Serangga Kecil yang Bisa Mengganggu Pasokan Makanan Kita
Eduaksi | 2026-06-11 23:30:52Oleh : Novri Nelly
Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Andalas
Menurut FAO, hama dan penyakit tanaman bertanggung jawab atas hilangnya 20 hingga 40 persen hasil panen dunia setiap tahun. Bukan karena banjir. Bukan karena kekeringan. Tapi karena makhluk-makhluk kecil yang bahkan tidak selalu bisa kita lihat dengan mata telanjang.
Di Indonesia, angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah alasan mengapa harga cabai tiba-tiba melonjak di pasar. Mengapa stok beras di gudang terkadang lebih tipis dari yang direncanakan. Mengapa petani bawang merah bisa kehilangan seluruh hasil panennya dalam hitungan minggu.
Hama tanaman bukan sekadar masalah petani. Ia adalah masalah siapa saja yang makan.
Dari ladang ke meja makan — rantai yang rapuh
Yang jarang disadari adalah betapa langsung hubungan antara serangan hama di lapangan dengan harga yang kita bayar di pasar. Mekanismenya sederhana: hama menyerang, produksi turun, pasokan berkurang, harga naik. Rantai itu bisa bergerak dalam hitungan minggu.
Thrips serangga sepanjang kurang dari satu milimeter adalah contoh nyata. Serangan berat thrips di sentra produksi bawang merah dan cabai bisa menghancurkan 30 hingga 80 persen hasil panen. Ketika itu terjadi di sentra produksi utama, dampaknya tidak berhenti di ladang. Ia mengalir ke pasar, ke pedagang, dan akhirnya ke harga yang kita bayar setiap hari.
Empat hama kecil dengan dampak besar
Dari ratusan spesies hama yang menyerang tanaman pangan di Indonesia, ada empat yang dampaknya paling langsung terasa pada ketahanan pangan nasional.
Wereng coklat adalah momok utama petani padi. Serangga penghisap cairan floem ini mampu membunuh tanaman padi dalam tempo singkat melalui mekanisme yang disebut hopperburn — tanaman menguning, mengering, dan mati sebelum sempat berbuah. Pada tahun-tahun wabah besar, kerugian yang ditimbulkan wereng coklat bisa mencapai triliunan rupiah per musim tanam, menjadikannya salah satu ancaman terbesar bagi ketahanan beras nasional.
Thrips menyerang dari arah yang berbeda. Ukurannya hampir tidak terlihat mata telanjang, tapi kerusakannya sangat khas: daun keriting, pertumbuhan terhambat, dan pada serangan berat bisa menghancurkan 30 hingga 80 persen hasil panen bawang merah dan cabai. Yang memperparah adalah kemampuannya berkembang biak dengan sangat cepat dan kecenderungannya membentuk resistensi terhadap insektisida jika pengendalian tidak dilakukan dengan bijak.
Kutu daun bekerja dengan cara ganda yang lebih berbahaya dari sekadar menghisap nutrisi tanaman. Ia juga bertindak sebagai vektor — perantara virus tanaman seperti Cucumber Mosaic Virus dan Potato Virus Y yang sekali menginfeksi, tidak ada obatnya. Tanaman yang sudah terserang virus akibat gigitan kutu daun tidak bisa diselamatkan, hanya bisa dicabut dan dimusnahkan agar tidak menular ke tanaman lain.
Penggerek batang jagung bekerja dari dalam. Larvanya menggerek masuk ke batang jagung dan memakan jaringan dari dalam — tidak terlihat dari luar sampai tanaman sudah terlanjur rusak parah. Tanpa pengendalian yang tepat, kehilangan hasil bisa mencapai 20 hingga 80 persen tergantung tingkat serangan dan fase pertumbuhan tanaman saat terinfeksi.
Yang membuat mereka sulit dikendalikan
Keempat hama ini punya satu kesamaan yang mempersulit pengendalian: laju perkembangbiakan yang luar biasa cepat. Seekor kutu daun bisa menghasilkan puluhan keturunan dalam satu minggu. Thrips bisa menyelesaikan satu siklus hidup dalam 12 hingga 14 hari. Artinya, keterlambatan pengendalian beberapa hari saja sudah berarti populasi yang jauh lebih besar dan kerusakan yang jauh lebih luas.
Di sinilah letak paradoks yang sering dihadapi petani: semakin sering mereka menyemprot pestisida untuk mengejar populasi yang terus berkembang, semakin besar peluang hama membentuk resistensi. Dan semakin resisten hama, semakin besar dosis yang dibutuhkan — siklus yang tidak pernah berakhir dengan baik bagi petani maupun lingkungan.
Ketahanan pangan dimulai di ladang
Harga pangan yang stabil tidak datang dari kebijakan impor semata. Ia dimulai dari kesehatan tanaman di ladang — dari kemampuan petani mengenali hama lebih awal, mengendalikannya dengan cara yang tepat, dan menjaga ekosistem yang justru bisa membantu mereka tanpa biaya tambahan.
Serangga kecil yang tidak terlihat dari jendela supermarket itu memegang peran yang jauh lebih besar dari yang pernah kita bayangkan dalam menentukan apa yang tersedia dan berapa harganya di meja makan kita.
Fakta menarik: FAO mencatat bahwa kerugian ekonomi akibat penyakit tanaman melampaui 220 miliar dolar setiap tahun, sementara serangga invasif menyebabkan kerugian setidaknya 70 miliar dolar. Jika kehilangan ini bisa dikurangi separuhnya saja, produksi pangan yang tersisa cukup untuk memberi makan lebih dari satu miliar orang tambahan tanpa perlu membuka lahan baru.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
