Meritokrasi tanpa Ilusi: Kapabilitas tidak Tumbuh dari Ruang Kosong
Pendidikan dan Literasi | 2026-06-28 17:58:53Kita akrab dengan kalimat ini “usaha tidak akan mengkhianati hasil.” Kalimat ini terasa adil, bahkan menyemangati. Di balik kalimat itu tersimpan keyakinan bahwa siapa pun yang sungguh-sungguh bekerja keras akan mendapatkan tempat yang ia layak peroleh.
Keyakinan semacam itu adalah inti dari meritokrasi, yakni sistem di mana posisi, penghargaan, dan kesempatan diberikan berdasarkan kemampuan, usaha, dan prestasi, bukan berdasarkan koneksi, status keluarga, atau faktor lain yang tidak relevan. Dalam konteks pendidikan Indonesia, prinsip ini tercermin dalam sistem seleksi masuk perguruan tinggi negeri, SNBP menilai rekam akademik dan prestasi, sementara SNBT mengukur kemampuan kognitif melalui tes potensi skolastik dan literasi.
Meritokrasi adalah rem penting terhadap nepotisme, favoritisme, dan penghargaan yang tidak berbasis kemampuan. Tanpa standar yang jelas, sistem pendidikan mudah dikuasai oleh jaringan dan privilese tersembunyi. Maka, gagasan bahwa yang terbaiklah yang seharusnya maju adalah gagasan yang tidak perlu dibuang. Namun, ada pertanyaan yang perlu kita ajukan dengan jujur, apakah semua orang mendapat kesempatan yang cukup adil untuk membangun kemampuan itu sejak awal?
Kapabilitas Tidak Tumbuh dari Ruang Kosong
Bayangkan dua siswa yang duduk mengerjakan soal UTBK yang sama. Siswa pertama datang dari SMA di kota besar: ia terbiasa dengan perpustakaan lengkap, guru yang aktif melatih soal berpikir tingkat tinggi, akses internet di rumah, dan orang tua yang bisa menemaninya belajar di malam hari. Sejak SMP ia sudah ikut olimpiade, bergabung dengan English club, dan mendengar cerita kakak kelas yang lolos beasiswa ke luar negeri.
Siswa kedua berasal dari sekolah di pinggiran kabupaten. Gurunya sering merangkap urusan administrasi, perpustakaannya seadanya, dan ia baru mengenal istilah “UTBK” ketika duduk di kelas dua belas. Ia mengakses internet dari paket data yang berbagi dengan adik-adiknya, dan tidak pernah tahu ada lomba esai nasional yang bisa ia ikuti.
Ketika keduanya mendapatkan skor yang berbeda, meritokrasi tanpa konteks akan berkata: yang pertama lebih pintar dan lebih layak. Padahal, mungkin keduanya sama-sama keras kepala dalam belajar. Yang berbeda bukan kualitas usaha mereka, melainkan kualitas jalan yang mereka tempuh.
Efek Bola Salju yang Tidak Kita Sadari
Inilah yang disebut compounding effect dalam pendidikan. Kemampuan seseorang jarang lahir dalam satu momen ajaib. Ia tumbuh dari akumulasi kecil yang berlangsung bertahun-tahun. Anak yang sejak kelas satu SD sudah bisa membaca dengan lancar akan lebih mudah memahami pelajaran IPA di SMP. Pemahaman yang baik di SMP membuka pintu ke olimpiade. Olimpiade membuka pintu ke beasiswa. Beasiswa membuka pintu ke jaringan dan peluang berikutnya.
Sebaliknya, keterbatasan juga menumpuk dengan cara yang sama. Anak yang sejak awal tidak terbiasa membaca, bukan karena malas tetapi karena tidak ada buku di rumah dan tidak ada yang membacakan kepadanya, akan menghadapi hambatan yang terus berlipat ganda seiring waktu.
Data pendidikan menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar asumsi. OECD melalui PISA 2022 mencatat bahwa siswa Indonesia dari kelompok sosial-ekonomi teratas mengungguli siswa dari kelompok terbawah sebesar 34 poin dalam matematika. Selisih ini menunjukkan bahwa capaian belajar tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari latar sosial-ekonomi. World Bank juga pernah menyoroti masalah learning poverty di Indonesia, sementara data BPS tentang akses internet memperlihatkan bahwa akses digital masih menjadi bagian dari ketimpangan belajar. Dengan kata lain, “kemampuan” sering kali merupakan hasil dari ekosistem yang panjang: rumah, sekolah, guru, buku, internet, dan informasi.
Kesenjangan ini bukan hanya soal uang. Sejumlah laporan pendidikan juga menunjukkan bahwa kualitas sekolah dan lingkungan belajar berperan besar dalam capaian siswa. Ini menyangkut kualitas guru, ketersediaan buku, paparan informasi tentang lomba dan beasiswa, lingkungan yang menghargai pendidikan, serta rasa percaya diri yang terbentuk atau bahkan yang tidak sempat terbentuk sejak kecil.
Solusinya Bukan Rasa Kasihan, Melainkan Keadilan yang Lebih Jujur
Perlu ditegaskan: tulisan ini bukan seruan untuk menurunkan standar. Soal UTBK tidak perlu dipermudah. Nilai rapor tidak perlu dipalsukan. Standar kemampuan tetap penting, karena masyarakat membutuhkan tenaga ahli yang benar-benar kompeten, bukan sekadar lulusan yang lolos karena belas kasihan.
Yang perlu dipertanyakan adalah, apakah kita sudah cukup serius memastikan bahwa lebih banyak orang punya akses yang layak untuk membangun kemampuan sebelum mereka dinilai berdasarkan kemampuan itu?
Amartya Sen, ekonom peraih Nobel, menawarkan pendekatan kapabilitas yang relevan di sini. Sen menekankan bahwa keadilan sejati bukan hanya soal siapa yang akhirnya lolos, tetapi soal apakah seseorang benar-benar memiliki kebebasan dan kapasitas nyata untuk berkembang. Dalam konteks pendidikan, ini berarti bertanya: apakah anak dari pelosok Nusa Tenggara punya kesempatan nyata yang setara dengan anak dari Jakarta untuk membangun kemampuannya?
Jika jawabannya belum, maka sistem pendidikan kita belum selesai hanya dengan menyelenggarakan seleksi yang jujur. Ia perlu melangkah lebih jauh: memperluas akses ke guru berkualitas, buku, teknologi, informasi tentang beasiswa dan peluang, serta lingkungan belajar yang mendukung. Bukan karena kasihan kepada mereka yang tertinggal, melainkan karena masyarakat yang sehat membutuhkan meritokrasi yang berdiri di atas fondasi yang lebih rata.
Meratakan Jalan, Bukan Menghapus Garis Finish
Meritokrasi yang sehat bukan meritokrasi yang buta terhadap sejarah setiap orang. Ia adalah meritokrasi yang memahami bahwa kemampuan tidak tumbuh dari ruang kosong. Karena itu, tugas kita bersama adalah mempersempit jarak antara mereka yang harus berlari lebih jauh dengan mereka yang sudah berdiri lebih dekat ke garis finish sejak lahir. Bukan dengan menghapus garis finish. Tetapi dengan memastikan lebih banyak orang mendapat kesempatan yang layak untuk berlari.
Muhammad Bintang Jalaluddin Rumy
Mahasiswa S1 Sistem Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga
Sumber:
OECD. (2023). PISA 2022 Country Notes: Indonesia.
https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2022-results-volume-i-and-ii-country-notes_ed6fbcc5-en/indonesia_c2e1ae0e-en.html
World Bank. (2019). Indonesia Learning Poverty Brief. https://documents1.worldbank.org/curated/en/702481637235758178/pdf/Indonesia-Learning-Poverty-Brief-2019.pdf
BPS. Persentase Rumah Tangga yang Pernah Mengakses Internet menurut Provinsi dan Klasifikasi Daerah. https://www.bps.go.id
Sandel, M. J. (2020). The Tyranny of Merit: What’s Become of the Common Good? Farrar, Straus and Giroux.
Sen, A. (1999). Development as Freedom. Oxford University Press. Diringkas dalam: Internet Encyclopedia of Philosophy. https://iep.utm.edu/sen-cap/
SNPMB. Informasi Umum SNBP. https://snpmb.id/snbp/informasi-umum
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
