FOMO atau Kebutuhan? Dilema Konsumtif Generasi Z di Era Digital
Humaniora | 2026-06-13 19:12:30Juru bicara Otoritas Jasa Keuangan, Sekar Putih Djarot, menjelaskan bahwa paylater merupakan layanan transaksi dengan sistem penundaan pembayaran atau utang yang wajib dilunasi di masa mendatang. Penggunaan paylater di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hidayat (2022) menyebutkan bahwa jumlah pengguna fitur paylater pada tahun 2021 meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, berbagai promo seperti diskon, cashback, dan cicilan ringan membuat layanan ini semakin diminati, terutama oleh Generasi Z dan mahasiswa.
Kepopuleran belanja online ini rupanya didorong oleh masyarakat dari dua kalangan, yakni Milenial dan Generasi Z. Temuan ini didapat dari hasil survei Populix yang melibatkan 6285 responden dari berbagai kalangan usia di Indonesia. Menurut hasil riset Populix, intensitas belanja online berdasarkan kelompok usia tertinggi diisi oleh kalangan usia 18-21 tahun dengan 35% dan 22-28 tahun yang mendapat 33% suara. Kelompok usia 29-38 tahun berada di posisi ke tiga dengan perolehan 18%.
Generasi Z merupakan generasi yang lahir sekitar tahun 1995–2010 dan dikenal sangat dekat dengan perkembangan teknologi serta media sosial. Kemudahan akses teknologi membuat generasi ini aktif menggunakan e-commerce, dompet digital, hingga layanan Buy Now Pay Later (BNPL) dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran media sosial, aplikasi belanja online, dan transaksi digital membuat pola konsumsi generasi muda mengalami perubahan yang cukup signifikan seperti grafik di atas. Banyak mahasiswa membeli barang bukan berdasarkan kebutuhan utama, melainkan demi mengikuti tren, memenuhi gaya hidup, atau memperoleh pengakuan sosial dari lingkungan sekitar.
Fenomena tersebut berkaitan erat dengan munculnya budaya Fear of Missing Out (FOMO). FOMO merupakan kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal tren, aktivitas, atau pencapaian orang lain. Media sosial seperti Instagram dan TikTok menjadi lingkungan yang sangat mendukung berkembangnya budaya FOMO karena pengguna terus-menerus melihat berbagai konten mengenai gaya hidup, fashion, hiburan, hingga pencapaian orang lain. Akibatnya, banyak individu terdorong melakukan pembelian impulsif demi mengikuti tren dan menjaga citra diri di lingkungan sosial.
Penulis setuju lingkungan pertemanan dan media sosial juga menjadi faktor yang memperkuat munculnya gaya hidup hedonis di kalangan mahasiswa. Sepengalaman saya, banyak mahasiswa menghabiskan uang untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan hanya demi memenuhi keinginan sesaat. Kebiasaan tersebut semakin diperparah dengan kemudahan transaksi digital seperti e-wallet, e-commerce, dan paylater yang membuat proses pembelian menjadi lebih cepat dan praktis.
Riset Populix menunjukkan bahwa responden pria lebih sering membeli produk elektronik dengan persentase 20% sehingga lebih membutuhkan diskon karena harga elektronik tergolong tinggi. Sementara itu, sebanyak 49% responden wanita lebih banyak membeli pakaian dan kosmetik sehingga promo ongkos kirim menjadi daya tarik utama karena harga kedua produk tersebut lebih bervariasi. Selain itu, mayoritas responden, yaitu 65%, menghabiskan dana belanja online sebesar Rp50.000 hingga Rp500.000 per bulan, meskipun terdapat 6% responden yang mengaku mengeluarkan lebih dari Rp500.000 per bulan untuk belanja online.
Perilaku konsumtif sendiri merupakan perilaku menggunakan uang secara berlebihan tanpa mempertimbangkan manfaat dan kebutuhan utama. Akibat perilaku konsumtif tersebut, banyak mahasiswa mengalami kesulitan mengatur pengeluaran, kehabisan uang bulanan, hingga terjebak dalam kebiasaan berutang melalui layanan paylater. Perilaku konsumtif yang tidak dikendalikan dapat memberikan dampak negatif terhadap kondisi finansial dan kesehatan mental seseorang.
Kesulitan finansial akibat penggunaan paylater secara berlebihan dapat memicu stres, kecemasan, gangguan tidur, hingga tekanan psikologis. Beberapa individu bahkan terjebak dalam kebiasaan “gali lubang tutup lubang”, yaitu meminjam uang kembali untuk membayar utang sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan layanan keuangan digital tanpa pengelolaan yang baik dapat memberikan dampak buruk terhadap kualitas hidup masyarakat.
Pengaruh FOMO terhadap perilaku konsumtif penggunaan paylater terlihat dari kecenderungan generasi muda membeli barang bukan berdasarkan kebutuhan utama, melainkan demi memenuhi keinginan, menjaga citra diri, serta menghindari rasa takut tertinggal tren. Kondisi tersebut menyebabkan penggunaan paylater sering dimanfaatkan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial. Akibatnya, muncul berbagai dampak negatif seperti meningkatnya pengeluaran, kesulitan mengatur keuangan, stres finansial, kecemasan, hingga gangguan kesehatan mental akibat tekanan sosial dan tuntutan gaya hidup digital. Selain berdampak pada kondisi ekonomi, perilaku konsumtif yang dipicu oleh FOMO juga dapat menurunkan rasa percaya diri dan menciptakan ketidakpuasan terhadap diri sendiri karena terus melakukan perbandingan sosial dengan orang lain.
Penggunaan paylater yang tidak disertai kontrol diri dan literasi keuangan dapat mendorong munculnya perilaku konsumtif, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa. Pengaruh media sosial, budaya FOMO, serta gaya hidup hedonis membuat banyak generasi muda membeli barang demi mengikuti tren dan memperoleh pengakuan sosial, bukan berdasarkan kebutuhan utama. Kondisi tersebut menyebabkan penggunaan paylater sering dilakukan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial sehingga berisiko menimbulkan masalah keuangan dan kesehatan mental.
Menurut penulis para generasi Z perlu ikut serta dalam kegiatan seperti Seminar Literasi Keuangan, Pelatihan Menabung dan Dana Darurat dan Workshop Pengelolaan Uang. Karena dengan pengelolaan diri dan literasi keuangan yang baik, layanan paylater dapat menjadi solusi keuangan modern yang membantu generasi muda memenuhi kebutuhan secara lebih fleksibel dan praktis. Penggunaan media sosial secara bijak juga dapat membantu masyarakat mengambil keputusan konsumsi yang lebih rasional tanpa mudah terpengaruh tren sesaat. Selain itu, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun anggaran pengeluaran, serta memanfaatkan layanan keuangan digital sesuai kemampuan finansial dapat membentuk pola konsumsi yang lebih sehat dan bertanggung jawab. Dengan pengendalian diri serta pemahaman finansial yang baik, perkembangan teknologi dan layanan paylater dapat dimanfaatkan secara positif untuk mendukung aktivitas sehari-hari, meningkatkan kemudahan transaksi, dan mendorong gaya hidup digital yang lebih cerdas di kalangan generasi muda.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
