pengawasan keluarga, serta keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari kelompoknya. Di era media sosial saat ini, beberapa remaja bahkan menjadikan tawuran sebagai ajang menunjukkan eksistensi agar dianggap berani atau terkenal.

Jika dilihat dari perspektif kriminologi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori asosiasi diferensial dari Edwin H. Sutherland yang menyatakan bahwa perilaku menyimpang dipelajari melalui interaksi dengan kelompok yang mendukung tindakan tersebut. Ketika seorang remaja sering bergaul dengan teman yang menganggap tawuran sebagai hal biasa, maka kemungkinan besar ia akan meniru perilaku tersebut.

Selain itu, teori kontrol sosial dari Travis Hirschi juga relevan untuk menjelaskan kasus ini. Hirschi berpendapat bahwa seseorang akan cenderung melakukan penyimpangan apabila ikatannya dengan keluarga, sekolah, dan masyarakat melemah. Banyak pelaku tawuran berasal dari lingkungan yang kurang memberikan perhatian dan pengawasan terhadap perkembangan perilaku mereka.

Menurut saya, penanganan tawuran tidak cukup hanya dengan penegakan hukum. Hukuman memang penting untuk memberikan efek jera, tetapi langkah pencegahan jauh lebih penting. Sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter, keluarga harus lebih aktif mengawasi pergaulan anak, dan masyarakat perlu menyediakan kegiatan positif bagi remaja. Pendekatan seperti ini sejalan dengan berbagai kajian kriminologi yang menekankan pentingnya kerja sama antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah dalam mencegah kenakalan remaja.

Pada akhirnya, tawuran remaja adalah tanggung jawab bersama. Jika kita hanya menyalahkan pelaku tanpa memperbaiki lingkungan yang membentuk perilaku mereka, maka kasus serupa akan terus berulang. Oleh karena itu, pendidikan kriminologi harus menjadi sarana untuk memahami akar masalah kejahatan sekaligus mencari solusi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Oleh karena itu. Maraknya Tawuran Pelajar, menunjukkan bahwa masih terdapat masalah dalam pengawasan keluarga, lingkungan pergaulan, dan pendidikan karakter. Dari sudut pandang kriminologi, perilaku tersebut terbentuk karena proses belajar sosial dan lemahnya kontrol sosial. Oleh sebab itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama melalui keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah agar remaja dapat berkembang ke arah yang lebih positif.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image