Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Aura Haya Zhafira

Narsisme di Media Sosial: Kapan Perilaku Haus Validasi Berubah Menjadi NPD?

Edukasi | 2026-06-15 12:56:07

Pernah gak sih kamu sebagai remaja merasa risi melihat teman yang sering posting pencapaiannya di media sosial? atau, kamu bahkan menganggap mereka sebagai NPD karena hal tersebut?

Hati-hati, mungkin kamu sedang terjebak dalam self-diagnosis yang kurang tepat. Di era digital ini, kata "narsis" sering disalahartikan sebagai sekadar hobi selfie atau suka tampil. Hal ini yang mungkin membuat garis antara percaya diri yang sehat dan Narcissistic Personality Disorder (NPD) sering kali menjadi kabur. Padahal, NPD bukan sekadar soal gaya pamer di Instagram, melainkan pola psikologis yang jauh lebih dalam.

Ilustrasi perempuan sedang bercermin (Sumber: Freepik)

Antara NPD dan Narsisme

Secara psikologis, perhatian terhadap diri sendiri tidak selalu berarti buruk. Dalam kadar tertentu, narsisme adalah hal yang wajar. Kita tentu merasa bangga atas pencapaian dan ingin diapresiasi, bukan? Dalam bentuk yang sehat, narsisme justru berkaitan dengan harga diri yang positif dan membantu kita berfungsi dengan baik dalam pergaulan sosial.

Namun, masalah muncul ketika perhatian terhadap diri sendiri menjadi berlebihan, kaku, dan menetap. Pada titik ini, narsisme bukan lagi sekadar sifat, melainkan dapat berkembang menjadi NPD. Menurut Yakeley (2018), NPD adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan perasaan diri yang sangat penting, kebutuhan ekstrem untuk dikagumi, minimnya empati, dan pola hubungan yang tidak seimbang.

Kenapa Remaja Rentan terhadap Gejala NPD?

Jawabannya ada pada media sosial. Platform seperti Instagram dan TikTok memberikan ruang luas untuk pencitraan diri. Bagi remaja yang sedang dalam fase mencari jati diri, media sosial menjadi tempat untuk mengukur "nilai diri" lewat jumlah likes, komentar, hingga views. Menurut M. Noprinda et. al (2025) mereka menekankan bahwa ketika validasi eksternal dijadikan tolok ukur utama, remaja menjadi sangat bergantung pada pengakuan orang lain agar merasa berharga. Jika proses ini tidak diimbangi dengan self-esteem yang stabil, perilaku narsistik akan lebih mudah muncul dan bertahan.

Ilustrasi orang-orang dengan media sosial (Sumber: Pixabay)

Kenali Tandanya, Jangan Asal Melabeli

Banyak dari kita yang sering mencampuradukkan sifat egois dengan gangguan klinis. NPD bukan hanya sekadar "suka tampil". Secara klinis, pola ini mencakup:

  1. Merasa dirinya jauh lebih istimewa dibanding orang lain.
  2. Sangat butuh pujian dan validasi terus-menerus.
  3. Cenderung meremehkan orang lain untuk mempertahankan citra diri.
  4. Sulit menerima kritik sekecil apa pun.
  5. Kurang mampu memahami atau peduli pada perasaan orang lain.
  6. Mudah iri pada pencapaian orang lain atau merasa orang lain iri kepadanya.
  7. Sangat sensitif ketika harga diri atau citranya terganggu.

Perbedaan yang paling krusial terletak pada dampaknya. Orang yang narsis secara sehat masih bisa menerima masukan dan membangun hubungan timbal balik. Sebaliknya, pada penderita NPD, pola pikir mereka kaku dan sering kali merusak kualitas hubungan sosial.

Dampak NPD Pada Remaja

NPD pada remaja bukan sekadar masalah perilaku "sombong" atau "sulit diatur". Dalam jangka panjang, gangguan ini dapat mengganggu perkembangan identitas diri yang sehat dan merusak hubungan dengan teman sebaya maupun keluarga.

Beberapa dampak nyata yang muncul meliputi:

  1. Hubungan yang Dangkal dan Transaksional: Remaja dengan kecenderungan ini sering kali memandang orang lain bukan sebagai pribadi, melainkan hanya sebagai alat untuk mendapatkan validasi atau pujian.
  2. Ketidakstabilan Emosi: Saat menghadapi kritik atau kegagalan yang tidak sesuai dengan citra idealnya, mereka cenderung menjadi sangat defensif, mudah marah, atau justru jatuh pada perasaan tidak berharga yang mendalam.
  3. Sulit Membangun Kedekatan: Karena interaksinya sering didasari oleh kepentingan pribadi, sulit bagi mereka untuk membangun hubungan yang tulus dan intim dengan orang lain.
  4. Kesejahteraan Emosional yang Rapuh: Meski di luar tampak percaya diri, kondisi batin mereka sangat rentan. Ketergantungan terhadap validasi orang lain membuat kesejahteraan emosional mereka mudah goyah karena tidak mendapat respons yang diharapkan di media sosial.

Berhenti Melabeli NPD, Mulailah Memahami Mereka

Penyebab dari NPD sendiri sangatlah kompleks, mulai dari harga diri yang rapuh, pola asuh, hingga pengalaman masa kecil. Fakta bahwa terdapat banyaknya penyebab yang dapat memunculkan gangguan ini, ada baiknya jika kita tidak asal melabeli mereka. Akan lebih baik jika kita mencari tahu lebih dulu alasan seseorang berbuat seperti itu. Agar kita dapat memahami tindakan mereka. Maka, menggunakan istilah NPD untuk melabeli "orang menyebalkan" justru memperkuat stigma dan meremehkan isu kesehatan mental.

Diagnosis gangguan kepribadian tidak bisa disimpulkan hanya lewat kesan personal atau perilaku di media sosial. Penilaian dari para ahli dibutuhkan sebelum mendiagnosisnya. Jadi, sebelum terburu-buru melabeli seseorang sebagai 'narsis' atau NPD, ada baiknya kita merenung sejenak. Sudahkah kita benar-benar memahami perbedaan antara kepercayaan diri yang sehat dan narsisme yang merusak?"

-----------------------------------------------------------------------------------

Penulis: Aura Haya Zhafira dan Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog.

Referensi

Noprinda, M., Trananda, A. Z., Puriani, R. A., & Putri, R. M. (2025). Narcissistic personality disorder ditinjau dalam konteks remaja. Jurnal Pendidikan Transformatif, 4(3), 133–142. https://doi.org/10.9000/jpt.v4i3.2164

Yakeley, J. (2018). Current understanding of narcissism and narcissistic personality disorder. BJPsych Advances, 24(4), 203–215. https://doi.org/10.1192/bja.2018.20

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image