Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Salwa Fauziah

Meritokrasi atau Privilege? Mengungkap Ketimpangan yang tak Terlihat di Kampus

Info Terkini | 2026-06-21 22:08:02

Kesempatan Mahasiswa di Perguruan Tinggi: Apakah Semua Berangkat dari Garis yang Sama?

Ilustrasi lingkungan perguruan tinggi sebagai ruang yang sering dipandang menerapkan prinsip meritokrasi. (Sumber: https://unsplash.com)

Perguruan tinggi sering dipandang sebagai ruang meritokrasi, di mana setiap mahasiswa dianggap memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan melalui kemampuan dan kerja keras. Namun, kenyataannya menunjukkan bahwa mahasiswa berasal dari latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya yang beragam. Sebagian di antaranya mendapat dukungan finansial, sumber daya pembelajaran yang memadai, dan akses luas terhadap informasi, sementara yang lain harus bekerja sambil kuliah atau membatasi partisipasi mereka dalam berbagai kegiatan akademik dan pengembangan diri karena keterbatasan finansial. Perbedaan kondisi awal ini menunjukkan bahwa kesuksesan di kampus tidak hanya ditentukan oleh usaha individu, tetapi juga oleh akses dan sumber daya yang tersedia sejak awal.

Privilege, Peluang, dan Ketimpangan di Lingkungan Kampus

Ilustrasi seminar atau kegiatan pengembangan kompetensi mahasiswa. (Sumber: https://unsplash.com)

Privilege di kampus tidak selalu berupa kemewahan. Privilege tersebut bisa berupa akses ke sumber daya pembelajaran, buku referensi, seminar, sertifikasi, atau waktu luang untuk aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Selain itu, latar belakang sosial-ekonomi sering kali memengaruhi lingkaran pergaulan mahasiswa, sehingga secara tidak langsung menciptakan batasan-batasan sosial tertentu. Akibatnya, ketidaksetaraan tidak hanya terjadi dalam hal ekonomi, tetapi juga dalam hal akses terhadap pengalaman, hubungan, da peluang untuk pengembangan diri.

Reproduksi Ketimpangan Sosial dalam Pendidikan Tinggi

Perspektif Pierre Bordieu menjelaskan bahwa pendidikan tidak selalu menjadi sarana mobilitas sosial, pendidikan juga dapat memperkuat ketimpangan yang sudah ada. Menurutnya, mahasiswa membawa berbagai bentuk modal saat mereka masuk perguruan tinggi, seperti modal ekonomi, modal budaya, dan modal sosial. Mahasiswa yang memiliki ketiga bentuk modal tersebut cenderung lebih mudah memanfaatkan peluang akademik maupun non-akademik. Sebaliknya, mereka yang memiliki modal terbatas harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan kesempatan yang setara. Dengan demikian, kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga dapat menjadi ruang yang secara tidak langsung mempertahankan ketidaksetaraan sosial.

Meritokrasi: Benarkah Keberhasilan Murni Hasil Kerja Keras?

Ilustrasi pencapaian prestasi mahasiswa. (Sumber: https://www.pexels.com)

Konsep meritokrasi menekankan bahwa kesuksesan ditentukan oleh kemampuan dan usaha. Namun, Michael Young menunjukkan bahwa meritokrasi bisa jadi hanyalah ilusi jika mengabaikan ketidaksetaraan peluang. Dalam kehidupan kampus, prestasi sering dipandang hanya sebagai hasil kerja keras, meskipun peluang untuk mengikuti kompetisi, memperoleh sertifikasi, membangun jaringan profesional, atau ikut serta dalam program pertukaran pelajar tidak tersedia secara merata bagi semua mahasiswa. Kerja keras tetap penting, tetapi hal itu terjadi dalam kondisi sosial yang beragam.

Mewujudkan Kesempatan Belajar yang Setara di Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi telah membuka akses terhadap pendidikan bagi berbagai kelompok masyarakat, namun penerimaan mahasiswa saja tidaklah cukup. Perguruan tinggi juga perlu memastikan bahwa setiap mahasiswa memiliki akses yang setara terhadap fasilitas, informasi, dan peluang untuk pengembangan diri. Dengan demikian, keberhasilan mahasiswa dapat lebih mencerminkan kemampuan dan kerja keras mereka, alih-alih hanya ditentukan oleh privilege atau sumber daya yang mereka miliki sejak awal.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image