Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fidelia Madeline

Ketika Dessert Viral Menjadi Simbol Status Mahasiswa

Gaya Hidup | 2026-06-17 17:27:52
Ilustrasi antrean produk kuliner viral yang digemari generasi muda. (Sumber: Tangkapan Layar YouTube/jaiiibruh)

Bagi generasi yang kuliah pada awal tahun 2000-an, kantin kampus identik dengan sepiring nasi rames, segelas es teh manis, dan satu prinsip sederhana: murah dan mengenyangkan. Pilihan makanan kala itu lebih banyak ditentukan oleh kondisi dompet daripada pertimbangan gaya hidup.

Pemandangan tersebut kini mengalami perubahan yang cukup mencolok. Di sekitar kampus bermunculan kedai kopi berkonsep minimalis, gerai dessert ala Jepang, hingga berbagai jajanan viral yang kerap dipadati antrean mahasiswa. Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik: mengapa mahasiswa yang selama ini identik dengan keterbatasan finansial justru menjadi salah satu kelompok konsumen paling antusias terhadap produk kuliner premium?

Jawabannya tidak semata-mata terletak pada rasa makanan. Di era digital, makanan telah memperoleh fungsi baru yang melampaui kebutuhan biologis. Makanan kini juga menjadi bagian dari representasi diri di ruang publik virtual.

Fenomena tersebut tidak muncul begitu saja. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada tahun 2024. Sementara itu, laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal menunjukkan terdapat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025 atau setara 80,5 persen populasi. Dari jumlah tersebut, sekitar 180 juta merupakan pengguna media sosial. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa ruang digital kini bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi juga arena pembentukan identitas dan gaya hidup.

Platform seperti Instagram dan TikTok telah mengubah cara generasi muda memandang aktivitas konsumsi. Makanan dengan tampilan menarik, penyajian unik, dan nilai estetika tinggi lebih mudah memperoleh perhatian di media sosial. Tidak mengherankan jika banyak orang rela mengantre panjang demi mendapatkan produk yang sedang viral. Dalam konteks ini, makanan tidak hanya dibeli untuk dinikmati, tetapi juga untuk didokumentasikan dan dibagikan kepada publik.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi saat ini semakin berkaitan dengan penciptaan identitas sosial. Sosiolog Jean Baudrillard dalam The Consumer Society menjelaskan bahwa masyarakat modern sering kali tidak lagi mengonsumsi barang semata karena nilai gunanya, melainkan karena makna simbolik yang melekat pada barang tersebut.

Ketika seorang mahasiswa mengunggah foto dessert premium di sebuah kafe estetik, yang ditampilkan bukan hanya makanan. Unggahan tersebut juga menyampaikan pesan mengenai gaya hidup, lingkungan pergaulan, dan citra dini yang ingin dibangun. Dalam ruang digital, konsumsi menjadi sarana komunikasi sosial yang efektif.

Di sinilah muncul paradoks yang menarik. Di satu sisi, mahasiswa kerap mengeluhkan biaya hidup yang semakin tinggi. Namun di sisi lain, mereka tetap menyisihkan sebagian anggaran untuk mencoba kuliner yang sedang populer. Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan konsumsi tidak selalu didasarkan pada pertimbangan ekonomi yang rasional. Faktor sosial dan simbolik sering kali memiliki pengaruh yang sama besar.

Pelaku usaha kuliner memahami perubahan perilaku tersebut dengan sangat baik. Mereka menawarkan produk yang tidak hanya memiliki cita rasa tertentu, tetapi juga pengalaman visual yang mudah dibagikan di media sosial. Produk premium dikemas dalam porsi personal dengan harga yang masih dapat dijangkau mahasiswa.

Pada akhirnya, fenomena antrean panjang di gerai dessert viral tidak dapat dipahami hanya sebagai perilaku konsumtif atau hedonisme semata. Fenomena tersebut mencerminkan perubahan budaya konsumsi di kalangan generasi muda yang hidup dalam ekosistem digital. Di era ekonomi atensi, makanan telah berubah menjadi medium komunikasi sosial. Selama media sosial masih menjadi panggung utama pembentukan identitas, antrean panjang demi dessert viral tampaknya akan tetap menjadi bagian dari kehidupan kampus masa kini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image