Pemimpin Memberikan Rasa Aman
Agama | 2026-08-02 08:49:54
Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Founder Insani Leadership)
Jika Anda telah membaca Sirah Nabawiyah dengan tuntas, tentu akan mendapati peristiwa besar fathul Mekah yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-8 hijriah. Peristiwa ini terjadi dilatar belakangi karena pengkhianatan kaum kafir Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyah. Kaum kafir Quraisy memberikan bantuan militer kepada Bani Bakr (sekutu Quraisy) untuk menyerang Bani Khuza’ah (sekutu umat Islam) yang menimbulkan korban jiwa dari Bani Khuza’ah.
Singkatnya, Rasulullah dan pasukan Muslimin berhasil membebaskan dan memasuki kota Mekah dengan damai tanpa pertumpahan darah. Saat memasuki kota Mekah itulah, Rasulullah berseru kepada penduduk Mekah, “Sesiapa yang masuk Masjid al-Haram, maka dia aman. Sesiapa yang masuk ke rumahnya, maka dia aman. Sesiapa yang masuk ke rumah Abu Sofyan, maka dia aman.”
Pernahkah kita berpikir dan merenung mengapa yang pertama kali disampaikan Rasulullah kepada penduduk Mekah adalah memberikan jaminan rasa aman? Dari berbagai buku Sirah Nabawiyah yang pernah saya baca, hampir seluruhnya membahas tentang strategi dakwah Rasulullah yang memberikan jaminan keamanan bagi yang masuk rumah Abu Sofyan.
Mengingat Abu Sofyan adalah pemimpin suku Quraisy yang tersisa ketika itu dan baru saja masuk Islam menjelang fathul Mekah. Rasulullah juga mengenal watak Abu Sofyan yang ingin dipentingkan di tengah kaumnya. Maka itu, Rasulullah memberikan jaminan keamanan bagi yang masuk rumah Abu Sofyan sebagai strategi dakwah untuk mengambil hati Abu Sofyan agar teguh dalam keputusan keislamannya. Dari sini diharapkan penduduk Mekah berbondong-bondong masuk Islam mengikuti pemimpinnya.
Analisis di atas benar. Namun, menurut pemikiran saya, ada yang terlewat yang barangkali belum dibahas para penulis Sirah Nabawiyah (setidaknya saya belum membacanya). Yaitu, kecerdasan Rasulullah sebagai seorang pemimpin dengan memberikan jaminan keamanan sebagai seruan pertama yang disampaikan kepada penduduk Mekah.
Mengapa? Anda tahu rasa aman termasuk kebutuhan dasar manusia. Terlebih saat itu konteksnya adalah peperangan. Pengkhianatan kaum kafir Quraisy terhadap isi perjanjian Hudaibiyah menjadi alasan yang laik untuk menghukum mereka. Maka itu, wajar jika kaum kafir Quraisy membayangkan Rasulullah dan kaum muslimin akan menghukum mereka. Terlebih jika dikaitkan juga dengan bagaimana buruknya perlakuan mereka terhadap kaum Muslimin ketika periode dakwah Mekah. Rasulullah sebagai seorang pemimpin bisa membaca pikiran dan perasaan penduduk Mekah. Karena itu, Rasulullah memberikan jaminan keamanan.
Inilah prinsip kepemimpinan yang diajarkan dan diteladankan Rasulullah. Kita tidak perlu membahas bagaimana Rasulullah memberikan rasa aman dalam kehidupan para sahabat di Madinah. Itu sudah pasti. Bayangkan terhadap musuh yang selama ini mengintimidasi secara fisik, memboikot hingga kelaparan, mengusir, memerangi, dan kemudian mengkhianati perjanjian, Rasulullah memberikan jaminan rasa aman. Dengan keputusan Rasulullah tersebut, situasi Mekah tetap kondusif. Penduduk Mekah pun kemudian berbondong-bondong masuk Islam.
Supaya kita dapat merasakan feel-nya, mari kita masuk dalam dunia militer. Dalam militer, infantri adalah satuan yang bertugas melakukan serangan darat dalam sebuah operasi militer. Mereka sangat terlatih dalam melakukan tugasnya untuk menyerang musuh. Namun demikian, tahukah Anda ada satu variabel yang membuat pasukan infantri merasa percaya diri melakukan tugasnya menyisir pertahanan musuh.
Variabel itu adalah dukungan perlindungan dari pesawat tempur di atas mereka. Pesawat tempur biasa membersamai pasukan infantri dari atas berjaga-jaga jika ada serangan mendadak dari musuh. Melihat dari ketinggian memungkinkan bisa mengenali pergerakan musuh lebih awal. Perlindungan dari pesawat tempur ini memberikan rasa aman bagi pasukan infantri.
Namun demikian, akan ada situasi yang menyebabkan pesawat tempur tidak bisa memberikan pengawalan dengan baik, yaitu ketika jalur udara terpenuhi awan-awan tebal menggantung. Pilihannya turun dari ketinggian dan berada di bawah awan. Ini sangat berisiko karena ada aturan minimal ketinggian bagi pesawat tempur untuk bisa melakukan manuver serangan.
Di sinilah kepemimpinan akan diuji. Ketika itu, dalam sebuah operasi militer di daerah pegunungan, seorang kapten yang tengah mengemudikan pesawat tempur merasakan pasukannya di darat dalam bahaya. Ia memilih mengambil risiko turun dari ketinggian minimal demi tetap melakukan pengawalan terhadap pasukannya. Ia mempertaruhkan nyawanya. Jika lengah sedikit dan salah kalkulasi dalam bermanuver, akibatnya fatal pesawat bisa menabrak tebing tinggi pegunungan.
Benar saja pasukannya disergap oleh musuh dan terjadi baku tembak. Sang kapten bermanuver berulang kali sambil memberondong tembakan mesin ke arah musuh sembari berhitung cermat agar bisa tetap mengendalikan kemudi pesawatnya. Ia benar-benar mengambil risiko kematian dirinya demi melindungi pasukannya. Pada akhirnya, musuh berhasil dilumpuhkan. Semua pasukannya selamat.
Ketika ditanya mengapa memilih risiko berbahaya yang mengancam nyawanya? Dia menjawab, “Ada risiko yang lebih besar daripada sekadar kematian saya, yaitu saya berhasil pulang ke kesatuan dengan selamat, namun mendapati pasukan saya gugur semuanya.”
Itulah pemimpin sejati. Dalam situasi darurat sekalipun, dia tetap berusaha memberikan rasa aman bagi timnya. Dalam konteks perusahaan atau organisasi mungkin tidak seekstrim itu. Pilihannya bukan antara hidup dan mati. Mungkin situasinya bisa berupa ketika seorang pemimpin dihadapkan pada kebijakan pemilik atau pemegang saham perusahaan yang merugikan timnya.
Beranikah Anda membela tim Anda untuk memberikan rasa aman kepada mereka dari ancaman PHK, misalnya? Ataukah Anda memilih bermain aman? Peduli amat dengan tim. Biarkan mereka mengurus dirinya masing-masing. Jika memilih pilihan bermain aman, Anda telah gagal menjadi pemimpin. Bahkan, Anda tidak laik disebut pernah menjadi pemimpin sekalipun.
Pemimpin sejati akan tetap berada di depan timnya ketika situasi buruk sekalipun. Meski mungkin taruhannya dia harus kehilangan jabatannya, atau bahkan pekerjaannya. Percayalah pemimpin sejati itu akan terus dikenang. Mungkin Anda sudah tidak bertemu dengan tim selama belasan tahun. Kemudian, ada satu peristiwa atau acara yang membuat Anda kembali bertemu dengan tim Anda, saksamailah mereka akan menyambut Anda dengan antusias. Mereka merasa bahagia karena bisa bertemu kembali dengan Anda.
Di antara mereka mungkin akan bertanya, “Bapak masih ingat dengan saya?” Ketika Anda menyebutkan namanya pertanda Anda masih mengingat satu per satu, mereka semakin berbahagia. Mereka semakin menghormati Anda meski tidak lagi menjadi pemimpin mereka secara formal. Dan, ini tidak bisa direkayasa.
Sebuah organisasi yang kuat adalah ketika pemimpinnya memberikan rasa aman kepada timnya. Dan, antar anggota tim saling memberikan dukungan di antara mereka. Jika mereka ditanya, mengapa Anda mendukung rekan Anda? Mereka akan menjawab, karena kami yakin mereka juga mendukung saya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
