Merajut Kebersamaan di Tengah Keberagaman RW 11 Pegirian Surabaya
Info Terkini | 2026-06-15 12:52:08SURABAYA – Di tengah padatnya aktivitas masyarakat perkotaan, menjaga kedekatan antarwarga bukanlah perkara mudah. Kondisi tersebut sempat dirasakan oleh warga RW 11 Kelurahan Pegirian, Surabaya. Wilayah yang didominasi oleh masyarakat pendatang ini menghadapi tantangan berupa menurunnya interaksi sosial, berkurangnya kepedulian terhadap lingkungan, serta belum optimalnya partisipasi warga dalam menjaga keamanan bersama. Selain itu, perbedaan tingkat pendidikan dan pemahaman terhadap informasi juga kerap memicu miskomunikasi di tengah masyarakat.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim pemberdayaan mahasiswa KKN melaksanakan program revitalisasi kemasyarakatan yang berfokus pada penguatan keamanan lingkungan melalui Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) serta pembentukan Karang Taruna sebagai wadah pemberdayaan pemuda dan penguatan literasi informasi warga.
Siskamling yang sempat tidak berjalan secara optimal kembali diaktifkan sebagai upaya bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Namun, keberadaan pos kamling tidak hanya dimaknai sebagai tempat berjaga pada malam hari. Lebih dari itu, pos kamling diharapkan menjadi ruang interaksi sosial yang mampu mempererat hubungan antarwarga dan menumbuhkan kembali semangat kebersamaan yang mulai memudar.
Bersama Ketua RT 10, Bapak Abdul Sali, Ketua RT 11, Bapak Mashudi, serta masyarakat setempat, tim pemberdayaan menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) ronda malam agar pelaksanaannya lebih tertib dan terarah. Kegiatan ronda kembali dilaksanakan pada jam-jam rawan, yakni pukul 23.00 hingga 04.00 WIB. Setiap regu memiliki tugas yang jelas, mulai dari melakukan patroli secara berkala, menyambut tamu dengan ramah dan sopan, hingga mencatat seluruh aktivitas dalam buku mutasi sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan. Petugas ronda juga dianjurkan menjaga kerapian penampilan saat bertugas guna meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keamanan lingkungan yang dijalankan.
Program tersebut mendapat dukungan dari Pendamping Kampung Pancasila RW 11, Ibu Cory, yang menilai bahwa pengaktifan kembali Siskamling merupakan langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, tenteram, dan nyaman. Dengan penyesuaian jadwal terhadap kesibukan warga, kegiatan ronda diharapkan dapat berlangsung secara rutin dan berkelanjutan.
Tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tim pemberdayaan juga menaruh perhatian terhadap pola penyebaran informasi di masyarakat. Perbedaan kemampuan dalam memahami informasi sering kali menyebabkan pesan dari pemerintah tidak tersampaikan secara utuh. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman bahkan membuka peluang munculnya informasi yang tidak benar di tengah masyarakat.
Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, para pemuda RT 11 diajak untuk mengambil peran melalui pembentukan Karang Taruna. Organisasi ini diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Para pemuda didorong untuk berpartisipasi aktif dalam menyaring, menyederhanakan, dan menyampaikan berbagai informasi kepada warga dengan bahasa yang lebih mudah dipahami sehingga dapat meminimalkan salah tafsir maupun penyebaran hoaks.
Semangat para pemuda dalam mengikuti proses pembentukan Karang Taruna menjadi salah satu hal yang menggembirakan selama pelaksanaan program. Antusiasme yang tinggi menunjukkan adanya kesadaran generasi muda untuk turut berkontribusi dalam pembangunan lingkungan sosial yang lebih baik.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keterbukaan informasi, Karang Taruna turut mengelola berbagai sarana komunikasi warga. Majalah dinding (mading) yang ditempatkan di area fasilitas umum dimanfaatkan sebagai pusat informasi masyarakat. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi melalui WhatsApp Channel dan grup WhatsApp warga menjadi alternatif penyebaran pengumuman resmi sekaligus ruang diskusi yang dapat diakses dengan lebih cepat dan mudah.
Kolaborasi antara warga, pemuda, pengurus RT, Pendamping Kampung Pancasila, dan tim pemberdayaan menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Menghidupkan kembali ronda malam serta membangun ruang komunikasi yang sehat bukan hanya tentang menjalankan program kerja, tetapi juga tentang menumbuhkan kembali rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggal.
Perlahan namun pasti, RW 11 Pegirian terus bergerak membangun ekosistem sosial yang lebih kuat. Penguatan keamanan lingkungan berjalan beriringan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya informasi yang benar. Melalui sinergi tersebut, semangat guyub dan gotong royong kembali dirajut di tengah keberagaman. Harapannya, upaya yang telah dibangun bersama ini dapat terus berlanjut sehingga RW 11 Pegirian tumbuh menjadi lingkungan yang aman, rukun, inklusif, dan semakin melek informasi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
