Muharram : Bukan Sekadar Tahun Baru, tetapi Kesempatan Menjadi Manusia Baru
Khazanah | 2026-06-15 17:34:08
Ada yang membeli terompet ketika tahun baru datang. Ada yang menyalakan kembang api, menghitung mundur, lalu mengunggah harapan di media sosial.
Namun Muharram datang dengan cara yang berbeda.
Ia tidak mengetuk pintu dengan gemuruh. Ia hadir dengan sunyi, mengajak manusia bercermin: Sudah sejauh mana langkahmu? Masihkah hatimu hidup? Atau kau hanya sibuk bertahan tanpa benar-benar bertumbuh?
Muharram bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah. Ia adalah undangan untuk berhijrah.
Bukan hanya berpindah tempat, melainkan berpindah arah.
Dari lalai menuju sadar.
Dari putus asa menuju harapan.
Dari amarah menuju kebijaksanaan.
Dari sekadar hidup menuju hidup yang bermakna.
Kita sering mengira hijrah adalah kisah orang-orang hebat pada masa lalu. Padahal, setiap manusia sedang menjalani hijrahnya masing-masing.
Ada yang sedang berjuang hijrah dari kebiasaan menunda salat menuju menjaga waktu.
Ada yang sedang belajar hijrah dari lisan yang melukai menjadi ucapan yang menguatkan.
Ada yang berusaha hijrah dari dendam menuju maaf.
Ada pula yang diam-diam berjuang hijrah dari merasa tidak berharga menjadi percaya bahwa dirinya masih layak dicintai Allah.
Barangkali, hijrah terbesar bukanlah ketika semua orang melihat perubahan kita.
Tetapi ketika Allah mengetahui bahwa kita sedang bersungguh-sungguh memperbaiki diri, meski perlahan dan terseok-seok.
Muharram mengingatkan kita pada perjalanan Rasulullah saw. dan para sahabat. Mereka meninggalkan kampung halaman, kenyamanan, bahkan mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan iman dan masa depan peradaban.
Hijrah mengajarkan bahwa terkadang, untuk sampai pada versi terbaik diri kita, ada hal-hal yang memang harus ditinggalkan.
Ego yang terlalu tinggi.
Lingkungan yang merusak.
Kebiasaan yang mematikan mimpi.
Ketakutan yang membuat kita enggan melangkah.
Tidak ada hijrah tanpa keberanian.
Tidak ada perubahan tanpa pengorbanan.
Tidak ada masa depan yang lebih baik tanpa kesediaan untuk memulai.
Yang sering terlupakan, Muharram juga mengajarkan tentang harapan.
Sebab Allah tidak pernah meminta kita menjadi sempurna dalam semalam. Allah hanya meminta kita untuk terus kembali.
Satu langkah demi satu langkah.
Satu doa demi satu doa.
Satu perbaikan demi satu perbaikan.
Mungkin tahun ini kita belum menjadi anak yang sempurna bagi orang tua.
Belum menjadi pasangan yang ideal.
Belum menjadi guru yang selalu sabar.
Belum menjadi pemimpin yang bijaksana.
Belum menjadi pribadi yang kita impikan.
Tetapi selama kita masih mau belajar, memperbaiki diri, dan mengetuk pintu ampunan-Nya, maka belum ada kisah yang benar-benar terlambat.
Muharram adalah bukti bahwa Allah masih memberi kita kesempatan.
Kesempatan untuk meminta maaf.
Kesempatan untuk memperbaiki hubungan.
Kesempatan untuk memulai kebiasaan baik.
Kesempatan untuk kembali menyusun mimpi yang sempat hancur.
Kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih berguna bagi sesama.
Sebab ukuran keberhasilan hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap berjalan meski berkali-kali ingin menyerah.
Maka, ketika orang lain sibuk bertanya, "Apa resolusimu tahun ini?"
Mungkin kita bisa bertanya dengan lebih jujur kepada diri sendiri:
"Dosa apa yang ingin kutinggalkan?"
"Luka siapa yang harus kusembuhkan?"
"Kebaikan apa yang ingin kuwariskan?"
"Jika ini adalah Muharram terakhirku, sudahkah aku hidup sebagaimana yang Allah kehendaki?"
Pada akhirnya, Muharram bukan tentang membuka lembar kalender baru.
Muharram adalah tentang membuka hati yang baru.
Karena dunia tidak selalu membutuhkan lebih banyak orang pintar, lebih banyak orang terkenal, atau lebih banyak orang kaya.
Dunia membutuhkan lebih banyak manusia yang jujur, yang berani berbuat baik, yang tidak lelah menebar manfaat, dan yang menjadikan imannya sebagai cahaya bagi sekitarnya.
Mari jadikan Muharram kali ini bukan sekadar ucapan "Selamat Tahun Baru Islam" yang berlalu di linimasa.
Tetapi sebagai titik balik.
Titik ketika kita memilih untuk tidak lagi hidup dengan cara yang sama.
Titik ketika kita berjanji untuk bertumbuh.
Titik ketika kita memutuskan bahwa, seberapa pun gelap masa lalu kita, masa depan tetap bisa ditulis dengan tinta harapan.
Sebab sejatinya, tahun baru Hijriah bukan tentang bertambahnya usia.
Ia adalah pertanyaan yang diam-diam dititipkan Allah kepada setiap hamba-Nya:
"Setelah semua waktu yang telah Kuberikan, manusia seperti apakah yang telah kau pilih untuk menjadi?"
Dan semoga, jawaban terbaik atas pertanyaan itu tidak lahir dari kata-kata kita, melainkan dari perubahan yang nyata dalam kehidupan kita.
Selamat menyambut 1 Muharram 1448 H. Mari berhijrah, bukan karena ingin terlihat lebih baik di mata manusia, tetapi karena ingin pulang sebagai hamba yang lebih dicintai oleh Tuhannya.
Penulis : Ahmad Muhasan
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
